Archive | 2009/03/22

Tsaqafah Islam

ADAB MEMBACA AL-QUR’AN

Al Qur’anul Karim adalah firman Alloh Subhanahu wa Ta’ala yang tidak mengandung kebatilan sedikitpun. Al Qur’an memberi petunjuk jalan yang lurus dan memberi bimbingan kepada umat manusia di dalam menempuh perjalanan hidupnya, agar selamat di dunia dan di akhirat, dan dimasukkan dalam golongan orang-orang yang mendapatkan rahmat dari Alloh Subhanahu wa Ta’ala. Untuk itulah tiada ilmu yang lebih utama dipelajari oleh seorang muslim melebihi keutamaan mempelajari Al-Qur’an. Sebagaimana sabda Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Sebaik-baik kamu adalah orang yg mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR: Bukhari)
Ketika membaca Al-Qur’an, maka seorang muslim perlu memperhatikan adab-adab berikut ini untuk mendapatkan kesempurnaan pahala dalam membaca Al-Qur’an:
Membaca dalam keadaan suci, dengan duduk yang sopan dan tenang.
Dalam membaca Al-Qur’an seseorang dianjurkan dalam keadaan suci. Namun, diperbolehkan apabila dia membaca dalam keadaan terkena najis. Imam Haromain berkata, “Orang yang membaca Al-Qur’an dalam keadaan najis, dia tidak dikatakan mengerjakan hal yang makruh, akan tetapi dia meninggalkan sesuatu yang utama.” (At-Tibyan, hal. 58-59)
Membacanya dengan pelan (tartil) dan tidak cepat, agar dapat menghayati ayat yang dibaca.
Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:“Siapa saja yang membaca Al-Qur’an (khatam) kurang dari tiga hari, berarti dia tidak memahami.” (HR: Ahmad dan para penyusun kitab-kitab Sunan)
Sebagian sahabat membenci pengkhataman Al-Qur’an sehari semalam, dengan dasar hadits di atas. Rosululloh telah memerintahkan Abdullah Ibnu Umar untuk mengkhatam kan Al-Qur’an setiap satu minggu (7 hari) (HR: Bukhori, Muslim). Sebagaimana yang dilakukan Abdullah bin Mas’ud, Utsman bin Affan, Zaid bin Tsabit, mereka mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam seminggu.
Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’, dengan menangis, karena sentuhan pengaruh ayat yang dibaca bisa menyentuh jiwa dan perasaan.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan sebagian dari sifat-sifat hamba-Nya yang shalih, “Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’.” (QS: Al-Isra’: 109). Namun demikian tidaklah disyariatkan bagi seseorang untuk pura-pura menangis dengan tangisan yang dibuat-buat.
Membaguskan suara ketika membacanya.
Sebagaimana sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang artinya: “Hiasilah Al-Qur’an dengan suaramu.” (HR: Ahmad, Ibnu Majah dan Al-Hakim). Di dalam hadits lain dijelaskan, yang artinya: “Tidak termasuk umatku orang yang tidak melagukan Al-Qur’an.” (HR: Bukhari dan Muslim). Maksud hadits ini adalah membaca Al-Qur’an dengan susunan bacaan yang jelas dan terang makhroj hurufnya, panjang pendeknya bacaan, tidak sampai keluar dari ketentuan kaidah tajwid. Dan seseorang tidak perlu melenggok-lenggokkan suara di luar kemampuannya.
Membaca Al-Qur’an dimulai dengan isti’adzah.
Alloh Subhanahu wa Ta’ala berfirman, yang artinya, “Dan bila kamu akan membaca Al-Qur’an, maka mintalah perlindungan kepada Alloh dari (godaan-godaan) syaithan yang terkutuk.” (QS: An-Nahl: 98)
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang yang sedang shalat, dan tidak perlu membacanya dengan suara yang terlalu keras atau di tempat yang banyak orang. Bacalah dengan suara yang lirih secara khusyu’.
Rosululloh shollallohu ‘alaihiwasallam bersabda, yang artinya: “Ingatlah bahwasanya setiap dari kalian bermunajat kepada Rabbnya, maka janganlah salah satu dari kamu mengganggu yang lain, dan salah satu dari kamu tidak boleh bersuara lebih keras daripada yang lain pada saat membaca (Al-Qur’an).” (HR: Abu Dawud, Nasa’i, Baihaqi dan Hakim). Wallohu a’lam.

PELUANG USAHA

Apakah anda seorang Mahasiswa? atau seorang karyawan? Atau juga seorang ibu rumah tangga dan bagi anda yang belum mendapatkan pekerjaan?
Dan apakah anda semua ingin mendapatkan sebuah penghasilan yang dapat mewujudkan impian anda?saya tawarkan kepada anda satu bisnis yang luar biasa….klik aja http://www.AsiaFlexter.com?id=ritsta

Sistem Bonus Bisnis Flexter

Untuk bergabung ke dalam program / bisnis flexter, kita harus membeli kartu aktifasi member FLEXTER seharga Rp. 175.000,- . Pembelian ini cukup 1 x seumur hidup. Setelah anda mengaktifkan kartu ini di http://www.flexterkita.com ,maka anda dan HP anda sudah otomatis teregister di sistem FLEXTER dan sudah berhak atas semua fasilitas sebagai member FLEXTER.
Jika anda mengajak rekan anda untuk menjadi member FLEXTER juga, maka anda akan mendapatkan 2 macam komisi, yaitu :
Komisi Recruitment
Komisi yang anda dapatkan dari pertambahan jumlah member di bawah anda (hasil dari referensi anda dan rekan-rekan tim bisnis anda)
Komisi Repeat Order
Komisi yang anda dapatkan dari pembelian pulsa, SMS Murah, langganan internet, dan perpanjangan kartu diskon member-member anda
Komisi Recruitment
Bonus Sponsor
Ketika anda mengajak 1 orang member baru, maka anda akan mendapatkan bonus sponsor sebesar Rp. 50.000,- / member .
Jumlah bonus sponsor tidak dibatasi.
Bonus Pasangan
Jaringan member anda dibagi dua, kanan dan kiri, setiap kali terjadi pertumbuhan 1 di kanan dan 1 di kiri ( 1 pasang ), maka anda mendapatkan bonus pasangan Rp. 27.500,- / pasang.
Maksimal per hari per member mendapatkan 12 pasang / Rp. 27.500 x 12 = Rp. 330.000 / hari, jika terjadi pasangan lebih dari 12 pasang maka akan flush out / tidak terhitung. Sistem ini bertujuan supaya perusahaan tidak merugi.
Bonus Duplikasi
undefined
Bonus ini merupakan royalty dari setiap bonus pasangan member yang anda ajak langsung, seperti pada gambar diatas, jika anda mengajak langsung A dan B, maka A dan B disebut Generasi 1 (G1), setiap kali A dan B mendapatkan bonus pasangan, maka anda mendapatkan Rp. 1000,- / pasang, bonus ini berlaku sampai generasi ke-6 (G6), sehingga jika melihat contoh gambar diatas, A dan B mendapatkan masing-masing 1 pasang, karena punya 2 member, 1 di kiri, dan 1 di kanan, maka anda akan mendapatkan bonus duplikasi dari A : 1 x Rp. 1000,- dan dari B : 1 x Rp. 1000,- . Berikut Ilustrasi jika anda memiliki 4 orang G1 dan terduplikasi sampai ke generasi 6, lalu masing-masing mendapatkan 1 pasang:
Untuk menjaga stabilitas sistem dan supaya perusahaan tidak merugi / over paid (kelebihan membayar), maka FLEXTER menerapkan sistem :
Flush Out
Pembatasan jumlah pasangan harian / member, maksimal 12 pasang / hari
Sharing Profit Loss
Index koreksi bonus berdasarkan jumlah uang yang masuk, sehingga sistem ini akan stabil karena perusahaan tidak mungkin membayar bonus melebihi budget bonus yang dihasilkan dari uang yang masuk. Jika uang yang masuk lebih besar, maka akan di share kan juga dalam bentuk sharing profit.
Komisi Repeat Order
Komisi ini adalah komisi yang anda dapatkan dari belanja produk dari member-member di bawah anda, dari generasi 1 (G1) sampai generasi 10 (G10).
Komisi repeat order ini terdiri dari komisi :
Repeat Order Pulsa
Repeat Order SMS Murah
Repeat Order Internet FLAT
Repeat Order Kartu Diskon
Komisi Repeat Order Pulsa
Komisi Royalty Transaksi
Anda akan mendapatkan royalty setiap member anda di G1 sampai dengan G10 melakukan transaksi pengisian pulsa (nominal bebas), besar atau kecil dihitung sama.
Setiap transaksi anda sendiri (G0) anda mendapatkan komisi Rp. 5,- / transaksi
Setiap transaksi G1 – G5 anda mendapatkan komisi Rp. 5,- / transaksi
Setiap transaksi G6 – G7 anda mendapatkan komisi Rp. 10,- / transaksi
Setiap transaksi G8 – G9 anda mendapatkan komisi Rp. 15,- / transaksi
Setiap transaksi G10 anda mendapatkan komisi Rp. 25,- / transaksi

Komisi Cash Back
Untuk bisa bertransaksi pulsa, member harus melakukan deposit pulsa, semua deposit pulsa member anda dari G1 sampai G10 diakumulasikan selama 1 bulan, dan anda akan mendapatkan cashback dari total omzet deposit member anda setiap generasi
Untuk omzet deposit / generasi Rp. 0 – Rp. 100 juta anda mendapat cashback 0,025%
Untuk omzet deposit / generasi Rp. 100 juta – Rp. 500 juta anda mendapat cashback 0,0375%
Untuk omzet deposit / generasi diatas Rp. 500 juta anda mendapat cashback 0,05%
Anda bisa mendapatkan komisi cashback ini jika anda sendiri deposit minimal 100.000 (tentunya sangat tidak memberatkan, karena mungkin kebutuhan pulsa anda pribadi bisa lebih dari 100.000).

Jika anda bisa mendupliasikan G1 berjumlah 4 orang sampai dengan G10,masing-masing bertransaksi pulsa 2 x / bulan, dan deposit Rp. 100.000,- / bulan, maka anda bisa mendapatkan komisi repeat order pulsa sebesar Rp. 62.682.440+Rp. 69.819.700/bulan , berikut ilustrasinya :

Dengan melihat target diatas, berarti anda cukup melakukan 3 macam target duplikasi yang cukup mudah :

a. Anda mengajak 4 orang rekan anda menjadi member FLEXTER, dan Menduplikasikan masing-masing juga mengajak 4 orang sampai terduplikasi sampai G10. (tidak sulit mencari 4 orang yang mau semua fasilitas dan
produk FLEXTER yang menarik)

b. Anda, dan semua member anda semua cukup bertransaksi pulsa minimal 2 x / bulan (sangat mudah, bahkan mungkin 2 x isi ulang tersebut untuk pengisian pribadi masing- masing member)

c. Untuk bisa bertransaksi, semua member minimal deposit Rp. 100.000,- / bulan (sangat mudah, karena mungkin angka Rp. 100.000,- adalah angka belanja pulsa kita pribadi, hanya sekarang diarahkan dan dipindahkan saja belanjanya ke FLEXTER).

Dengan melihat produk dan potensi pasar FLEXTER ketiga target diatas tidak terlalu sulit dicapai

Komisi Repeat Order SMS MURAH Lintas Operator

Untuk menikmati SMS Murah Lintas Operator, pengguna HP harus membeli pulsa dengan kode pulsa FS20. Anda akan mendapat komisi setiap kali anda dan member-member anda mengisi pulsa FS20 baik ke hp sendiri atau dijual ke orang lain. Besarnya komisi :

Setiap anda menjual FS20, maka anda akan mendapatkan bonus Rp. 500,- / unit
Setiap member anda dari G1 sampai G10 menjual anda akan mendapatkan Rp. 100 / unit

Bonus Reward Akumulasi penjualan FS20 :

Total Penjualan 200.000 unit anda akan mendapatkan HP komunikator
Total Penjualan 500.000 unit anda akan mendapatkan Laptop
Total Penjualan 25.700.000 unit anda akan mendapatkan BMW atau mobil mewah

Jika anda bisa mendupliasikan G1 berjumlah 4 orang sampai dengan G10,masing-masing bertransaksi pulsa FS20 2 x / bulan, maka anda bisa mendapatkan komisi repeat order SMS MURAH lintas operator sebesar Rp 279.620.000/bulan dan bisa membawa pulang HP Komunikator, Laptop, dan BMW setiap 1.5 Tahun, berikut ilustrasinya :

undefined

Komisi Repeat order Internet FLAT Unlimited

Komisi dari Aktifasi baru / pelanggan baru internet FLAT Unlimited

Setiap terjadi aktifasi baru yang dijual oleh anda sendiri maka anda akan mendapatkan komisi Rp. 17.500 / aktifasi
Jika terjadi aktifasi baru dari grup anda sampai dengan G10, anda akan mendapatkan komisi Rp. 875,- / aktifasi baru

Komisi dari biaya langganan bulanan

Jika anda menjual langsung produk ini, maka setiap kali pelanggan anda memperpanjang langganannya anda akan mendapatkan komisi sebesar
Jumlah pelanggan 0 – 20 : Rp. 0,-
Jumlah pelanggan 21 – 200 : Rp. 7,500,-
Jumlah pelanggan 201 – 2000 : Rp. 17,500,-
Jumlah pelanggan diatas 2000 : Rp. 27,500,-
Jika member-member anda menjual dan pelanggannya memperpanjang langganannya, maka anda akan mendapatkan komisi sebesar :
per G1 sampai G10
Jumlah pelanggan 0 – 20 : Rp. 0,-
Jumlah pelanggan 21 – 200 : Rp. 375,-
Jumlah pelanggan 201 – 2000 : Rp. 875,-
Jumlah pelanggan diatas 2000 : Rp. 1375,-

Komisi Repeat Order Kartu Diskon

Fasilitas kartu diskon setiap tahunnya perlu diperbaharui (jika membership seumur hidup), untuk memperbaharui nya member dikenakan biaya Rp. 90.000,- / tahun. Pembayarannya dicicil dari bonus yang didapatkan, yaitu dipotong Rp. 300,- sebanyak 300 kali potongan. Setelah lunas maka member akan mendapatkan kartu diskon baru. Setiap kali member anda dari G1 – G10 mendapatkan kartu baru (lunas cicilannya) maka anda akan mendapatkan bonus tahunan sebesar Rp. 6000 / kartu yang diperbaharui sampai G10.

Berikut ilustrasi jika anda bisa menduplikasikan G1 sebanyak 4 orang sampai G10, dan semua bisa memperbaharui kartu diskonnya :
undefined

Dengan melihat potensi bonus tahunan diatas, misal hanya berjalan 10 % saja, maka anda bisa mendapatkan bonus tahunan 800 juta / tahun, hanya dengan mengajak dan menduplikasikan 4 orang, LUAR BIASA!!!

PROFIL PERUSAHAAN
PT. GLOBAL MEDIA NUSANTARA adalah sebuah perusahaan yang bergerak di bidang dealer pulsa dan internet teknologi berbasis ecommerce yang Didukung dengan Management dan IT yang Profesional, dengan bangga kami mempersembahkan flexter card sebagai usaha untuk menuju kesuksesan bersama.
TUJUAN FLEXTER
* Membentuk SDM yang profesional, mandiri dan sejahtera
* Menciptakan lapangan kerja baru
* Memberikan sumber penghasilan baru bagi masyarakat luas
* memberikan pengetahuan tentang teknologi internet
* mensejahterakan semua member flexter
LEGALITAS PERUSAHAAN
Nama Perusahaan
PT. Global Media Nusantara
Akta Notaris
Akta no : 20,Tanggal 30 April 2005
SIUP
No : 510/2-602-DISINDAG/2005
TDP
NO : 101115211277
NPW
NO : 02.480.9337.7-423.000
IJIN GANGGUA
NO : 536/SI-6187/KPMD/2005
DOMISIL
NO : 22/DP/X/2005
PENGESAHAN KEHAKIMA
NO : C-01590 HT.01.TH.200
REKENING PERUSAHAAN
BANK
BCA KCU DAGO
NO REK
7770592008
ATAS NAMA
PT. GLOBAL MEDIA NUSANTAR
BANK
MANDIRI kcp Bdg Siliwangi
no rek
130-00-0497493-0

atas nama
wira pradan
DEWAN DIREKSI PT.GLOBAL MEDIA NUSANTARA
DIREKTUR UTAM
H. WIRA PRADANA, ST
DIVISI IT
ABANDI WANGSAKARSA
ANDI NURHADI, ST
ANANSYAH
AGUNG MAULANA S.KOM
DIVISI TIM KREATIF
AYAN, ST , MBA
DIVISI OPERASIONAL
H. ELI ROHAYATI, ST
DIVISI KEUANGAN
ELA ROHAYATI, SE
NOVITA SRI KARTIKA, S.S
DIVISI MARKETING & SUPPORT SYSTEM
IRVAN BUDIAWAN, AMD
DIVISI TEKNISI
KARIM
STAFF
ADE SURYADI
DODI APANDI
M. SAEFULLOH
DIKI, S.KOM
NELLY ASTRIAWATY
HERMAWAN
IQBAL ABDUL KABIR
ROMY MUHAMAD RAMDAN
AZIQ MAMNUN
SUHERLAN
Apakah anda seorang Mahasiswa? atau seorang karyawan? Atau juga seorang ibu rumah tangga dan bagi anda yang belum mendapatkan pekerjaan?
Dan apakah anda semua ingin mendapatkan sebuah penghasilan yang dapat mewujudkan impian anda? JAWABANNYA ADALAH :FLEXTER
FLEXTER memakai sistem bisnis jaringan (network marketing), tetapi tidak mengenal sistem peringkat (level), bisnis Flexter tidak ada target pembelian/penjualan dan juga didukung oleh server yang canggih
Dalam waktu yang tidak terlalu lama jika member mengikuti program FLEXTER secara serius maka member dapat menghasilkan sebuah penghasilan yang pasif dan berkesinambungan
Bonus sponsor Rp. 50.000,- / member
Bonus pasangan Rp. 27.500,- / pasang
Bonus duplikasi hingga 6 generasi Rp. 1.000,- / generasi
Bonus Royalti Pulsa
Bonus cashback deposit
Bonus Royalti Pulsa Murah
Bonus Repeat Order berlangganan Interne
Bonus Tahunan dengan potensi 8,3 Milyar/ tahun
Bonus PENSIUN Hot image setiap bulan bagi member yang kualified

KEUNGGULAN KAMI
WEB REPLIKA
Web Replika adalah sebuah Web yang dibuat secara khusus untuk mempermudah rekrutment mitra-mitra baru di Bisnis Network Marketing. Keistimewaan dari Web Replika adalah apabila seseorang yang mendaftar melalui web replika ini maka orang tersebut juga akan memiliki sebuah web bisnis yang sama namun dengan username yang sifatnya pribadi
Web Replika ini sudah terbukti secara online banyak melahirkan master-master Rekrutmen di Bisnis MLM, namun kemampuan untuk membuat web replikasi ini tidaklah mudah dan bila seorang yang profesional membuatkan untuk Anda tentunya dengan biaya yang sangat mahal, namun … anda beruntung di Support dengan Web berbasis Replikasi bila Anda mendaftarkan diri Anda menjadi Distributor melalui web ini, sehingga Anda dengan mudah mengembangkan bisnis Anda keseluruh kota di Indonesia bahkan ke Luar Negeri, tanpa harus membuat ataupun membayar mahal untuk memilikinya.
Segera setelah seseorang mendaftar dan telah secara resmi bergabung maka secara otomatis anda mendapatkan web replikasi yang sama untuk promosi / presentasi online. Selanjutnya anda cukup promosikan web url dengan user ID anda sendiri kepada banyak orang, dan untuk selanjutnya biarkan system dari web ini yang akan bekerja.
Struktur web anda sbb : http://www.asiaflexter.com/?id=username
username bisa anda tentukan sendiri saat mengisi form pendaftaran. Dengan website pribadi anda ini, anda bisa memulai membangun kerajaan bisnis Anda di kota manapun dan di negara manapun

MANFAAT WEB REPLIKA
01.Web Bekerja 7 x 24 Jam
Anda bisa merekrut Mitra-mitra Bisnis baru tanpa batasan jarak dan waktu,
dimana Anda bisa memiliki mitra dari segala penjuru Kota dan Negara tanpa
harus berkunjung dan bertemu secara tatap muka, bahkan Anda bisa merekrut Mitra
Bisnis Anda saat Anda sedang bekerja, berlibur bahkan saat Anda sedang tertidur
pulas, karena Website Anda akan bekerja tanpa kenal waktu selama 7 x 24 jam !!!
02.Efisiensi Biaya Yang Sangat Besar
Anda bisa melakukan efisiensi biaya karena Anda bisa mengembangkan Bisnis ini
tanpa harus pergi ke kota-kota dimana Anda akan mengembangkan jaringan bisnis
Anda, Bahkan Anda bisa melakukan pengembangan jaringan ke Luar Negeri
tanpa harus pergi ke Negara tersebut
03.Nilai Tambah Bagi Bisnis Anda
Dengan memiliki website ini, ada day tarik tersendiri bagi pengembangan Bisnis
Anda, karena tidak semua Jaringan Distributor FLEXTER Network memilikinya.
Tung Desem Waringin menyebutnya sebagai Nilai Tambah.
04.Kesempatan Rekrutment Yang Sangat Besar
Dengan Web ini, Anda berkesempatan untuk lebih banyak merekrut Rekan Bisnis
baru dibandingkan dengan Distributor yang melakukan secara Offline
05.Hanya Membutuhkan Sedikit Waktu
Bagi yang sibuk, Anda tidak perlu menghabiskan waktu berjam-jam untuk
menjalankan Bisnis ini tiap harinya, namun hanya dibutuhkan tidak kurang dari
30 menit untuk mempromosikan web Bisnis anda maupun untuk melakukan
follow up calon Rekanan Bisnis Anda
06.Perkembangan Jaringan Menjadi Cepat
Dengan Spillover System dan support dari para upline-upline anda membuat
perkembangan jaringan Anda di jamin akan berkembang sehingga akan menarik
banyak calon Mitra-mitra Bisnis Anda yang lebih tertarik untuk bergabung
dengan Anda ketimbang dengan group lain yang menjalankan Bisnisnya
tanpa dukungan Web Replikasi, spillover dan lain sebagainya.
07.Bekerja Smart
Dengan menggabungkan 2 metode pengembangan bisnis, yaitu secara Offline dan
Online membuat perkembangan Jaringan dan bisnis Anda cepat berkembang dengan
cepat.
FASILITAS MEMBER
Bagi anda yang bergabung melalui sistem online kami maka mendapat fasilitas sebagai berikut:
1. Mendapatkan Downline secara otomatis
Ya, dengan bergabung bersama sistem online kami maka anda akan kami bantu untuk mendapatkan downline sebanyak 2 kaki dengan kedalaman tak terhingga melalui keunggulan sistem dari kami.
2. Mengetahui jaringan Downline anda
Tak kenal maka tak sayang, untuk itu kami memberikan fasilitas kepada para member untuk mengetahui siapa saja Jaringan Downline anda yang bergabung melalui AsiaFlexter.com secara online sedangkan jaringan yang mendaftar langsung secara offline tidak bisa anda lihat disini kecuali data member tersebut telah di input secara manual oleh sponsornya.
3. Menginput Downline yang anda peroleh secara Offline
Bagi anda yang memperoleh Downline secara Offline maka kami sediakan fasilitas untuk menginput downline anda tersebut sehingga anda dan downline anda dapat menikmati fasilitas yang sama dari kami
4. Melihat Statistik
Anda dapat melihat data statistik jumlah pengunjung yang telah mengunjungi web replika anda dan dari mana mereka mengakses web replika anda.
5. Marketing Tools
Anda akan memperoleh berita-berita terbaru dari kami, bahan presentasi dan artikel-artikel menarik yang dapat anda gunakan dalam memprospek calon downline anda.

QUANTUM DO’A

PENULIS QUANTUL DO’A

H. Tata Sukayat, M.Ag. Lahir di Purwakarta pada 1 Januari 1977. Menyelesaikan pendidikan SD sampai MTsN di Purwakarta, MAN I di Kota Bandung, tahun 2000 meraih gelar Sarjana Agama (S.Ag) dengan predikat Cumlaude pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran
Islam Fakultas Dakwah IAIN “SGD”. Tahun 2004 meraih gelar Magister Agama (M.Ag.) pada Konsentrasi Studi Masyarakat Islam dan tahun 2005 melanjutkan kuliah S3, pada konsentrasi Dakwah dan Komunikasi Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Selama menempuh pendidikan formal juga menuntut ilmu di beberapa pesantren, antara lain: Pesantren Al-Ishlah Purwakarta (1991-1993), Pesantren Al-Istiqamah Cijerah (1993-1996), dan Pesantren Al-Ihsan Cibiru Bandung (1996-2000). Tahun 1995 mengikuti Diklat Mubaligh angkatan ke-37 di Masjid Agung Bandung. Tahun 1999 mengikuti Dawrah al-Aimah wa al-Khuthaba Dewan Dakwah Islamiyah (DDI) Jawa Barat. Dan tahun 2000 mengikuti pendidikan bahasa Inggris di Harvard Bandung.
Dalam bidang organisasi, sempat menjadi Ketua Umum OSIS di MAN I Kodya Bandung tahun 1995. Sedangkan selama kuliah aktif dalam berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan. Antara lain: Tahun 1998 menjadi Sekretaris Umum Unit Pengembangan Tilawat Al-Qur’an (UPTQ) IAIN “SGD” Bandung, dan tahun 2000 menjadi Wakil Sekretaris Jenderal Lembaga Dakwah Mahasiswa Islam (LDMI) PB HMI Jakarta.
Beberapa prestasi yang pernah diraih antara lain: Tahun 1994 Juara I Lomba Pidato antar SLTA se-Jawa mendapat tropy dari Prof. KH.Anwar Musaddad pada Lomba Pengembangan Dakwah Islamiyah di STAI Musaddadiyah Garut; Tahun 1996 Juara I Lomba Pidato di Promotion Centre Bandung; Tahun 1998 Juara I Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) pada MTQ Tingkat Kota Bandung dan Juara I Musabaqah Syarhil Qur’an (MSQ) MTQ Tingkat Propinsi Jawa Barat; Tahun 2000 sebagai konseptor bagi peserta Musabaqah Syarhil Qur’an utusan Jawa Barat pada MTQ tingkat Nasional dan berhasil meraih juara I tingkat Nasional. (Mangle No. 1968. Hal. 47 pada 13-7-2000). Dan sekarang sebagai pembina Syarhil Qur’an LPTQ Provinsi Jawa Barat.
Saat ini bekerja sebagai tenaga pengajar di Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN “SGD” Bandung; Sekretaris Biro Pengembangan Dakwah MDI Jawa Barat; Wakil Ketua Corps Mubaligh Muda (CMM) Fakultas Dakwah; Pembina Majelis Ta’lim An-Nur Purwakarta; Wakil Sekretaris Jendral DPP Majelis Dakwah Islamiyah, dan Ketua Generasi Muda Masjid Raya (GEMMAR) DKM Masjid Raya Bandung Jawa Barat.
Karya tulis yang pernah dipublikaskan, antara lain: Kapita Selekta Syarhil Qur’an, Quantum Do’a, Khuthbah Bermartabat, Pitutur Ngawangun Lembur, Nasehat Mancar Dina Mimbar, dan Bermartabat Menurut Ayat.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR iii
DAFTAR ISI ix

BAB I
AL-MADKHAL FI USHUL AL-DU’A 1
A. Pengertian Epistimologi Du’a (Ushul al-Du’a) 1
B. Kegunaan Epistemologi Du’a 6
C. Objek Kajian 8
D Keutamaan 9
E. Penggagas 9
F. Sumber 10
G. Hukum Mempelajari 10
H. Problematika 11
I. Metodologi 11
J. Posisi EpistImologi Du’a dalam Ilmu Dakwah 12

BAB II
HAKIKAT DU’A DAN URGENSINYA 13
A. Pengertian Du’a 13
B. Faidah Berdu’a 17
C. Berdu’a Hanya kepada Allah 20

D. Du’a dan Ikhtiar 25
E. Du’a dan Wasilah 27
F. Fungsi Du’a 30

BAB III
DASAR DAN SUMBER DU’A 33
A. Dasar Hukum Berdu’a 33
1. Dalil dari al-Qur`an 33
2. Sunnah 35
B. Macam-Macam Sumber Du’a 43

BAB IV
ADAB DAN PROSEDUR BERDU’A 49
A. Adab-adab Berdu’a 49
B. Tata Cara Berdu’a 51
C. Waktu-waktu untuk Berdu’a 53
D. Tempat-tempat Berdo`a 55
E. Hukum Mengangkat Tangan dan Menyapu
Muka 56
F. Du’a untuk Orang Jauh dan Yang Berbuat Baik 57
D. Du`a Yang Dilarang dan Orang-orang
Yang Ditolak Du’anya 59
H. Cara Allah Swt. Mengkabulkan Du’a 61

BAB V
HAKIKAT DAN KONSEP HIKMAH 63
A. Makna Hikmah Dalam Al-Qur’an 63
1. Arti Hikmah Secara Etimologi 63
2. Kata Hikmah Menurut Fuqaha dan Filusuf 66
3. Hikmah Menurut Ahli Tafsir 67
4. Perbedaan Hikmah dan Kahanah 70
B. Hakikat Hikmah dalam Epistimologi Du’a 71

BAB VI
MUKJIZAT DAN KARAMAH 73
A. Mukjizat 73
1. Unsur-unsur Yang Menyertai Mukjizat 74
2. Tujuan dan Fungsi Mukjizat 78
3. Perlu Bukti untuk Suatu Kebenaran/
Mukjizat 80
4. Macam-macam Mukjizat 82
B. Karamah 90
C. Ma’unah 95
D. Istidraj 96

BAB VII
SIHIR DAN PERMASALAHANNYA 97
A. Pengertian dan Hakikat Sihir 97

B. Kegunaan Sihir 105
C. Beberapa Tanda Penyihir dan Bentuk-bentuk
Sihir 109
D. Keterkaitan antara Sihir dengan Jin 112
E. Kedudukan Pelaku Sihir 130
F. Perbedaan Antara Karamah, Sihir, dan Mukjizat 143

BAB VIII
ISTI’ANAH, ISTIGASAH, MUNÂJAT,
DAN ISTI’ADZAH 153
A. Isti’ânah 153
B. Istighâsah 155
C. Munâjat 157
D. Isti’âdzah 162.

BAB IX
RIYADHAH, RATIB, WIRID,
DAN MUHASABAH 167
A. Riyâdhah 167
B. Ratib 169
C. Wirid 172
D. Muhâsabah 173

BAB X
AL-ASMA` AL-HUSNA 175

BAB XI
SHALAWAT, HIZIB, DAN BARAKAH 187
A. Shalawat 187
B. Barakah 194
C. Hizib 195
D. Du’a Saefi 196

BAB XII
DASAR-DASAR DU’A
PENYEMBUHAN PENYAKIT 199
A. Hakikat Penyaki 199
B. Prinsip-prinsip Du’a Penyembuhan Penyakit 201
C. Pengaruh Du’a Penyembuhan 205
D. Prosedur Du’a Penyembuhan 207
E. Macam-macam Du’a Penyembuhan 207
F. Upah Jasa Pelayanan Du’a Penyembuhan 210

DAFTAR PUSTAKA. 213
TENTANG PENULIS 217
KATA PENGANTAR
بسـم الله الرحمن الرحيم
اللهمّ كن لنا ولا تكن علينا
Tiada kata yang paling indah, kecuali syukur alhamdulillah, atas hidâyah, inâyah dan taufiq Allah Swt. buku daras Epistimologi Du’a dalam bentuknya yang masih jauh dari sempurna, telah selesai disusun dan dapat hadir di pangkuan para pembaca.
Epistimologi Du’a merupakan salahsatu mata kuliah dasar keahlian pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, dari sisi fungsi epistimologi kurikulum kependidikan dakwah, Epistimologi Du’a ini sebagai pengetahuan dasar teoritis praktis tentang pesan-pesan dakwah Islamiah yang wajib didakwahkan juga sekaligus du’a itu merupakan bagian dari macam metode dakwah yang dicontohkan para Nabi termasuk Nabi terakhir Muhammad Saw. Dengan demikian, substansi du’a secara teologis historis adalah bagian dari macam sesuatu yang diwariskan oleh para Nabi yang wajib dihayati, dipahami, diamalkan dan didakwahkan oleh umatnya, agar memiliki kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual secara simultan.
Sejak ditetapkannya sebagai salahsatu mata kuliah dalam kurikulum fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung mulai tahun 1999, telah disampaikan oleh penggagasnya dalam proses perkuliahan secara langsung melalui pendekatan dan metode berpikir reflektif-instuitif dari hasil renungan dan pengkajian referensi yang memuat tentang hal ihwal ajaran Islam tentang du’a yang telah banyak ditulis oleh para pakar du’a yang masih berserakan belum terstrukturkan dalam bentuk sub disiplin ilmu secara khusus dalam kerangka bangunan disiplin ilmu ke-Islaman seperti disiplin ilmu ke-Islaman lain sebagai pelaksanaan perintah dari ajaran Islam, misalnya perintah Tafaqquh fi al-Din, telah muncul disiplin ilmu fikih dan metodologi yang meng-konstruksikan disiplin ilmu fikih muncul disiplin ilmu Ushul al-Fikih, namun demikian berbeda halnya dengan perintah du’a, belum banyak karya tulis secara khusus tentang ilmu du’a dan ilmu Ushul al-Du’a (Epistimologi Du’a) sebagai wujud pelaksanaan perintah berdu’a. Dengan didasari pemikiran inilah muncul epistimologi du’a sebagai suatu keniscayaan dalam upaya meneruskan khazanah karya-karya para pakar du’a terdahulu yang menulis tentang du’a.
Terdorong oleh kedua kebutuhan praktis yang amat mendesak, yaitu bahan penyajian proses perkuliahan pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan kebutuhan proses pembelajaran Pelatihan Perawatan Rohani Islam (WAROIS) bagi para pasien muslim rawat inap di rumah sakit khususnya, sebagai realisasi dari program aksi pembangunan terpadu bidang kesehatan dan keagamaan pemerintah propinsi Jawa Barat yang digagas langsung oleh Bapak R. Nuriana selaku gubernur Propinsi Jawa Barat yang dicetuskan pada tanggal 23 Maret 2002 ketika menerima audien Dekan Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung tentang urgensi kegiatan perawatan rohani Islam di rumah sakit yang hingga saat ini belum dilakukan secara khusus oleh tenaga yang memiliki kualifikasi keterampilan teoritis dan praktis tentang perawatan rohani Islam sebagai bagian dari macam bimbingan Islam, dan bimbingan Islam sebagai bagian dari bentuk kegiatan dakwah. Oleh karena itu Bapak Gubernur R. Nuriana secara “historis” adalah sebagai Bapak “Perawatan Rohani Islam”(WAROIS) di Jawa Barat.
Penyampaian materi epistimologi du’a sejak angkatan pertama hingga angkatan ke-enam masih disampaikan dalam bentuk berpikir reflektif-intuitif belum muncul dalam bentuk sebuah buku modul pelatihan, baru pada angkatan ke-tujuh buku epistimologi du’a ini dapat terselesaikan yang diangkat dari catatan-catatan penggagasnya dan penyampaian lisan dalam proses pelatihan calon petugas perawat rohani Islam di rumah sakit umum milik daerah.
Buku Epistomologi Du’a ini disusun terdiri dari dua belas bab sebagaimana terlihat dalam daftar isi, di balik angka dua belas itu mengisyaratkan adanya dua belas rincian dari rukun agama Islam, yaitu rukun Iman (enam), Islam (lima), dan Ihsan (satu), sebab pada hakikatnya pengamalan du’a adalah bagian dari realisasi dan aktualisasi ke-Imanan, ke-Islaman, dan ke-Ihsanan.
Penulis menyadari bahwa buku Epistimogi Du’a ini masih jauh dari kesempurnaan antara lain masih terdapat istilah-istilah epistimologi du’a yang belum terbahas, misalnya istilah-istilah dari macam-macam sihir menurut penulis buku “Fawaid al-Makiyah”, konsep du’a yang ditulis seperti duduk persoalan azimah, wafaq (isim), dan konsep-konsep lainnya, insya Allah dalam edisi revisi dan masukan-masukan dari para pembaca akan dimasukan sebagai isi dari buku ini berikutnya. Walaupun demikian, ikhtiar penulis ini diharapkan dapat berguna untuk memenuhi kebutuhan proses perkuliahan pada fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan sebagai pegangan teoritis bagi para petugas perawat rohani Islam di rumah sakit dan semua pihak yang terkait dalam pelaksanaannya, selain itu diharapkan berguna bagi para peminat pengkajian hal ihwal du’a dan bagi para Da’i di lapangan. Sedangkan pengetahuan praktis operasional pelayanan du’a merupakan isi dari buku “Psikoterapi Islam” yang sedang disusun oleh tim pengajar mata kuliah psikoterpi Islam pada jurusan Bimbingan Penyuluhan Islam Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung.
Akhirnya segala sesuatu kandungan dari buku ini yang benarnya merupakan hasil hidayah taufiq dari Allah Swt. dan produk ijtihad para pakar du’a terdahulu, sedangkan kekeliruan, kekhilafan dan kesalahan adalah muncul dari keterbatasan penulis yang ingin digolongkan sebagai pecinta du’a dan semoga Allah mengampuninya. Oleh karena itu, masukan saran bahkan kritik dari para pembac untuk kesempurnaan buku ini merupakan hak yang dapat digunakan.
Semoga setetes air pengetahuan tentang hal ihwal du’a ini di tengah-tengah lautan pengetahuan ke-Islaman yang tak berpantai dapat mengurangi kehausan spiritualitas ke-Islaman kita semua. Amin.

Bandung,
.

Penulis

BAB I
AL-MADKHAL FI USHUL AL-DU’A
(Pengantar Epistimologi Du’a)

A. Pengertian Epistimologi Du’a (Ushul al-Du’a)
Arti ushul al-du’a dari segi bahasa terdiri dari dua suku kata, ushul berarti asal, sumber, pokok, induk, pusat, keturunan, dan atau nasab . Ushul bisa diartikan juga sebagai tempat kembalinya sesuatu. Ushul dalam bahasa Arab sepadan dengan istilah epistimologi dalam Filsafat Ilmu. Epistimologi sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu epistem yang berarti pengetahuan, dan logo yang berarti ilmu . Oleh karena itu dalam filsafat, epistimologi biasa diartikan sebagai Filsafat Ilmu atau filsafat tentang ilmu pengetahuan. Secara umum Runners sebagaimana dikutif oleh A. Tafsir mengartikan epistimologi adalah: The Branch of Philosophy Investigates the Origin, Structure, Methods and Validity of Knowledge . Dengan demikian secara sederhana epistimologi dapat diartikan sebagai suatu kajian tentang asal usul munculnya sesuatu. Sesuatu yang akan menjadi fokus kajian pada buku ini adalah tentang du’a.
Du’a secara lisan dan hati merupakan ucapan lisan dan getaran hati berupa permohonan serta pujian kepada Allah Swt.dengan cara-cara tertentu . Du’a secara bahasa disebutkan dalam al-Qur’an mengandung beberapa pengertian, yakni berarti:
1. Permintaan
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ (المؤمن: 40)
Dan Tuhanmu berfirman: “Berdo`alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. Al-Mu`min)

2. Permohonan
ادْعُوا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَخُفْيَةً إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ (الأعرأف:55)
Berdo`alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-A’raf: 55)
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
3.Panggilan
يَوْمَ يَدْعُوكُمْ فَتَسْتَجِيبُونَ بِحَمْدِهِ وَتَظُنُّونَ إِنْ لَبِثْتُمْ إِلآ قَلِيلًا (الإسراء:52)
Yaitu pada hari Dia memanggil kamu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira, bahwa kamu tidak berdiam (di dalam kubur) kecuali sebentar saja.
4. Pujian
وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا(الإسرأء:11)
Dan manusia mendo`a untuk kejahatan sebagaimana ia mendo`a untuk kebaikan. Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa. (QS. Al-Israa: 11)
Du’a secara istilah menurut al-Asqari adalah permohonan kepada Allah Swt. agar Dia mendatangkan sesuatu yang bermanfaat dan menjauhkannya dari segala bentuk kemadharatan . Pendapat lain sebagaimana dijelaskan Dr. Wahbah Juhaily dalam tafsir Al-Wajiz, bahwa du’a secara istilah ialah:
ألسؤل بطلب النفع ودفع الضرر وهو في ذاته عبادة
“Minta kemanfaatan dan menolak kemadaratan. Dan secara esensi ia termasuk ibadah”
Du’a dari segi bentuknya merupakan pekerjaan hati, lisan dan raga dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. Du’a sebagai pekerjaan hati, maksudnya gerak dan energi berupa interaksi transendental antara makluk dan Khâlik untuk memperoleh sesuatu yang bermanfaat dan menghindari sesuatu yang madharat. Du’a ketika berupa pekerjaan lisan adalah berwujud ucapan bahasa yang isinya berupa permohonan dari makhluk kepada Khâlik untuk mencapai sesuatu yang bermanfaat dan menghindari sesuatu yang madharat dalam rangka beribadah kepada Allah Swt. Sementara itu, du’a dari sisi aktivitas perbuatan raga adalah aktivitas hidup yang berjalan dalam hukum kausalitas immaterial sesuai dengan apa yang dilakukan qalbu dan lisan. Keterpaduan ketiga unsur itulah sebagai hakikat du’a yang murni dan konsekuen. Penjelesan seperti itu sejalan dengan firman Allah dalam Q.S.2:186:
وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ (البقرة: 186)
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)
Kalimat “Idzâ Da’ânî” merupkan syarat sekaligus isyarat, bahwa mengangkat tangan dan berucap saja tidak cukup untuk terkabulnya du’a melainkan harus di tunjang dengan bahasa perbuatan.
Dari definisi-definisi tersebut, terdapat dua makna yang terkandung dalam du’a, yakni: Pertama, agar yang bermanfaat tetap ada dan abadi melekat pada diri kita dan diusahakan supaya tidak hilang. Kedua, agar yang madharat hilang tiada dan tidak datang terhadap kita. Dan aktivitas dalam menjaga manfaat dan mengusir madharat, pada dasarnya merupakan ibadah. Dengan demikian berdu’a dengan sendirinya merupakan ibadah.
Berdasarkan hal tersebut, dapat dipahami bahwa ushul al-Du’a atau epistemologi du’a merupakan ilmu yang mengkaji tentang bagimana asal-usul dan tata cara memohon kepada Allah Swt dalam rangka mendatangkan serta meraih sesuatu yang bermanfaat dan menghindari segala sesuatu yang madharat, sebagai bagian dari bentuk ibadah.
B. Kegunaan Epistimologi Du’a
Epistemologi Du’a berguna untuk mengkaji secara mendalam terhadap kebenaran sehingga mampu membedakan antara du’a yang sah dan tidak sah, yang diharapkan dapat menciptakan suasana qolbun Salîm bagi pelaku du’a dan orang yang didu’akan (mad’u bihi) .
Hal itu dikarenakan cara atau metode memiliki peranan sangat penting dalam Islam, sebab sesuatu yang dipandang baik, tapi salah dalam melakukannya, maka hal itu tidak akan mendapatangkan manfaat, bahkan sebaliknya akan menjerumuskannya pada kesesatan.
Begitu pula ilmu ini akan sangat berguna bagi siapa saja yang berdu’a, sebab ilmu ini akan mengarahkan seseorang agar dapat berdu’a dengan benar dan agar du’a tersebut bisa cepat dikabulkan oleh Allah Swt.
Secara lebih rinci, kegunaan ilmu ini adalah:
1. Meningkatkan kepatuhan dan wawasan diri sendiri terutama tentang sesuatu yang menjadi objek kajian epistimologi du’a.
2. Dapat memberikan landasan ilmiah tentang keharusan berdu’a, sebagai bagian dari ibadah.
3. Memberikan kemampuan, solusi berbagai problem psikologis dan sosiologis kehidupan dan pengidupan mad’û oleh du’a dalam proses dakwah Islam.
4. Memberikan kesadaran filosofis bagi kader da’i tentang kehadiran dan kediriannya sebagai ‘Abdullah, sehingga mampu memfungsikan ke’hambaan’ sesuai fungsi dan perannya.
5. Menghindarkan diri dari kemusyrikan dalam berdu’a

C. Objek Kajian
1. Objek Kajian material
Objek kajian material epistimologi du’a adalah “Prilaku keislaman muslim dalam melaksanakan ajaran agama Islam”. Dalam hal ini, kajian epistimologi du’a akan banyak berkaitan dengan ilmu-ilmu keislaman lainnya.

2. Objek kajian formal
Objek kajian formal epistimologi du’a ini antara lain meliputi:
a. Dasar Du’a
b. Sumber Du’a
c. Pendekatan Du’a
d. Metodologi Du’a
e. Penggunaan Du’a
f. Dasar Penggunaan Du’a Sebagai Metode Dakwah
g. Problematika Du’a

D. Keutamaan
Keutamaan epistimologi du’a melekat dalam keutamaan dan kewajiban berdu’a itu sendiri dan sejajar dengan keutamaan ilmu Islam lainnya.

E. Penggagas
Secara substansial kajian epistimologi du’a, sudah tumbuh dan berjalan dalam rentangan sejarah perjuangan para Nabi dan Rasul berikut sahabat dan umatnya, dengan bukti teologis Qur’ani, dan banyaknya du’a yang diabadikan oleh Al-Qur’an.
Para penggagasnya tersebar di mana-mana, yang diawali oleh ahli Hikmah, Sufi dan Thariqat. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Syekh Aly Al-Buny dalam kitab Manbâ’ Ushul Al-Hikmah.
Sebagai salahsatu upaya melanjutkan khazanah kajian du’a tersebut, di Fakultas Dakwah IAIN Sunan Gunung Djati Bandung, epistimologi du’a dimasukkan sebagai bagian dari substansi Ilmu Dakwah, yaitu bagian dari ilmu tentang proses dan metode dakwah Islam mulai tahun 1999

F. Sumber
Sumber pengambilan keilmuan epistimologi du’a, diambil dari:
1. Al-Qur’an
2. Al-Hadits
3. Sirah al-Anbiyâ`
4. Karya Ahli Sufi
5. Ilmu Tafsir
6. Ilmu Fiqih
7. Filsafat Islam

G. Hukum Mempelajari
Hukum mempelajari epistimologi du’a adalah melekat pada hukum berdu’a itu sendiri. Karena berdu’a hukumnya wajib, maka seluruh keilmuan termasuk epistimologi-nya yang menuju pada keabsahan du’a, hukumnya adalah wajib. Hal ini mengacu pada kaidah:
الأ مر بالشيئ أمر بوسائله
“Perintah terhadap sesuatu berarti perintah (-pula) bagi hal-ihwal yang berkaitan dengan pelaksanaan sesuatu yang diperintahkan tersebut”

H. Problematika
Di antara masalah yang akan dibahas dalam ilmu ini adalah:
1. Menjelaskan term-term du’a
2. Menjelaskan konsep yang menjadi objek kajian
3. Membangun teori du’a
4. Memberikan landasan teoritis tentang du’a

I. Metodologi
Manhaj-nya adalah Istinbâth, Iqtibâs, Istiqrâ` (proses penalaran). Metode istinbâth adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek kajian epistimologi du’a dengan menurunkan keterangan naqliyah qur’aniyah dan sunnah para anbiyâ`. Iqtibâs adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek kajian epistimologi du’a dengan meminjam teori-teori du’a produk ijtihad para ulama. Istiqrâ` adalah proses penalaran dalam menjelaskan objek kajian epistimologi du’a berdasarkan hasil penelitian dan pengalaman empirik spiritual hamba Allah Swt.

J. Posisi Epistimologi Du’a Dalam Ilmu Dakwah
Posisi epistemologi du ’a kaitannya dengan ilmu dakwah adalah:
1 Sebagai sub disiplin Ilmu Dakwah, tentunya berkaitan erat dengan Ilmu Al-Qur’an dan Hadits serta Akhlak
2 Sebagai metode dalam menyampaikan pesan-pesan dakwah.
3 Sebagai dasar teoritik dalam pengkajian sub Ilmu Dakwah

BAB II

HAKIKAT DU’A DAN URGENSINYA

A. Pengertian Du’a
Kata du’â (الدعاء) adalah bentuk mashdar dari fi’îl دعا يدعو, sedangkan menurut Ibn Hajar, kalimat du’â sebenarnya bentuk qashr dari kata al-da’wâ (الدعوى), seperti dalam firman Allah Swt.: وآخر دعواهم . Tentang artinya, menurut Ibn Hajar du’a memiliki beragam arti, antara lain: al-thalab (permintaan), dan berdu’a untuk mendapat sesuatu berarti dorongan untuk melaksanakan sesuatu tersebut. Da’awtu fulânan (دعوت فلانا) berarti aku telah meminta kepada seseorang, namun bisa pula berarti memohon pertolongan dari orang tersebut. Du’a juga bisa berarti menghilangkan ketentuan, seperti firman Allah Swt.: ليس له دعوة في الدنيا ولا في الآخرة (Tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat). Selain itu, du’a juga dimutlakkan pada arti ibadah. Namun Ibn Hajar pun mengutif pendapat al-Ragib bahwa kata du’a bisa diartikan sebagai nama, seperti firman Allah Swt.: لا تجعلوا دعاء الرسول بينكم كدعاء بعضكم بعضا (Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain).
Abu’ al-Qasim Al-Qusyairy dalam syarah “Al Asmâ` al Husnâ`”, sebagaimana dikutif oleh Ibn Hajar berpendapat bahwa du’a memiliki banyak arti dan masing-masing arti mempunyai makna tertentu.
Pertama: Dengan makna “ibadat.” Seperti dalam firman Allah SWT:
ولا تدع من دون الله مالاينفعك ولا يضرّك (يونس: 106)
“Dan janganlah kamu berdu’a, kepada selain Allah, yaitu kepada sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfa’at kepadamu dan tidak kuasa pula mendatangkan mudlarat kepadamu.” (Q.S, 10:106 )
Yang dimaksud dengan “berdu’a” dalam ayat ini ialah “beribadat” (mengadakan penyembahan). Yakni janganlah kamu ibadat (menyembah) selain kepada Allah, yaitu sesuatu yang tidak kuasa memberikan manfa’at kepadamu dan tidak kuasa pula mendatangkan madhârat kepadamu
Kedua: Dengan makna “istigâtsah” (memohon bantuan dan pertolongan). Seperti dalam firman Allah SWT:
وادعوا شهداءكم (البقرة: 23)
“Dan mendo’alah kamu (mintalah bantuan) kepada orang-orang yang dapat memberimumu pertolongan dari teman-temanmu.” (Q.S. 2: 23)
Yang dimaksud dengan “du’a” dalam ayat di atas ialah “istigâtsah” (meminta bantuan, atau pertolongan)
Ketiga: Dengan makna “permintaan” atau “permohonan” seperti dalam firman Allah SWT:
ادعوا ني استجب لكم (المؤمن: 60)
“Mohonlah (mintalah) kamu kepada-Ku, nisaya akan Aku perkenankan permohonan (permintaan) kamu itu.” (Q.S. 48: 60)
Yang dimaksud dengan perkataan “du’a” di dalam ayat ini ialah, “memohon” atau “meminta” Yakni, mohonlah kepada-Ku, maka niscaya akan Aku perkenankan permohonan kamu itu.
Keempat: Dengan makna “percakapan”. Seperti dalam firman Allah Swt.:
دعواهم فيها سبحانك اللهمّ (يونس: 10)
“Do’a (percakapan) mereka didalamnya (syurga), ialah; Subhanaka Allahumma (Maha suci Engkau wahai Tuhan).” (Q.S. 10:10).
Kelima: Dengan makna “memanggil” seperti dalam firman Allah Swt.:
يوم يدعوكم
“Pada hari, dimana Ia mendo’a (memanggil) kamu.”
Yakni, pada suatu hari, dimana Ia (Tuhan) menyeru (memanggil) kamu.
Keenan: Dengan makna “memuji”. Seperti dalam firman Allah SWT.:
قل ادعوالله أودعواالرحمن (الإسراء: 110)
“Katakanlah olehmu hai Muhammad: mendu’alah (pujilah) akan Allah atau mendo’alah (pujilah), akan Ar Rahman (Maha banyak rahmatNya).” (Q.S. 17: 110).
Yang dimaksud dengan “du’a” di dalam ayat ini, ialah “memuji”. Yakni, pujilah oleh mu Allah atau pujilah olehmu Ar Rahman.
B. Faidah Berdu’a
Apabila diperhatikan dengan seksama, hadits-hadits yang menjadi bahan kajian penulis ini, ternyata memuat firman Allah Swt.
ادعوني استجب لكم, إنّ الّذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنّم داخرين (المؤمن: 60)
“Berdu’alah kamu kepada-Ku, pasti Aku akan memperkenankan permohonan kamu itu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah Aku akan masuk neraka jahanam dengan cara yang sangat hina dina.” (Q.S. 40:60)
Ayat di atas secara tegas menekankan pentingnya du’a bagi seorang hamba, karena merupakan salah satu perintah Allah, dan sekaligus merupakan ancaman bagi orang-orang yang bersikap sombong, yang di antaranya adalah orang yang tidak mau berdu’a kepada-Nya. Dengan kata lain, orang yang banyak berdu’a akan mulia, sebaliknya orang yang tidak mau berdu’a akan menjadi hina dina. Hal itu sesuai pula dengan sabda Rasulullah Saw.
ليس شيئ اكرم على الله عزّ وجلّ من الدعاء فى الرخاء (راه الحاكم)

“Tidak ada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah, selain dari pada “berdu’a” kepadaNya, sedang kita dalam keadaan lapang.” (H.R. Al-Hakim).
Dengan demikian, jelaslah bahwa du’a memiliki kedudukan sangat penting dan faidah yang sangat banyak. Berkaitan dengan masalah faidah du’a ini, Imam Al-Ghazali sebagaimana dikutif oleh Hasbi Ash-Shiddieqie berpandangan bahwa du’a walaupun tidak dapat menolak qadla Tuhan, namun akan melahirkan sikap khudlu’ dan hajat kepada Allah. Apalagi bila diingat, bahwa menolak bala` dengan du’a termasuk qadla Allah juga. Tegasnya, du’a itu menjadi salah satu sebab bagi tertolaknya bencana (sebagai perisai untuk menangkis bencana) dan laksana air yang menjadi sebab keluarnya tumbuh-tumbuhan dari bumi. Bukankah Allah sendiri menyuruh hamba-Nya untuk mempergunakan senjata, dalam menolak musuh yang datang.
Allah Swt. berfirman:
وليأخذوا حذرهم وأسلحتهم (النساء:102)
“Maka hendaklah mereka siapkan pengawalan dan alat senjata mereka.” (Q.S. 4:102).
Dengan kata lain, du’a bisa diibaratkan sebagai senjata untuk menolak berbagai bencana dan sekaligus merupakan alat untuk mendatangkan kemaslahatan. Sebab, hanya Allah sajalah yang akan mampu menolak berbagai macam bencana dan mendatangkan kemaslahatan bagi hamba-Nya, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah saw.:
ينجيكم من اعدائكم ويدرّ لكم ارزاقكم
“Tuhanlah yang melepaskan kamu dari bencana-bencana yang disebabkan oleh musuh-musuhmu dan dia pulalah yang mencurahkan rezeki kepada kamu sekalian.” (H.R. Abu Ya’la).
Lebih lanjut tentang faedah-faedah du’a tersebut Hasbi Ash-Shiddieqie menuturkan sebagai berikut:
1. Menghadapkan muka kepada Allah dengan tadlarru’.
2. Mengajukan permohonan kepada Allah yang memiliki perbendaharaan yang tidak akan habis-habisannya.
3. Memperoleh naungan rahmat Allah.
4. Menunaikan kewajiban ta’at dan menjauhkan maksiat.
5. Membendaharakan sesuatu yang diperlukan untuk masa susah dan sempit.
6. Mememperoleh kesukaan Allah.
7. Memperoleh hasil yang pasti. Karena tiap-tiap du’a itu dipelihara dengan baik di sisi Allah. Maka adakalanya permohonan itu dipenuhi dengan cepat dan adakalanya dibendaharakan untuk hari akhir.
8. Melindungi diri dari bala bencana.
9. Menolak bencana atau meringankan tekanannya.
10. Menjadi perisai guna menolak bala.
11. Menolak tipu daya musuh, menghilangkan kegaduhan dan menghasilkan hajat serta memudahkan kesukaran.

C. Berdu’a Hanya kepada Allah
Telah disinggung di atas bahwa du’a termasuk salah satu tugas agama yang sangat penting dan berkedudukan sangat mulia. Du’a pun bisa dipandang sebagai pintu yang besar di antara pintu-pintu ibadat yang lain, dalam memperhambakan diri kepada Allah dan memperlihatkan ketundukkan jiwa kepada-Nya. Tidak mengherankan jika ada hadits yang menyatakan:
الدعاء مخ العبادة (رواه الترمذي)
“Du’a itu, adalah otaknya ibadat.” (HR. Turmudzi)
Terlepas dari kontroversi tentang kedudukan dan kualitas hadits di atas, du’a dipandang sebagai otaknya ibadat karena ia merupakan bentuk ibadat yang jelas sekali memperlihatkan unsur perhambaan kepada Allah dan sangat berhajatnya hamba kepada-Nya, sehingga terwujudlah posisi bahwa Allah adalah tempat meminta dan tempat memohon, sedangkan si hamba adalah makhluk yang hina dina dan selalu dalam kekurangan .
Dengan demikian, sangatlah tidak layak jika seorang hamba menghadapkan du’anya kepada selain Allah. Larangan ini jelas sekali dinyatakan dalam al-Qur`an:
ولاتدع من دون الله مالاينفعك ولا يضرّك فإن فعلت فإنّك اذا من الظالمين (يونس: 106)
“Dan janganlah kamu mendu’a kepada selain Allah, yaitu sesuatu yang tidak dapat mendatangkan manfa’at kepadamu dan tidak pula mendatangkan mudlarat; maka jika engkau perbuat juga, sesungguhnya engkau kalau begitu termasuk orang-orang yang menganiaya diri sendiri.” (Q.S. 10:106)
Ayat di atas jelas sekali merupakan larangan Allah Swt. kepada hamba-Nya agar tidak memohon kepada selain Allah, sebab hal itu tidak ada gunanya, bahkan sebaliknya jika seorang hamba berdu’a kepada selain Allah Swt., maka hamba tersebut telah menganiaya dirinya sendiri.
Dalam ayat lain ditegaskan pula bagaimana besar dan tingginya kekuasan Allah Swt. dalam mengatur hamba-Nya, baik dalam memberikan kemadaratan maupun kemashlahatan bagi hamba-Nya:
وأن يمسسك الله بضرّ فلاكاشف له إلاّ هو وإن يردك بخير فلارادّ لفضله, يصيب به من يشاء من عباده, وهو الغفور الرحيم (يونس: 107)
“Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudlaratan kepada engkau, maka pastilah tiada seseorangpun yang sanggup menghilangkannya kecuali Dia sendiri, dan jika dicurahkan-Nya sesuatu kebijakan kepada engkau, maka tidak pula seseorangpun yang dapat menghambat kurnia yang dilimpahkan-Nya itu; Maka ditimpakan-Nya kemudlaratan dan kurnia itu kepada siapa saja yang dikehendaki dari hamba-hamba-Nya. Dia, Mahapengampun lagi Mahapengasih.” (Q.S.10: 107).
Sayang sekali, sebagian manusia telah lupa tentang kedudukan du’a sebagai otak ibadat. Oleh karena itu, tidaklah mengherangkan apabila banyak di antara hamba Allah Swt. yang telah sesat, yakni menghadapkan du’a kepada selain Allah untuk memenuhi hajat mereka. Padahal dalam Islam sangatlah jelas bahwa seorang hamba dibolehkan untuk meminta tolong kepada seseorang (selain Allah) hanyalah dalam kapasitas ikhtiar, yakni sesuatu yang tidak sanggup untuk dilakukan oleh hamba tersebut. Misalnya, meminta pertolongan dokter untuk mengobati sesuatu penyakit. Namun demikian, harus tetap berkeyakinan bahwa penyembuh sebenarnya (secara hakikat) hanyalah Allah Swt. Oleh karena itu, disamping ikhtiar tersebut, hendaklah seorang hamba berdo’a kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya, yakni kepada sumber penolong. Dan du’a itu sendiri merupakan salahsatu bagian dari bentuk ikhtiar.
Pada sisi lain sesungguhnya Allah Swt. sangat senang apabila diminta, sebab Dia Maha Kaya, dan Kekayaan-Nya tidak akan pernah habis walaupun terus menerus diminta. Oleh karena itu, jika seorang hamba terus-menerus berdu’a dan tidak pernah merasa bosan, maka Allah Swt. pun dipastikan akan memper-kenankannya, dan Dia sangat senang apabila diminta terus-menerus. Nabi Muhammad Saw. bersada:
سلوا الله من فضله فإنّ الله يحبّ أن يسأل (رواه التردذى وأبو نعيم)
Mintalah kalian kepada Allah dari anugerah-Nya. Sesungguh-Nya Allah senang (jika) senantiasa diminta. (HR. Turmudzi dan Abu Nu’aim)
Sebaliknya, Allah swt. membenci orang yang tidak suka berdu’a, sebab orang yang tidak mau berdo`a kepada Allah berarti tidak mau melaksanakan perintah Allah Swt. Mungkin saja orang tersebut telah merasa mampu dan kaya atas segala yang dimilikinya, sehingga Allah Swt. pun murka kepadanya. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Nabi Saw. Muhammad Saw.:
من لم يسأل الله يغضب عليه (رواه الترمذي)
Siapa saja yang tidak berdu’a keapda Allah, maka Allah murka kepadanya. (HR. Turmudzi)

D. Du’a dan Ikhtiar
Du’a bisa dipandang sebagai salahsatu sarana untuk mencapai suatu tujuan atau. Tentunya, setiap orang memiliki beragam keinginan dalam hidupnya, bahkan terkadang menginginkan sesuatu yang mustahil untuk bisa mencapainya. Seorang hamba tentu saja tidak boleh memohon sesuatu yang jauh berada dalam jangkauannya dan sangat mustahil untuk bisa dicapai berdasarkan akal yang sehat.
Namun demikian, suatu keinginan yang mungkin bisa dicapaikan pun tidak boleh hanya mengandalkan du’a saja, tetapi ia pun harus berusaha untuk mencari illat atau sebab yang akan meluluskan keinginannnya tersebut. Sebab, dengan tidak berusaha untuk mewujudkan sebab-sebab dan illat-illat itu, samalah halnya dengan seseorang yang hendak sampai ke suatu tujuan tetapi tidak berusaha melangkahkan kaki melalui jalan yang harus dilaluinya.
Dengan kata lain, seorang hamba harus memiliki persepsi bahwa du’a merupakan ikhtiar spiritual dan penyemangat untuk mencapai tujuannya atau apa yang dicita-citakannya. Berbarengan dengan du’a, seorang hamba harus berusaha sekuat tenaga untuk mencari illat atau penyebab yang akan menghantarkannya untuk mencapai apa yang diinginkannya, sebab Allah Swt. tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga kaum itu sendiri yang harus merubah sasibnya, sebagaiman dinyatakan dalam al-Qur`an:
إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم (الرعد: 11)
Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri (QS. Al-Ra’du: 11).
Hemat penulis, ayat tersebut jelas sekali menyuruh manusia untuk berikhtiar atau mencari berbagai penyebab yang akan menghantar pada suatu perubahan seseorang, sesuai dengan apa yang diinginkannya.
Dalam konteks ini, du’a bisa dipandang sebagai kepercayaan teguh dan harapan yang sangat dalam, bahwa Allah akan menjauhkan segala halangan-halangan yang akan menghalangi untuk tercapainya suatu maksud. Oleh karena itu, seorang hamba harus memiliki keyakinan yang teguh bahwa Allah Swt. akan memberikan petunjuk-petunjuk tentang sebab-sebab atau illat, baik yang nyata maupun yang tersembunyi untuk untuk kelancaran apa yang dinginkannya. Dalam hadits Qudsi dinyatakan:
إنّ الله عزوجل يقول: أنا عند ظنّ عبدي بي وأنا معه اذا دعانى (رواه البخاري ومسلم)
Sesungguhnya Allah Azza Wajalla berfirman (dalam hadits Qudsi): Aku akan mengikuti sangkaan-sangkaan hamba-Ku. Dan Aku akan selalu menyertainya apabila ia berdo`a kepada-Ku. (HR. Bukhari dan Muslim)
Tentunya, usaha seorang hamba dalam batas-batas berkaitan dengan sebab-sebab dan illat-illat masih dapat diusahakan dan memang mampu untuk mengusahakannya. Namun, ketika seorang hamba telah lemah dan tidak sanggup lagi mengusahakannya, tetap ia berdu’a dan menyerahkan diri kepada kekuasaan Allah.

E. Du’a dan Wasilah
Diatas telah disinggung bahwa Imam Turmudzi dan Imam al-Hakim sebagaimana dikutf oleh al-Manni telah meriwayatkan sebuah hadits yang menyatakan bahwa umat zaman. dahulu senantiasa menggantungkan du’a mereka kepada Nabi, kemudian Nabi tersebut yang berdu’a kepada Allah Swt., sementara umat sekarang diberi keistimewaan untuk berdu’a langsung kepada Allah. Hadits tersebut berderajat Hasan Shahih menurut versi Imam Turmudzi, sedangkan menurut Imam Hakim berderajat Shahih.
Hadits tersebut bisa dijadikan salah satu acuan bahwa seorang hamba hendaklah berdu’a secara langsung kepada Allah Swt. dan tidak dibolehkan memakai “wasielah”, yakni memakai “perantaraan”, apalagi jika memakai perantara orang yang sudah meninggal atau benda. Memang benar, menurut pendapat sebagian ulama dibolehkan untuk menggunakan “wasilah” dengan orang yang masih hidup atau dengan amal shaleh.
Namun demikian, menurut pendapat Hasbi Ashiddieqie apabila diperhatikan dengan seksama, ternyata para Nabi, para Rasul-Rasul dan para Shahabat senantiasa berdu’a secara langsung kepada Allah Swt., tanpa memakai sesuatu “perantara” atau “wasithah” (orang ketiga yang mengetahui urusan). Oleh karena itu, hendaklah seorang hamba hendaklah menjauhi susunan lafazh-lafazh du’a, seperti:: “Dengan berkah krahmat si Anu, ….; Dengan berkah karamat Ka’bah-Allah, …; dengan berkah si Anu yang berkubur di kuburan, …, dan lain-lain sebagainya.”
Cara-cara seperti itu tentunya tidaklah sesuai dengan du’a-du’a yang telah diajarkan oleh Nabi untuk dijadikan wirid, dan terdapat dalam kitab-kitab yang mu’tabar. Sayang sekali, tidak sedikit du’a-du’a yang telah disusun oleh sekelompok orang (jema’ah), baik berupa seruan, permohonan, permintaan untuk menolak sesuatu bencana yang dihadapkan kepada Rasul atau kepada seseorang yang dipandang keramat. Tidak mengherankan, jika di dalam masyarakat berkembang berbagai macam buku du’a dan tawassul, seperti: Tawasulat Ahmadiyah, Barhamiyah, Qadariyah dan lain-lain. Kitab-kitab tersebut, menurut tinjauan ulama-ulama tauhied yang kenamaan, tidak boleh diamalkan, karena mengandung susunan kata-kata yang membawa kepada kekafiran. Tentu saja, ummat Islam wajib menjauhinya, sebab dikhawatirkan du’a seperti itu akan membawa seseorang kepada kekufuran.
Wasilah dalam berdu’a ini termasuk problematika berdu’a yang kontroversial di kalangan para fakar du’a.

F. Fungsi Du’a
Du’a yang dilakukan oleh seorang hamba mengandung beberapa fungsi dalam hidup dan kehidupannya. Diantara fungsi du’a tersebut adalah:
1. Du’a sebagai pencerminan kehambaan makhluk di hadapan Khâlik
Abu Hurairah meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَسْأَلْ اللَّهَ يَغْضَبْ عَلَيْهِ (رواه الترمذي)
“Siapa Saja tidak memohon kepada Allah Swt., maka Dia murka kepadanya” (HR. Turmudzi)
2. Du’a merupakan salahsatu bentuk Ibadah, karena merupakan perintah dari Allah Swt..
Dalam Salah satu haditsnya Rasulullah Saw. bersabda:
عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي قَوْلِهِ (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) قَالَ الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ وَقَرَأَ ( وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ) إِلَى قَوْلِهِ ( دَاخِرِينَ ) قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ (رواه الترمذي)
Diterima dari Nu’mân bin Basyîr dari Nabi Muhammad Saw. berkaitan dengan firman Allah Swt.: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ), beliau bersabda: “Du’a adalah ibadah”, kemudian beliau membaca ayat: (وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ) sampai firman-Nya (دَاخِرِينَ). Menurut Abu Isâ: “Derajat Hadits tersebut adalah Hasan Shahih
3. Du’a sebagai proses solusi problem kehidupan baik spiritual maupun material
Dalam riwayat Anas r.a Rasulullah Saw. bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِيَسْأَلْ أَحَدُكُمْ رَبَّهُ حَاجَتَهُ كُلَّهَا حَتَّى يَسْأَلَ شِسْعَ نَعْلِهِ إِذَا انْقَطَعَ (رواه البخاري)
“Hendaklah setiap orang dan kalain memohon segala kebutuhan kepada Tuhan-Nya. sampai ia memohon kepad Tuhan tatkala tali sandalnya putus”
4. Du’a sebagai pengendali pusat gerak spiritual yang merupakan refleksi lahir melalui dzikir dan Do’a.
5. Du’a sebagai bagian dari “qadar” yang telah ditetapkan bagi seseorang

Tsauban pernah meriwayatkan hadits dari Rasulullah Saw.:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزِيدُ فِي الْعُمْرِ إِلَّا الْبِرُّ وَلَا يَرُدُّ الْقَدَرَ إِلَّا الدُّعَاءُ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ (ابن ماجة)
Rasulullah Saw. bersabda: “Umur seseorang tiadak bertambah kecuali dengan melakukan kebaikan, Qadar yang akan menimpa seseorang tidak bisa ditolak keculai dengan du’a, dan kebaikan akan diharamkan kepada seseorang karena dosa yang dilakukannya.

BAB III

DASAR DAN SUMBER DU’A

A. Dasar Hukum Berdu’a
1. Dalil dari al-Qur`an
a. Firman Allah Swt., dalam surat al-A’râf: 55-56
ادعوا ربّكم تضرّعا وخفية إنّه لايحبّ المعتدين. ولا تفسدوا فى الأرض بعد اصلاحها وادعوه خوفا وطمعا. إنّ رحمت الله قريب من المحسنين (الاعراف: 55-57)
“Mohonlah (berdo’alah) kamu kepada tuhanmu dengan cara merendahkan diri dan suara halus. Sesungguhnya Allah tiada menyukai orang-orang yang melampaui batas; Dan janganlah kamu berbuat kebinasaan di bumi (masyarakat) setelah ia baik; dan mohonlah (mendo’alah) kamu kepada Allah dengan rasa takut dan tamak (sangat mengharapkan); bahwasannya rahmat Allah itu sangat dekat kepada orang-orang yang ihsan (iman kepada Allah dan berbuat kebajikan). (Q.S. 7: 55)

b. Firman Allah Swt. dalam surat al-Baqarah: 186.
واذا سألك عبادى عنّى فإنّى قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوالى وليؤمنوابي لعلّهم يرشدون (البقرة:186)
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka sesungguhnya Aku sangat dekat (kepada mereka), Aku perkenankan do’a-do’a orang-orang yang mendo’a apabila ia memohon (mendo`a) kepada-Ku. Oleh karena itu, maka hendaklah mereka memenuhi (seruan) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, mudah-mudahan mereka mendapat petunjuk.” (Q.S.2:186)
c. Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mu`min: 60
وقال ربّكم ادعونى استجب لكم (المومن: 60)
“Dan Tuhan kalian berfirman: “Memohonlah (mendo’alah) kepadaku, maka akan aku perkenankan permohonan (do’a) mu itu.” (Q.S. 40: 60)
d. Firman Allah Swt. dalam Surat al-A’raf: 180
ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها (الأعراف: 180)
“Dan Allah mempunyai nama-nama yang sangat indah (Al Asma‘ul Husna), maka mohonlah kamu kepada-Nya dengan (menyebut) nama-nama itu”. (Q.S. 7:180)

e. Firman Allah Swt. dalam Surat al-Mu’min: 65
هو الحيّ لاإله إلاّ هو فادعوه مخلصين له الدّين الحمد لله ربّ العالمين (المؤمن: 65)
“Tuhan adalah Dzat Yang hidup, tiada Tuhan melainkan Dia, maka mendo’alah kepada-Nya. Segala puji itu kepunyaan Allah, Tuhan yang memelihara seluruh alam”. (Q.S, 40:65)

2. Sunnah
Di antara sabda Rasulullah Saw. yang bisa dijadikan sebagai landasan berdu’a adalah hadits-hadits Rasulullah. berikut:
الدعاء هو العبادة (رواه الترمذي)
“Doa itu ‘ibadat”. (H.R. At Turmudzy).
من فتح له باب الدعاء فتحت له أبواب الرحمة. وما سئل الله تعالى شيئا أحبّ إليه من أن يسأل العافية, وإنّ الدعاء ينفع ممّا نزل وممّا لم ينزل ولا يردّ القضاء إلاّ الدعاء (رواه الترمذي)
“Barang siapa dibukakan pintu du’a untuknya, berarti telah dibukakan pula baginya berbagai pintu rahmat. Dan tiada dimohonkan kepada Allah, yang lebih disukai-Nya selain dari pada dimohonkan ‘afiyah. Du’a itu memberikan manfa’at terhadap apa yang telah diturunkan dan yang belum diturunkan. Dan tak ada yang dapat menangkis ketetapan Tuhan, kecuali du’a. Oleh sebab itu, hendaklah kamu sekalian berdu’a.” (H.R. At Turmudzy)
ما على الأرض مسلم يدعو الله تعالى بدعوة إلاّ اتاه إياه أو صرف عنه من السوء مثلها مالم يدع ياثم أو قطيعة رحم (رواه الترمذي)
“Tiap Muslim di muka bumu yang memohon suatu permohonan kepada Allah, pastilah permohonannya itu dikabulkan Allah, atau dijauhkan Allah dari padanya suatu kejahatan, selama ia mendo’akan sesuatu yang tidak membawa kepada dosa atau memutuskan kasih sayang.” (H.R. At Turmuzy)
Apabila ayat-ayat dan hadits-hadits Nabi Saw. yang telah disebutkan di atas diperhatikan dengan seksama dan dengan segala keinsafan maka nyatalah bagi kita, bahwa berdu’a merupakan salah satu perintah Allah Swt. kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, jelas sekali bahwa du’a adalah ‘ibadat.
M. Quraish Shihab, ketika menafsirkan dua ayat berikut:
قُلْ مَا يَعْبَأُ بِكُمْ رَبِّي لَوْلَا دُعَاؤُكُمْ فَقَدْ كَذَّبْتُمْ فَسَوْفَ يَكُونُ لِزَامًا
Katakanlah, “Tuhanku tidak menghiraukan kamu seandainya tidak ada doamu” (Q.S. Al-Furqan [25]: 77).
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang angkuh beribadah kepada-ku akan masuk Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina” (QS Al-Mu’Mu’min [40]:60).
Berpendapat bahwa yang dimaksud “beribadah” dalam ayat di atas adalah berdu’a. Di sisi lain, terdapat pula firman-Nya dalam QS Al-A’raf (7): 29, berdoalah kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya. Kata “berdu’alah” di sini bermakna “beribadahlah kepada-Nya”. Demikian ibadah dan doa, dua kata yang berbeda, tetapi yang satu sering digunakan untuk makna yang lain. Itu wajar, karena doa adalah mukhkh al-‘ibadah, yakni saripati ibadah, demikian sabda Nabi Saw. sebagai diriwayatkan oleh Al-Tirmidzi.
Lebih lanjut menurut M. Quraish Shihab bahwa wujud Tuhan yang mutlak dan dirasakan oleh jiwa manusia serta keyakinan akan adanya hukum-hukum alam yang ditetapkan-Nya, tidak boleh mengantar manusia untuk mengabaikan doa. Sebab, keberlakuan hukum-hukum itu tidak mengakibatkan terbebasnya Tuhan dari perbuatan dan kebijaksanaan-Nya. Apakah Anda menduga bahwa Allah seperti pabrik yang memproduksi “jam” kemudian membiarkan berjalan secara otomatis di tangan Anda? Jangan, jangan menduga demikian! Ada sunnatullah (hukum-hukum Allah yang mengatur alam raya) dan ada juga ‘inayatullah (pertolongan-Nya yang tidak kalah dari Sunnah-Nya. Inayah-Nya itu ditunjukannya kepada mereka yang benar-benar berdoa kepada-Nya.
Selain itu, manusia adalah makhluk yang memiliki naluri cemas dan mengharap. Dia selalu membutuhkan sandaran, lebih-lebih pada saat cemas dan harapan itu menimpa dirinya. Kenyataan sehari-hari membuktikan bahwa, bersandar kepada makhluk–betapapun kuat dan kuasanya dia–sering kali tidak membuahkan hasil. yang mampu memberi hasil hanyalah Tuhan semata. Allah Swt. berfirman, yang kamu seru selain Allah tidak memiliki apa-apa walau setipis kulit ari sekalipun, jika kamu meminta kepada mereka, mereka tidak mendengar permintaanmu dan kalaupun mereka mendengar, mereka tidak dapat memperkenankan (QS Fathir [35]: 13-14).
Orang yang berdu’a hendaknya yakin bahwa Allah Swt. dekat dan memperkenankan permohonan hamba-hamba-Nya yang tulus, sebagaimana firman-Nya, “Jika hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Hai Muhammad) tentang aku, (jawablah) sesungguhnya Aku dekat. Aku perkenanka du’a orang yang berdu’a apabila dia berdu’a”. Maka, hendaklah dia memperkenankan (panggilan)-Ku dan percaya kepada-Ku (QS Al-Baqarah [2]: 186).
Kalimat “Jawablah” tidak terdapat dalam teks ayat di atas. Kata tersebut saya cantumkan dalam terjemahan hanya untuk memudahkan pengertian kita. Tidak disebutkannya kalimat tersebut dalam ayat di atas, walaupun Rasul Saw. diperintahkan untuk menjawab pertanyaan mereka, mengandung banyak makna, kalimat ini sengaja ditiadakan oleh Tuhan-tidak seperti jawaban-jawaban-Nya atas pertanyaan-pertanyaan lain yang selalu dibarengi dengan kata “qul” (Jawablah). Ulama Al-Quran mengatakan bahwa ditiadakannya (kalimat) “jawablah” di sini untuk mengisyaratkan bahwa Anda dapat langsung berdoa kepada-Nya, tanpa perantara.
Kalimat “orang yang berdoa apabila dia berdoa” menunjukkan bahwa boleh jadi ada orang yang bermohonan kepada-Nya, tetapi belum lagi dinilai-Nya berdoa. Ayat di atas juga mengisyaratkan bahwa yang pertama dan utama dituntut dari setiap orang yang berdoa adalah, “memperkenankan panggilan Allah (melaksanakan ajaran agama)”. Karena itu pula, ada sebuah hadis Nabi Saw. yang menguraikan keadaan seseorang yang menengadah ke langit sambil berseru, “Tuhanku, Tuhanku! (perkenankan doaku)’, tetapi makanan yang dimakannya haram, pakaian yang dikenakannya haram, maka bagaimana mungkin dikabulkan doanya?”
Selanjutnya, ayat di atas memerintahkan agar orang yang berdoa niscaya percaya kepada-Nya. Ini bukan saja dalam arti mengakui keesaan-Nya, tetapi juga percaya bahwa Dia akan memilihkan yang terbaik untuk si pemohon. Dia tidak akan menyia-nyiakan doa itu. Akan tetapi, boleh jadi Allah Swt. memperlakukan si pemohon seperti seorang ayah kepada anaknya; sesekali memberi sesuai permintaannya, di kali lain diberikannya sesuatu yang lain dan lebih baik dari yang diminatinya. Tidak jarang pula Allah Swt. menolak permintaannya, tetapi memberikannya sesuatu yang lebih baik di masa mendatang, kalau tidak di dunia, maka di akhirat. Demikian Al-Qur’an menegaskan. Karena itu pula, Rasul Saw. bersabda, “Berdoalah kepada Allah disertai dengan keyakinan penuh bahwa Allah akan memperkenankan (doamu).”
Inna Rabbi qaribun mujib (Sesungguhnya Tuhanku amat dekat, dan memperkenankan [doa hamba-hamba-Nya]), demikian ucap Nabi Shaleh as. yang dibenarkan dan diabadikan Allah Swt. dalam (QS Hud [11]: 61). Karena itu, kita tidak perlu berteriak mengeraskan suara ketika berdoa. Berdu’alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas (QS Al-A’raf [7]: 55). Tidak mustahil termasuk dalam pengertian “melampaui batas kewajaran” adalah berkeras-keras dalam berzikir dan berdoa sehingga mengganggu orang lain yang masih ditoleransi Allah Swt. untuk tidur beberapa saat sebelum terbitnya matahari. Bukankah ada orang yang karena berbagai sebab yang dibenarkan agama, baru tidur setelah larut malam, atau karena kesulitan akibat penyakit yang dideritanya? Dan berzikirlah/sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai (QS Al-A’raf [7] :205).
Dalam surah yang sama Allah mengingatkan dan memperingatkan bahwa Dia adalah Ni’ma al-mûjibun (sebaik-baik yang memperkenankan) (QS Al-Shaffat [37]: 75).
Sebagai Al-Mujib, Allah Swt. adalah Dia yang menanggapai permohonan hamba yang membutuhkan bantuan-Nya, menerima doa hamba yang berdu’a dengan memperkenankan-Nya, dan memenuhi desakan orang yang terdesak dengan memberi kecupan dari sisi-Nya. Bahkan, Dia menganugerahkan sesuatu sebelum hamba yang mengharapkannya bermohon. Dan, jangan lupa, bahwa Allah Swt. marah jika hamba-Nya enggan berdoa. Perhatikanlah ayat yang dicantumkan pada awal uraian ini dan camkan juga firman-Nya, Maka mengapa mereka tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang siksaan kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan setan pun menampakkan kepada mereka sebagai indah apa yang selalu mereka kerjakan (QS Al-An’am [6] : 43).
Permohonan adalah permintaan yang ditujukan oleh orang yang sadar (berakal). Permohonan muncul karena kesadaran akan adanya kebutuhan sehingga apa yang dibutuhkan itu disampaikan kepada siapa yang diharapkan dapat memenuhinya. Cara untuk menyampaikannya dapat berbentuk ucapan, isyarat, dan lain-lain, bahkan keadaan yang kita alami pun dapat menunjukkan kebutuhan dan menjadi permohonan.
Sifat Allah Swt. sebagai Al-Mujib berfungsi saat permohonan diajukan kepada Allah, atau ketika lahir kebutuhan makhluk-Nya. Ketulusan, prasangka-baik kepada Allah, percaya penuh kepada-Nya, dan keyakinan akan kebenaran janji-janji-Nya, adalah kunci yang tulus, setan meraih perkenan-Nya. Jangkankan seorang Mukmin yang tulus, setan pun dikabulkan Tuhan doanya ketika ia bermohon untuk dipanjangkan usianya hingga Hari Kebangkitan (baca QS Al-A’raf [7]: 14-15). Memang, pengabulan du’a tidak selalu harus dikaitkan dengan keimanan. “Hati-hatilah terhadap du’a orang yang teraninya, walau dia kafir, karena tidak ada pembatas antara dia (du’anya) dengan Allah,” demikian sabda Nabi Saw. Hanya, harus disadari bahwa pengabulan tersebut berkaitan dengan kemaslahatan si permohonan. Karena itu, pengabulan doa dapat terjadi dengan segera dan sesuai dengan yang dimohonkan, dan dapat juga ditunda atau diganti dengan sesuatu yang lebih baik bagi si pemohon.

B. Macam-Macam Sumber Du’a
Sumber Du’a di dalam Agama Islam adalah:
1. Du’a yang bersumber dari al-Qur’an.
Du’a yang bersumber dari al-Qur’an baik berupa du’a yang pernah diungkapkan oleh para nabi ataupun redaksinya langsung dari al-Qur’an.
a. Du’a dalam al-Qur’an yang redaksinya langsung diajarkan oleh Allah. Di antaranya adalah du’a untuk mendu’akan kedua orang tua:
رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا (الإسراء: 24)

“Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”. (QS. Al-Isrâ: 24)
b. Du’a Para Nabi yang diberitakan kembali dalam al-Qur’an. Di antaranya adalah du’a minta ampun nabi Adam:
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ (الأعراف: 23)
“Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (QS. Al-A’raf: 23)
c. Melaksanakan Perintah Berdu’a Secara Eksplisit dalam bentuk perintah kemudian diredaksikan dalam bentuk du’a oleh penerima perintah du’a.
Contoh redaksi perintah Allah dalam al-Qur’an:
فَإِذَا قَرَأْتَ الْقُرْءَانَ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيم (الم\نحل: 98)
Apabila kamu membaca Al Qur’an, hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk. (QS. Al-Nahl: 98)ِ
d. Melaksanakan perintah berdu’a dengan al-Asmâ al-Husna
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا (الأعراف: 180)
Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu (Qs. Al-A’raf: 18))

2. Du’a yang bersumber dari pewarisan para nabi sepanjang zaman yang sudah menyebar dan sudah menjadi ‘urf Sharfain.
Di antaranya du’a yang bersumber dari pewarisan nabi Muhammad Saw., artinya semua redaksi du’anya telah dicontohkan oleh nabi Muhammad sendiri, dan contoh-contoh du’a ini secara lengkap sudah dikodifikasi secara pertama kalinya oleh Ibnu Sunni dalam karya monumentalnya “Amal al-Yaum wa al-Lailah”, yang memuat du’a-du’a nabi Muhammad mulai tidur sampai tidur lagi (siang malam). Pengkodifikasi lain adalah Imam Nawawi dalam kitab “al-Adzkar”. Di antara contoh yang populer adalah bacaan tasbih, tahmid, tahlil, takbir dan hamdalallah. Kelima kalimat du’a tersebut disebut afdhal al-kalâm.
3. Du’a yang bersumber dari hasil ijtihad yang substansinya diturunkakn dari rujukan al-Qur’an al-Sunnah Nabwiyah.
Substansi du’a diturunkan dari semangat al-Qur’an dan atau semua tels-teks du’anya diturunkan dari semangat al-Hadits/al-Sunnah berdasarkan ilham. Wujud teksnya biasanya berupa shalawat dan du’a-du’a memohon keselamatan dan terhindar dari kemadharatan.
4. Du’a yang bersumber dari ilham melalui kalangan muqarrabîn (hamba-hamba Allah yang dekat dengan-Nya) atau para ahli Sufi yang dikenal dengan istilah metode al-barzakhi.
5. Du’a yang bersumber dari ta’lim antara ruh dengan ruh para nabi melalui ta’bir mimpi (ru’yah shalihah). Secara fenomenal situasi seperti itu pernah diceritakan oleh Sulaiman an-Nabhani dalam bukunya “Af’al as-Shalawat”. Menurutnya, banyak redaksi shalawat yang diperolehnya melalui ta’lim dalam mimpi. Contoh lain, ada seorang ulama mimpi bertemu nabi dan nabi mengajarkan shalawat, dan shalawat ini dinamai “Shalawat Thib al-Qulub” Redaksinya adalah:
اللهم صل على سيدنا محمد طب القلوب ودوائها وعافية إلا بدان وصحتها ونور الأبصار وضياثها وعلى أله وصحبه وسلم
6. Para Sufi memiliki keyakinan bahwa cara mendapatkan du’a adalah dengan riyadhah yang ditujukakn untuk memperkecil unsur nasut (tabi’at insaniyah) dan memperbesar unsur lahut (tabi’at ruhaniyah Ilahiyah).

BAB IV

ADAB DAN PROSEDUR BERDU’A

A. Adab-adab Berdu’a
Menurut Hasbi Ash-Shiddieqie, adab-adab berdu’a telah dijelaskan oleh Al Ghazali dalam kitabnya “Ihya ‘Ulumuddin.” Maka apabila seseorang hendak mendu’a, memohonkan sesuatu yang dihajatkannya kepada Allah, hendaklah ia melakukan du’a itu sebaik-baik dan secermat-cermatnya, dengan memelihara adab-adab du’a, seperti di bawah ini.
1. Pada waktu yang baik dan mulia, seperti pada hari ‘Arafah, bulan Ramadlan, hari Jum’at, sepertiga yang akhir dari malam (tsulutsu al-akhir minal lail) dan pada waktu sahur.
2. Dalam keadaan yang mulia, seperti ketika bersujud dalam sembahyang, ketika berhadapan dengan musuh dalam pertempuran, ketika hujan turun, sebelum menunaikan sembahyang dan sesudahnya, ketika jiwa sedang tenang dan bersih dari segala gangguan syaithan dan ketika menghadap Ka’bah.
3. Dengan menghadap kiblat.
4. Merendahkan suara
5. Jangan bersajak, tetapi cukup dengan kata-kata biasa, sederhana, sopan dan tepat mengenai sesuatu yang dihajati. Dengan kata lain, dalam berdu`a dilakukan dengan irama-irama tertentu, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh penggubah-penggubah du’a dalam bahasa Arab. Dan sebaiknya memilih lafazh-lafazh du’a yang datang dari Rasulullah SAW.
6. Bersikap khusyu’ dan tadlarru’, yakni merasakan kebesaran dan kehebatan Allah dalam jiwa kita yang halus.
7. Mengokohkan kepercayaan bahwa du’a itu akan diperkenankan Allah dan tidak merasa gelisah jika du’a itu tidak diperkenankannya.
8. Mengulang-ulang du’a tersebut dua tiga kali, khususnya tentang do`a yang berkaitan dengan sesuatu yang sangat diutamakan atau diinginkan sekali.
9. Menyebut (memuji) Allah pada permulaannya.
10. Bertaubat sebelum berdu’a dan menghadapkan diri dengan sesungguhnya kepada Allah.
B. Tatacara Berdu’a
Menurut kebanyakan ulama, apabila seseorang mendu’a, hendaklah orang tersebut memahami do`a yang diucapakannya, baik dengan menggunakan bahasa Arab ataupun bahasa lain yang dikuasainya. Jika tidak menguasai bahasa Arab, hendaklah ia memuji Allah lebih dahulu, sekurang-kurangnya membaca.
الحمد الله ربّ العالمين
“Segala puji-pujian kepunyaan Allah. Tuhan sekalian alam.”
Sesudah itu membaca shalawat kepada Nabi, sekurang-kurangnya membaca:
وصلّى الله على محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم
“Wahai Tuhanku, besarkanlah olehMu akan Muhammad, akan keluarganya dan akan para shahabatnya dan berilah kesejahteraan kepada mereka sekalian.”
Sesudah itu barulah ia mulai berdu’an tentang apa yang diingingkannya. Sesudah itu membaca shalawat pula kembali, misalnya dengan redaksi shalawat sebagai berikut:

اللهم صلّ على محمّد وعلى اله وصحبه وسلّم كما صلّيت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم وبارك على محمّد وعلى ال محمّد, كما باركت على ابراهيم وعلى ال ابراهيم فى العالمين إنّك حميد مجيد
“Wahai Tuhanku beri shalawatlah kiranya kepada Muhammad dan kepada keluarganya Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Dan beri berkatlah kiranya kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim, dalam seluruh alam ini, sesungguhnya Engkau-lah yang Maha terpuji dan Maha mulia.”
Sesudah itu membaca “tahmied” (puji-pujian) kembali. Umpamanya dengan lafazh yang paling ringkas, seperti:
والحمد الله ربّ العالمين
“Dan segala puji-pujian, kepunyaan Allah, Tuhan seru sekalian alam.”
Setelah itu dilanjutkan dengan mendu’a menurut keperluannya dengan du’a-du’a yang ma’tsurat.

C. Waktu-waktu untuk Berdu’a
Menurut Ibnu ‘Atha’ sebagaimana dikutif oleh Hasbi Ash-Shiddieqie, bahwa du’a memiliki rukun, yaitu kehadiran hati bila berdu’a, serta tunduk menghinakan diri kepada Allah. Sedangkan sayap-sayapnya yang akan menjadikan du’a tersebut sampai di hadapan Allah Swt. adalah: berdu’a dengan sepenuh kemauan dan keikhlasan yang timbul dari lubuk jiwa dan bertepatan dengan waktunya. Di antara waktu-waktu yang dipadang baik untuk berdu’a, adalah:
1. Ketika turun hujan.
2. Ketika akan memulai sembahyang dan sesudahnya.
3. Ketika menghadapi barisan musuh dalam medan peperangan.
4. Ditengah malam.
5. Di antara adzan dan iqâmat.
6. Ketika ’itidâl yang terakhir dalam sembahyang.
7. Ketika sujud dalam sembahyang.
8. Ketika khatam (tamat) membaca Al Qur-an 30 Juz.
9. Sepanjang malam, utama sekali sepertiga yang akhir dan waktu sahur.
10. Sepanjang hari Jum’at, karena mengharap berusaha dengan saat ijâbah (saat diperkenankan du’a) yang terletak antara terbit fajar hingga terbenam matahari pada hari Jum’at itu.
11. Antara Dzhuhur dengan ‘Ashar dan antara ‘Ashar dengan Magrib.
Waktu-waktu tersebut antara lain didasarkan pada sabda Rasulullah Saw.:
ينزل ربّنا إلى السماء الدنياء حين بيقى ثلث اللّيل الآخر فيقول: من يدعونى فاستجيب له. من يسألنى فاعطيه, من يستغفرني فاغفرله
“(Rahmat) Tuhan kita itu, turun ke langit dunia, ketika malam telah tinggal sepertiga yang akhir. Maka berkatalah Tuhan: Siapa-siapa yang mendu’a kepadaKu, maka Aku perkenankan du’anya. Siapa yang minta apapun kepadaKu, maka Aku ampuni dia.” (H.A. Bukhary dan Muslim – Al Adzkar : 46).
إنّ فى الليل لساعة لايوافقها رجل مسلم يسأل الله خيرا من أمر الدنيا والأخرة إلاّ اعطاها إيّاها
“Pada waktu malam, sesungguhnya ada suatu saat, dimana jika seseorang Muslim memohon kepada Allah sesuatu kebajikan dunia dan akhirat ketika itu, niscaya Allah mengabulkannya.” (H.R. Muslim – Al Adzkar : 47).
اطلبوا استجابة الدعاء عند التقاء الجيوس. واقامة الصلاة ونزول المطر
“Mendoakan disaat du’a itu diperkenankan Tuhan; yaitu di saat berjumpa pasukan-pasukan tentara (bertempur), ketika hendak mendirikan sembahyang dan ketika turun hujan.” (H.R. Asy Syafi’iy – Al Umm).
لا يردّ الدعاء بين الأذان والإقامة
“Tiada ditolak sesuatu du’a yang domohonkan antara adzan dan iqamat.” (H.R. At Turmudzy).

D. Tempat-temat Berdu’a
Tempat-tempat untuk melakukan du’a supaya du’a itu diterima, ialah:
1. Di kala melihat ka’bah.
2. Di kala melihat mesjid Rasulullah SAW.
3. Di tempat dan di kala melakukan thawaf.
4. Di sisi Multazam.
5. Di dalam ka’bah.
6. Di sisi sumur Zamzam.
7. Di belakang makam Ibrahim.
8. Di atas bukit Shafa dan Marwah.
9. Di ‘Arafah, di Muzdalifah, di Mina dan di sisi Jamarat yang tiga.
10. Di tempat-tempat yang mulia lainnya, seperti di Mesjid dan tempat-tempat peribadatan Islam lainnya.
Allah Swt. berfirman:
قل أمر ربّي بالقسط, وأقيموا وجوهكم عند كلّ مسجد وادعوه مخلصين له الدين كما بدأكم تعودون (الأعراف: 29)
“Katakanlah (hai Muhammad): Telah memerintahkan TuhanKu supaya berlaku ‘adil dan dirikanlah olehmu akan sembahyang di tiap-tiap mesjid dan mendu’alah kamu kepadaNya dengan mengikhlaskan ta’at kepadaNya. Sebagaimana Tuhan telah menjanjikan kamu pada permulaan, begitu pulalah kamu akan kembali.” (Q.S. 7:29)

E. Hukum Mengangkat Tangan dan Menyapu
Muka
Al Imam Ibnu Taimiyah telah menegaskan, bahwa
banyak sekali hadits yang menerangkan bahwa Nabi Saw. mengangkat kedua belah tangannya ketika berdu’a.
Tersebut dalam Sunan Abû Dawud, bahwa apabila kita mendu’a hendaklah kita mengangkat kedua belah tangan kita setengah keduanya dengan kedua belah pundak kita, apabila kita ber-istigfar hendaklah selalu mengisyaratkan dengan telunjuk, sedang apabila kita meminta dengan sungguh-sungguh sekali, maka hendaklah kedua belah tangan kita diulurkan ke muka sambil mengangkatnya. .
Akan tetapi, tentang menyapu muka sesudah selesai berdu’a, menurut Imam Nawawi tidak memiliki landasan dalil yang kuat. Dengan kata lain, tidak ada keterangan valid yang menyatakan bahwa mengusap muka setelah berdu’a hukumnya sunnat.

F. Du’a untuk Orang Jauh dan yang Berbuat Baik
Agama sangat menyukai supaya kita mendu’a untuk seseorang yang jauh dari kita.
Rasulullah Saw. bersabda:
دعوة المسلم لأخيه بظهر الغيب مستجابة (رواه مسلم)
“Du’a seseorang Muslim (untuk kemaslahatan) saudaranya (Muslim) yang jauh daripadanya adalah mustajab (HR. Muslim).
عند رأسه ملك موكل كلّما دعاءلأخيه بخير قال الموكّل: آمين ولك بمثلهم (رواه مسلم)
“Di sisi orang yang berdu’a itu tendapat Malaikat, dimana tiap orang itu mendu’akan kemashlahatan untuk saudaranya yang Muslim, maka malaikat itu ikut mengatakan Amin, memohon semoga du’a itu diperkenankan dan untuk Engkau yang sepertinya.” (H.R. Muslim).
Begitu pula dianjurkan untuk berdu’a bagi orang-orang yang telah berbuat baik, sebagaimana dinyatakan dalam hadits Rasulullah Saw.
من صنع إليه معروف فقال لفاعله, جزاك الله خيرا فقد أبلغ فى الثناء
“Barangsiapa diberikan orang kepadanya sesuatu kebajikan lalu ia mendu’akan untuk orang itu dengan menyebut; jazaka ‘Llahu khairan (mudah-mudahan Allah membalasi engkau dengan kebajikan yang lebih baik), maka sesungguhnya orang telah memenuhi hak sanjungan.” (H.R. At Turmudzy).
من صنع إليكم معروفا فكافئوه فإن لم تجدوا ماتكافئونه فادعواله حتّى تروا انّكم قد كافأتموهه
“Dan barangsiapa membuat kebajikan (ma’ruf) kepadamu, maka balaslah kabajikan itu jika engkau tidak sanggup membalasnya, maka mendu’alah kamu untuknya sehingga terasa olehmu bahwa kamu telah membalas kebajikan orang dengan sesempurnanya.” (H.R. Bukhary).
استأذنت النبي صلّى الله عليه وسلم فى العمرة فأذن وقال. لا تنسنا ياأخي من دعائك فقال: كلمة مايسرّني أنّ لي بها
“Berkata Umaar Ibnu’l Khaththab R.A. : “Pada syatu ketika aku meminta idzin kepada Nabi SAW. untuk pergi “Umrah. Nabi memperkenankan permintaanku seraya berkata: jangan engkau melupakan kami dalam du’a-du’amu, wahai saudaraku, “Jawab Umar:” Ucapan Nabi itu lebih menyenangkan permintaan diriku dari itu.” (H.R. At Turmudzy, Nuzul Abrar: 233).

G. Du’a Yang Dilarang dan Orang-orang yang
Ditolak Du’anya
Agama melarang seseorang yang berdu’a agar dirinya dicelakakan oleh Allah Swt., atau dibinasakan, baik mengenai hartanya maupun mengenai hak milik lainnya. Rasulullah Saw. bersabda:
لاتدعوا على أنفسكم ولاتدعوا على أولادكم ولاتدعوا على خدمكم ولا تدعوا على أموالكم لاتوافقوا من الله تعالى ساعة نيل فيها عطاء فيستجاب منكم
“Sekali-kali janganlah kamu meminta supaya dirimu dicelakakan, begitu pula anak-anakmu, pelayanmu dan harta-bendamu. Mungkin permintaan-permintaan itu bertepatan dengan saat-saat ijabah, dimana ia langsung diperkenankan Allah.” (H.R. Abu Daud).
Namun demikian, agama membolehkan kita mendu’a, memohonkan kecelakaan untuk orang yang zhalim, agar dengan kecelakaan itu terlepaslah para manusia dari kezhalimannya.
Sedangkan di antara orang-orang yang tidak ditolak du’anya antara lain sebagaimana diberitakan oleh At Turmudzy dari Abu Hurairah, bahwas Nabi Saw. bersabda: “Ada tiga orang yang sekali-kali tidak akan ditolak du’anya oleh Allah. Pertama, orang yang sedang berpuasa sehingga ia bebuka; Kedua, kepala negara yang adil; Dan ketiga, orang yang teraniaya.

H. Cara Allah swt. Mengabulkan Du’a
Du’a itu kadang-kadang dikabulkan oleh Allah dengan memberikan apa yang kita mohonkan kepada-Nya, kadang-kadang dengan menolak suatu bencana lain yang bakal tertimpa kepada kita.
Rasulullah Sawt.. bersabda:
ماعلى وجه الأرض مسلم يدعواالله تعالى بدعوة إلاّ اتاه الله إيّاه أو صرف عنه السوء مثلها مالم يدع بإثم أو قطيعة رحيم فقال رجل, إذن نكثر فقال, الله اكبر
“Tidak ada seseorang Muslim dimuka bumi ini yang mendu’a memohonkan sesuatu kepada Allah, melainkan Allah mengabulkannya sebagaimana yang dimohonkannya, atau dipalingkan Allah daripadanya sesuatu kecelakaan selama ia tidak mendu’akan sesuatu yang mengandung dosa atau memutuskan silaturahmi. Maka berkata seseorang: kalau begitu baiklah kami memperbanyak du’a. jawab Nabi: Allah menerima du’a hambaNya lebih banyak lagi.” (H.R. At Turmudzy).

BAB V

HAKIKAT DAN KONSEP HIKMAH
A. Makna Hikmah Dalam Al-Qur’an
1. Arti Hikmah Secara Etimologi
Kata al-hikmah dalam Al-Qur’an disebutkan 20 kali, tidak termasuk kata sintaksisnya, seperti hakim. Kata hakim yang seakar kata dengan hikmah telah menjadi sifat Allah. Dengan kata hikmah, Dia menyifati diri-Nya sebanyak 97 kali.
Makna al-hikmah – selanjutnya disebut hikmah – dalam bahasa Arab berarti besi kekang atau besi pengekang, yaitu pengendali. Hikmah dalam pengartian bahasa ini kemudian digunakan sehingga hikmah diartikan sebagai “sesuatu yang dapat mengendalikan manusia agar tidak bertindak dan melakukan perbuatan, perilaku, dan budi pekerti yang rendah, tercela, dan tidak terpuji”. Hikmah memungkinkan manusia yang memilikinya berbudi pekerti luhur serta melakukan perbuatan terpuji. Menurut Ibnu Mandzur, dalam Lisan al-‘Arab, menjelaskan bahwa dalam istilah hikmah terkandung makna ketelitian dan kecermatan dalam ilmu dan amal. Orang yang memiliki hikmah dalam arti tersebut akan terhindar dari kerusakan dan kezaliman, karena hikmah adalah ilmu yang sempurna dan bermanfaat.
Al-Bazdawi, penulis Ushul al-Fiqh, menyatakan bahwa hikmah, secara etimologis, adalah nama bagi ilmu yang sempurna dan kesempurnaan pengamalan ilmu itu. Pendapat terakhir ini sejalan dengan pendapat Malik dalam kitabnya, Mukhtashar Jami’ Bayan al-Ilm wa Fadhlih ketika ia menjelaskan makna hikmah dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 269 berikut:
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (البقرة: 269)
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah itu, sungguh ia telah diberi kebijakan yang banyak. (Q.S. Al-Baqarah [2]:269).
Hikmah juga dapat mengandung arti pengetahuan tentang yang halal dan yang haram; sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud ketika menafsirkan makna hikmah dalam surat ke-16 ayat 125 berikut:
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ (النحل: 125)
Serulah manusia ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. (QS. al-Nahl: 125)
Hikmah dalam ayat di atas bermakna simbol kebenaran dan kebaikan, baik dalam bentuk ucapan maupun perbuatan dan tindakan. Ulama lain, Al-Syafi’I dan Al-Thabari mengartikan hikmah sebagai sunah Rasullah. Hikmah dalam pengertian ini, antara lain dapat dijumpai dalam surat Al-Ahzab ayat 34:
وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ ءَايَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ (الأحزاب: 34)
Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunah Rasulullah). (QS. Al-Ahzab: 34)
Hikmah juga dapat bermakna filosofis, sebagaimana dikemukakan Muhammad Rasyid Ridla. Menurutnya, hikmah adalah pengetahuan mengenai akibat, hakikat, manfaat, dan faedah dari sesuatu. Pengetahuan tersebut mendorong atau memotivasi pemiliknya untuk melakukan sesuatu yang baik dan terpuji secara benar dan baik.
2. Kata Hikmah Menurut Fuqaha dan Filosof
Para fuqaha atau pakar hukum Islam dan para ahli ushul fiqh atau metodologi hukum Islam menggunakan istilah hikmah dalam pengertian ‘illat hukum. Dalam pandangan mereka, hikmah ialah ‘illat atau alasan-alasan hukum yang ditetapkan berdasarkan akal yang sesuai dengan hukum dasar.
Adapun hikmah menurut para filosof, seperti yang dikemukakan Ibnu Sina (w. 328 H/1078M), ialah usaha untuk menyempurnakan diri manusia dengan membentuk konsep-konsep tentang segala sesuatu serta pengujian hakikatnya, baik secara teoritis maupun praktis-empiris sesuai dengan kemampuan manusia.
Berdasarkan pengertian hikmah di atas, maka penafsiran atas surat Al-Baqarah ayat 126, “Allah memberikan hikmah kepada orang yang dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberikan kepadanya hikmah, maka sesungguhnya ia telah memperoleh kebajikan yang banyak” ialah orang yang mencapai kesempurnaan diri karena memiliki pengetahuan dan mengamalkan pengetahuannya sehingga ia memperoleh faedah dan manfaat yang besar dari pengetahuannya itu.

3. Hikmah Menurut Ahli Tafsir
Al-Raghib al-Isfahani menjelaskan bahwa hikmah adalah perolehan kebenaran dengan perantara ilmu dan akal, yang berasal dari Allah atau manusia. Jika berasal dari Allah, ia adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang ada dan kebenarannya itu benar. Jika berasal dari manusia, ia merupakan pengetahuan tentang segala yang ada serta pengamalannya dalam berbagai kebajikan. Pengertian hikmah seperti inilah yang diberikan kepada Lukman a.s., sebagaimana dimaksud dalam surat Shad [38] ayat 20.
وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَءَاتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ (ص: 20)
Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan.
Ibnu Hayyan, penulis tafsir Al-Bahr al-Muhith, menyebutkan dua puluh sembilan pendapat tentang makna hikmah. Makna-makna itu antara lain kebenaran dalam bentuk kata dan tindakan, memperbaiki agama dan dunia, dan mengosongkan jiwa untuk menyiapkan diri menerima ilham. Muhammad Abduh dan muridnya, Muhammad Rasyid Ridla, ketika menafsirkan hikmah yang terdapat dalam surat Al-Baqarah ayat 269 menyatakan bahwa “hikmah dalam ayat ini berarti akal yang cerdas”. Adapun Ibnu Abbas menafsirkannya sebagai pengetahuan tentang segala isi Al-Qur’an, baik pengetahuan yang merupakan petunjuk-petunjuk Ilahi maupun hukum-hukum yang disertai dengan ‘illat dan hikmahnya.
Makna hikmah dalam Al-Qur’an yang tersebar di sekitar dua puluh tempat, secara ringkas, mengandung tiga pengertian. Pertama, hikmah dalam al-istibshar fi al-umur, yakni penelitian terhadap segala sesuatu secara cermat dan mendalam dengan menggunakan akal dan penalaran. Hikmah dalam pengertian pertama ini antara lain dijumpai dalam Al-Baqarah ayat 269.
يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ (البقرة: 269)
Allah memberikan hikmah kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan barang siapa yang diberi hikmah itu,
sungguh ia telah diberi kebijakan yang banyak. (Q.S. Al-Baqarah [2]:269).
Kedua, hikmah yang bermakna “memahami rahasia-rahasia hukum dan maksud-maksudnya”. Makna hikmah yang kedua ini, antara lain terdapat dalam surat ke-3, Ali Imran, ayat 164:
لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ ءَايَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ (ال عمرأن: 164)
Sesungguhnya Allah telah memberikan karunia kepada orang-orang yang beriman ketika allah mengutus di antara mereka seorang Rasul dari golongan mereka sendiri yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan jiwa mereka dan mengajarkan mereka al-Kitab dab al-hikmah. (Q.S. Ali Imran [3]: 164).
Ketiga, hikmah berarti kenabian atau nubuwwah, sebagaimana dalam surat Shad [38] ayat 18-19 dan surat An-Nisa [4] ayat 54:
إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ وَالطَّيْرَ مَحْشُورَةً كُلٌّ لَهُ أَوَّابٌ (ص: 18-19)
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud di waktu petang dan pagi. Dan kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksnaan dalam menyelesaikan perselisihan. (Q.S. Shad [38]: 18-19)
أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ ءَاتَيْنَا ءَالَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَءَاتَيْنَاهُمْ مُلْكًا عَظِيمًا (النساء: 54)
Ataukah mereka dengki kepada manusia (Muhammad) lantaran karunia yang telah Allah berikan kepadanya? Sesungguhnya Kami telah memberikan kitab dan hikmah kepada keluarga Ibrahim, dan kami telah memberikan kepadanya kerajaan yang besar. (Q.S. An-Nisa [4] : 54).
4. Perbedaan Hikmah Dengan Kahanah
No Substansi Hikmah Kahanah
1 Dasar Al-Qur’an, al-Sunnah, Produk Pikir Ulama yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah Ilham Syaitan (yang memakai wujud Jin kafir) dan produk yang didasari oleh jin kafir
2 Tujuan
Ridla Allah
Ridla Thagut

3 Sifat dan orientasi Kegiatan Ta’awun ‘ala al-Birri wa al-Taqwa dan Ikhlas Ta’awun ‘ala al-Itsmi wa al-‘Udwan dan Komersial
4 Pelaku
Shalihin/Ahli Ibadah Thalihin/ Ahli Gaflah
5 Produk/
Hasil Ma’unat Sayyiat
6 Bentuk Du’a Ruqyah
B. Hakikat Hikmah dalam Epistimologi Du’a
Hikmah dalam istilah epistemologi du’a adalah ilmu yang mempelajari tentang proses pensucian jiwa dari kotoran-kotoran dorongan nafsu biologis (syahwat). Pensucian jiwa itu dimaksudkan untuk mendekatkan diri ke hadirat Allah Swt. dengan melibatkan keharusan adanya unsur-unsur berikut:
1. al-Zajmu, yaitu keyakinan dan keimanan yang dalam kepada Allah SWT.
2. al-Kitmân, yaitu menyembnyikan amal baik dengan tidak memamerkannya atau menjaga diri dari unsur riya.
3. al-Mutsabaroh, yaitu ketekunan, keuletan, dan keseriusan serta keterlatihan dalam mencapai suatu kebaikan yang dicita-citakan.
4. al-Taqwa, yaitu melaksanakan segala perintah Allah dan mejauhi segala sesuatu yang di larang oleh Allah Swt.
5. Jihad an-Nafs, yaitu mengendalikan diri, raga dan rasa agar senantiasa sesuai dengan tuntunan syarâ
6. Tidak menganggap hina dan enteng terhadap amaliah do’a
7. Berupaya semaksimal mungkin dalam mempelajari pengetahuan yang berkaitan dengan do’a.
8. Memilah dan memilih pemberian perbantuan terhadap orang lain dengan tolok ukur berdasarkan ketentuan syara.
9. Memelihara waktu amal
10. Memelihara pembagian penjadwalan amaliah
11. Harus berijazah pada guru-guru yang mursyid
12. Memelihara kesucian dimensi watak waktu hubungannya dengan kriteria kesesuaian peruntuk-annya.
Hikmah juga dapat diartikan sebagai rahasia dan faidah dari sesuatu. Sebagai contoh, Nabi Yusuf mengucapkan: “Hadza Tawiilu Ru’yaya”, ketika ia sudah menjadi seorang raja, dan keberhasilan menjadi seorang raja itu mengalami beberapa penderitaan yang cukup lama, dimana penderitaan tersebut muncul setelah Nabi Yusuf mendapatkan informasi melalui mimpi (ru’ya). Maka dengan demikian keberhasilan Yusuf menjadi seorang penghuni istana ialah merupakan rahasia dan faidah dari mimpi dan penderitaan yang ia alami, itulah yang disebut dengan hikmah.

BAB VI

MUKJIZAT, KARAMAH, MA’UNAH,
DAN ISTIDRAZ

I. Mukjizat
Secara bahasa mukjizat berasal dari bahasa Arab, ‘ajaza yang berarti: tidak mampu, lemah (melemahkan) atau menjadi tua . Pelakunya yang melemahkan disebut ‘mu’jiz’ (yang melemahkan) dan jika kemampuan melemahkan pihak lain sangat menonjol sehingga mampu membungkamkan lawan, maka lazim dinamai ‘Mukjizatun’.
Sedangkan secara istilah menurut az-Zarqani, mukjizat ialah kejadian luar biasa yang melemahkan manusia baik secara individual maupun komunal untuk mendatangkan hal yang serupa, atau suatu peristiwa yang menyalahi kebiasaan serta keluar dari ketentuan hukum kausalitas . Namun keadaan luar biasa itu, terjadi pada orang-orang tertentu saja yaitu para nabi dan rasul untuk membuktian kenabian dan kerasulan serta untuk mengalahkan orang lain yang membohongkan kenabian dan kerasulannya itu.

1. Unsur-Unsur Yang Menyertai Mukjizat
Jika memperhatikan definisi di atas, terlihat sekian banyak unsur penting yang harus menyertai sesuatu itu sehingga ia dapat dinamai mukjizat. Unsur-unsur tersebut ialah:
a. Hal atau Peristiwa yang Luar Biasa
Peristiwa-peristiwa alam misalnya, yang terlihat sehari-hari, walaupun menakjubkan tidak dinamai mukjzat, karena ia telah merupakan sesuatu yang biasa. Yang dimaksud dengan luar biasa adalah sesuatu yang berbeda di luar jangkauan sebab dan akibat yang diketahui secara umum hukum-hukumnya.

b. Terjadi atau Dipaparkan oleh Seorang yang Mengaku Nabi
Tidak mustahil terjadi hal-hal di luar kebiasaan pada diri siapapun. Namun apabila bukan dari seorang yang mengaku nabi, maka ia tidak dinamai mukjizat. Boleh jadi sesuatu yang luar biasa tampak pada diri seorang yang kelak bakal menjadi nabi. Ini pun tidak dinamai mukjizat tetapi irhash (keluarbiasaan bagi calon Nabi). Boleh jadi juga keluarbiasaan itu terjadi pada seseorang yang taat dan dicintai Allah, tetapi ini pun tidak dapat di sebut mukjizat. Hal seperti ini dinamai karamah atau kekeramatan, yang bahkan tidak mustahil terjadi pada seseorang yang durhaka kepada-Nya. Yang terakhir ini dinamai ihanah (penginapan) atau istidraj (“rangsangan” untuk lebih durhaka).
c. Mengandung Tantangan terhadap yang Meragukan
Kenabian
Tantangan tersebut harus berbarengan dengan pengakuannya sebagai nabi, bukan sebelum atau sesudahnya. Di sisi lain, tantangan tersebut harus pula merupakan sesuatu yang sejalan dengan ucapan sang nabi. Kalau misalnya ia berkata, “Batu ini dapat berbicara”, tetapi ketika batu tersebut berbicara, dikatakannya bahwa “Sang penantang berbohong” maka keluarbiasaan ini bukanlah suatu mukjizat tetapi ihanah atau istidraj.
d. Tantangan Tersebut Tidak Mampu atau Gagal
Dilayani
Bila yang ditantang berhasil melakukan hal serupa, maka ini berarti bahwa pengakuan sang penantang tidak terbukti. Perlu digarisbawahi di sini bahwa kandungan tantangan harus benar-benar dipahami oleh yang ditantang. Bahkan untuk lebih membuktikan kegagalan mereka, biasanya aspek kemukjizatan masing-masing nabi adalah hal-hal yang sesuai dengan bidang keahlian umatnya.
Misalnya mukjizat Nabi Musa a.s. yakni beralihnya tongkat menjadi ular yang dihadapkan kepada masyarakat yang amat mengandalkan sihir. Mukjizat yang begitu jelas ini benar-benar membungkamkan para ahli sihir yang ditantang oleh Nabi Musa As. sehingga mereka tak kuasa kecuali mengaku kekalahan mereka, walaupun Fir’aun mengancam dengan aneka ancaman (baca QS Thaha [20]: 63-76).
Perhatikanlah juga Nabi Shaleh As., yang menghadapi kaum Tsamud yang gandrung melukis dan memahat, sampai-sampai relief-relief indah “bagaikan sesuatu yang hidup” menghiasi gunung-gunung tempat tinggal mereka (baca antara lain QS Al-Araf [7]:74 dan Al-Fajr [89]:9). Kepada mereka disodorkan mukjizat yang sesuai dengan “keahlian” itu, yakni keluarnya seekor unta yang benar-benar hidup dari batu karang yang kemudian merika lihat makan dan minum (QS Al-Araf [7]:7 dan QS Asy-Syu’ara [26]:155-156) dan bahkan merekapun meminum susu unta tersebut. Ketika itu relief-relief yang telah mereka lukis tidak lagi berarti sama sekali dibandingkan dengan unta yang menjadi mukjzat itu. Sayang mereka begitu keras kepala dan kesal sampai mereka tidak mendapat jalan lain kecuali menyembelih unta itu, sehingga Tuhan pun menjatuhkan palu godam terhadap mereka (baca QS Asy-Syams [91]:13-15).
Demikian juga halnya dengan Nabi Isa a.s. yang umatnya merasa amat mahir dalam bidang pengobatan, tetapi kemahiran itu tidak ada artinya sama sekali dibandingkan dengan mukjizat Nabi Isa a.s. mukjizat tersebut adalah mengembalikan penglihatan orang yang buta sejak lahir, menyembuhkan penyakit sopak, dan bahkan menghidupkan orang mati. Kesemua mukjizat itu terjadi atas izin Allah Swt. (baca QS Ali-Imran [3]:49).
Di atas terlihat bahwa tantangan yang diajukan oleh para nabi kepada yang ragu, selalu disesuaikan dengan aspek yang mereka paling ketahui. Memang tidaklah adil dan tidak bermakna bila suatu tantangan dalam rangka membuktikan keunggulan tidak dikuasai apalagi tidak dimengerti oleh yang ditantang.

2. Tujuan Dan Fungsi Mukjizat
Mukjizat berfungsi sebagai bukti kebenaran para nabi. Keluarbiasaan yang tampak atau terjadi melalui mereka itu diibaratkan sebagai ucapan Tuhan: “Apa yang dinyatakan sang Nabi Adalah benar. Dia adalah utusan-Ku, dan buktinya adalah Aku melakukan mukjizat itu”. Mukjizat, walaupun dari bahasa berarti melemahkan sebagaimana dikemukakan di atas, namun dari segi agama, ia sama sekali tidak dimaksudkan untuk melemahkan atau membuktikan ketidakmampuan yang ditantang. Mukjizat ditampilkan oleh Tuhan melalui hamba-hamba pilihan-Nya untuk membuktikan kebenaran ajaran Ilahi yang dibawa oleh masing-masing nabi. Jika demikian halnya, maka ini paling tidak mengandung dua konsekuensi.
Pertama, bagi yang telah percaya kepada nabi, maka ia tidak lagi membutuhkan mukjizat. Ia tidak lagi ditantang untuk melakukan hal yang sama. Mukjizat yang dilihat atau dialaminya hanya berfungsi mempekuat keimanan, serta menambah keyakinannya akan kekuasaan Allah SWT.
Kedua, para nabi sejak Adam a.s. hingga Isa a.s. diutus untuk suatu kurun tertentu serta masyarakat tertentu. Tantangan yang mereka kemukakan sebagai mukjizat pasti tidak dapat dilakukan oleh umatnya. Namun apakah ini berarti peristiwa luar biasa yang terjadi melalui mereka itu tidak dapat dilakukan oleh selain umat mereka pada generasi sesudah generasi mereka? Jika tujuan mukjizat hanya untuk meyakinkan umat setiap nabi, maka boleh jadi umat yang lain dapat melakukannya. Kemungkinan ini lebih terbuka bagi mereka yang berpendapat bahwa mukjizat pada hakikatnya berada dalam jangkauan hukum-hukum (Allah yang berlaku di) alam. Namun, ketika hal itu terjadi, hukum-hukum tersebut belum lagi diketahui oleh masyarakat nabi yang bersangkutan.
Sumber daya manusia sungguh besar dan tidak dapat dibayangkan kapasitasnya. Potensi kalbu yang merupakan salah satu sumber daya manusia dapat menghasilkan hal-hal luar biasa yang boleh jadi tidak diakui oleh yang mengenalnya. Hal ini sama dengan penolakan generasi dahulu tentang banyaknya kenyataan masa kini yang lahir dari pengembangan daya pikir.

3. Perlu Bukti Untuk Suatu Kebenaran/Mukjizat
Manusia sebagai individu atau masyarakat memiliki banyak kebutuhan dan keinginan. Ini mengantarkan mereka melakukan aktivitas guna memperoleh kebutuhan dan keinginan sehingga tidak jarang terjadi benturan kepentingan dan keinginan. Untuk terjadi benturan kepentingan dan keinginan. Untuk menghindari hal tersebut diperlukan peraturan yang mengatur lalu lintas kehidupan sehingga kemacetan atau kecelakaan dapat dihindari. Di sisi lain manusia memiliki kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan dan keinginannya. Oleh karena itu, jika seseorang atau sekelompok saja yang menetapkan seseorang atau sekelompok saja yang menetapkan peraturan itu maka tidak mustahil mereka akan mementingkan diri atau kelompoknya saja.
Di samping itu, manusia tidak mengetahui apa yang terbaik untuk dirinya, dan bahkan banyak hal yang tidak diketahuinya. Ambilah sebagai contoh peristiwa kematian dan apa yang terjadi sesudahnya. Jelas bahwa yang paling mengetahui tentang hal tersebut adalah pencipta manusia yakni Allah SWT. Yang tidak memiliki kepentingan apa pun. Jika demikian maka yang paling tepat menyusun peraturan itu adalah Allah Swt. Dari sini Dia menganugerahkan petunjuk keagamaan. Sayang tidak semua manusia mampu meraih petunjuk itu secara langsung. Bukankah kesucian dan kecerdasan manusia itu beringkat-tingkat? Dari sini Allah memilih dan mengutus orang-orang tertentu untuk menyampaikan kepada masyarakat manusia tentang peraturan-peraturan yang dimaksud. Dan manusia pilihan itu adalah para nabi dan rasul.
Tetapi tentu saja ada di antara anggota masyarakatnya yang meragukan sang Nabi sebagai utusan Tuhan, antara lain dengan dalih bahwa “Dia adalah manusia biasa seperti kita”. Dari sini dibutuhkan khususnya bagi mereka yang ragu atau tidak percaya bukti kenabian langsung dari Allah Swt. yang mengutusnya. Bukti tersebut tidak lain kecuali apa yang dinamai mukjizat.
Sebenarnya bukti kenabian atau kebenaran seseorang tidak harus berupa sesuatu yang luar biasa (mukjizat). Kebenaran nabi dapat juga dibuktikan melalui pengamatan akan kepribadian serta ajaran-ajarannya, sebagaimana akan diuraikan nanti.
4. Macam-Macam Mukjizat
Secara garis besar mukjizat dapat dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu mukjizat yang sifat material indrawi lagi tidak kekal, dan mukjizat imaterial, logis, lagi dapat dibuktikan sepanjang masa. Mukjizat nabi-nabi terdahulu kesemuanya merupakan jenis pertama. Mukjizat mereka bersifat material dan indrawi dalam arti keluarbiasaan tersebut dapat disaksikan tempat nabi tersebut mendakwahkan risalahnya.
Begitu pula as-Suyuti membagi mukjizat menjadi dua bagian, yaitu: Pertama, mukjizat hisiyah, yakni mukjizat yang bisa ditangkap oleh panca indera, seperti mukjizat nabi Musa dengan tongkatnya, nabi Ibrahim tidak mampu di bakar api, dan lain sebagainya. Kedua, mukjizat ‘aqliyah, yakni mukjizat yang hanya bisa di tangkap oleh nalar dan intelektual saja, seperti nabi Muhammad dengan al-Qur’annya, dengan al-Qur’an beliau sanggup mengalahkan ketinggian sastra dan syair orang-orang Arab .
Perahu Nabi Nuh yang dibuat atas petunjuk Allah sehingga mampu bertahan dalam situasi ombak dan gelombang yang demikian dahsyat; tidak terbakarnya Nabi Ibrahim a.s dalam kobaran api yang sangat besar; tongkat Nabi Musa a.s yang beralih wujud menjadi ular; penyembuhan yang dilakukan oleh Nabi Isa a.s. atas izin Allah, dan lain-lain. Kesemuanya bersifat material indrawi, sekaligus terbatas pada lokasi tempat nabi tersebut berada, dan berakhir dengan wafatnya masing-masing nabi. Ini berbeda dengan mukjizat Nabi Muhammad Saw. yang sifatnya bukan indrawi atau material, namun dapat dipahami oleh akal. Karena sifatnya yang demikian, maka ia tidak dibatasi oleh suatu tempat atau masa tertentu. Mukjizat Al-Quran dapat dijangkau oleh setiap orang yang menggunakan akalnya di mana dan kapan pun.
Perbedaan ini disebabkan oleh dua hal pokok. Pertama, para nabi sebelum Nabi Muhammad Saw., ditugaskan untuk masyarakat dan masa tertentu. Karena itu mikjizat mereka hanya berlaku untuk masa dan masyarakan tersebut, tidak untuk sesudah mereka. Ini berbeda dengan Nabi Muhammad Saw. yang ditulis untuk seluruh umat manusia hingga akhir zaman, sehingga bukti kebenaran ajarannya harus selalu siap dipaparkan kepada setiap orang yang ragu di mana dan kapan pun berada. Jika demikian halnya, tentu mukjizat tersebut tidak mungkin bersifat material, karena kematerialan membatasi ruang dan waktunya.
Kedua, manusia mengalami perkembangan dalam pemikirannya. Auguste Comte (1798-1857) berpendapat bahwa pikiran manusia dalam perkembangannya mengalami tiga fase.
Fase pertama adalah fase keagaman, di mana karena keterbatasan pengetahuan manusia ia mengembalikan penafsiran semua gejala yang terjadi kepada kekuatan tuhan atau dewa yang diciptakan oleh benaknya.
Fase kedua adalah fase metafisika. Dalam fase ini manusia menafsirkan gejala atau fenomena yang ada dengan mengembalikannya kepada prinsip-prinsip yang merupakan sumber awal atau dasarnya. Manusia ada awalnya, demikian juga pohon, binatang, dan lain-lain.
Fase ketiga adalah fase ilmiah di mana manusia menafsirkan fenomena yang ada berdasarkan pengamatan yang teliti dan berbagai eksperimen hingga diperoleh hukum alam yang mengatur fenomena itu.
Tanpa memasuki rincian pandangan di atas, serta kritik-kritik yang diajukan terhadapnya, secara umum dapat dibenarkan bahwa manusia mengalami perkembangan dalam cara berpikirnya. Salahsatu dampaknya adalah menyangkut pembuktian kebenaran (mukjizat) yang dipaparkan oleh para Nabi.
Umat para nabi khususnya sebelum Nabi Muhammad Saw. sangamat membutuhkan bukti kebenaran, yang harus sesuai dengan tingkat pemikiran mereka. Dan karakteristik bukti tersebut harus jelas serta langsung terjangkau oleh indra mereka.
“Jika kamu tidak melihat tanda dan mukjizat, maka kamu tidak akan percaya”. Demikian sabda Nabi Isa A.s. yang diabadikan dalam perjanjian baru, yahya IV:48. Pada saat lain beliau bersabda, “Jikalau Aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan Bapa-Ku, janganlah percaya kepadaku” (Yahya X:37).
Tetapi setelah manusia mulai menanjak ketahap kedewasaan berpikir, maka bukti yang bersifat indrawi tidak dibutuhkan lagi. Itu sebabnya Nabi Muhammad Saw. ketika dimintai bukti-bukti yang sifatnya demikian oleh mereka yang tidak percaya, beliau dipertimbangkan oleh Allah untuk menjawab,
سُبْحَانَ رَبِّي هَلْ كُنْتُ إِلَّا بَشَرًا رَسُولًا (الإسراء: 93)
Mahasuci Tuhanku, bukankah aku hanya sekedar manusia yang diutus (QS Al-Isra’ [17]:93).
Dalam ayat yang lain Nabi Muhammad Saw. dipertimbangkan oleh Allah Swt. untuk menjawab,
وَقَالُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ ءَايَاتٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّمَا الْآيَاتُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ (العنكبوت: 50)
Katakanlah (wahai Muhamad) sesungguhnya bukti (mukjizat yang bersifat indrawi yang kalian minta itu) datangnya dari sisi Allah. Aku hanya sekadar pembawa berita yang nyata (QS AL-Ankabut [29]:50).
Allah melanjutkan jawaban di atas, dengan firman-Nya:
أَوَلَمْ يَكْفِهِمْ أَنَّا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ يُتْلَى عَلَيْهِمْ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَرَحْمَةً وَذِكْرَى لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ (العنكتوب: 51)
Apakah mereka (tidak berpikir sehingga) belum merasa cukup bahwa Kami telah menurunkan Al-Qur’an yang dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat rahmat dan peringatan bagi orang-orang yang ingin percaya (QS Al-Ankabut [29]:51).
Nazmi Luke, seorang pendeta Mesir, menulis
dalam bukunya Muhammad Ar-Rasul wa Ar-Risalah sebagai berikut:
Menurut keyakinan saya, membuktikan kebenaran suatu ajaran yang benar dengan sesuatu yang bersifat luar biasa (mukjizat indrawi) tidak dapat diterima kecuali dalam kondisi ketidak dewasaan pikiran manusia. Hal ini bagaikan membujuk seorang anak kecil untuk makan. Bila akan tersebut telah dewasa tentu dia akan makan tanpa dibujuk.
Selanjutnya Luke menulis, Tidak dapat disangkal bahwa menghidupkan orang mati, mengambilkan penglihatan orang buta, dan lain-lain merupakan hal-hal yang bernilai amat agung. Akan tetapi, itu semua tidak akan berarti sama sekali apabila ia dimaksudkan untuk membuktikan bahwa 2+2=9. Karena itu adalah wajar jika dipaparkan kepada manusia yang telah mencapai kedewasaannya bukti-bukti rasional dan logis.
Di samping itu, Al-Qur’an juga mengemukakan alasan lain mengapa bukti utama (mukjizat Nabi Muhammad Saw.) bukan yang bersifat indrawi dan material. Allah berfirman,
وَمَا مَنَعَنَا أَنْ نُرْسِلَ بِالْآيَاتِ إِلَّا أَنْ كَذَّبَ بِهَا الْأَوَّلُونَ وَءَاتَيْنَا ثَمُودَ النَّاقَةَ مُبْصِرَةً فَظَلَمُوا بِهَا وَمَا نُرْسِلُ بِالْآيَاتِ إِلَّا تَخْوِيفًا
Dan sekali-kali tidak ada yang menghalangi kami untuk mengirimkan tanda-tanda (mukjizat) yang bersifat indrawi (melalui engkau Muhammad) melainkan karena tanda-tanda (semacam) itu telah (kami kirimkan sebelum ini, namun) didustakan oleh umat terdahulu.. (QS Al-Isra’ [17]:59).
Dalam konteks inilah Surah Al-Hijr (15): 14-15 menyatakan bahwa,
وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَابًا مِنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ لَقَالُوا إِنَّمَا سُكِّرَتْ أَبْصَارُنَا بَلْ نَحْنُ قَوْمٌ مَسْحُورُونَ (الحجر: 14-15)
Seandainya Kami (Allah) membukakan bagi mereka satu pintu (dari pintu-pintu) langit lalu mereka terus-menerus naik ke atasnya, maka mereka pasti akan berkata, “Mata kami diketahui dan kami adalah kaum (kelompok orang) yang tersihir”. (Q.S Al-Hijr (15): 14-15
Penolakan orang-orang kafir terhadap Al-Qur’an juga demikian,
وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَابًا فِي قِرْطَاسٍ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ هَذَا إِلَّا سِحْرٌ مُبِينٌ (الأنعام:7)
Seandainya Kami menurunkan kepadamu (Muhammad) satu kitab yang ditulis di atas kertas, dan mereka memegangnya dengan tangan mereka, maka pasti orang-orang kafir berkata, “Ini tidak lain kecuali sihir yang nyata”. (QS Al-An’am [6]:7).
Jika demikian maka membuktikan kebenaran suatu ajaran dengan menggunakan bukti-bukti yang bersifat suprarasional dan indrawi, tidak membantu mereka yang telah memiliki kemampuan rasional. Menjadi sangat wajar jika sejak turunnya Al-Qur’an Allah SWT. tidak lagi memaparkan bukti kebenaran Rasul (Muhammad Saw) dalam bentuk indrawi. Namun, perlu dicatat bahwa ini bukan berarti bahwa tidak terjadi hal-hal luar biasa ini bukan berarti bahwa tidak terjadi hal-hal luar biasa dari atau melalui Nabi Muhammad Saw. keluarnya air dari celah jari-jari beliau, makanan yang sedikit dapat mencukupi orang banyak, tangisan mimbarnya, dan lain-lain, merupakan hal-hal luar biasa yang telah terjadi.
Al-Qur’an bahkan menginformasikan beberapa hal yang bersifat suprarasional yang terjadi atau dialami melalui Nabi Muhammad Saw., seperti misalnya genggaman pasir yang beliau lontarkan kepada kaum musyrik dalam peperangan Badr, sehingga menutupi pandangan mereka. Lemparan tersebut dijelaskan oleh Allah dengan firman-Nya,
وَمَا رَمَيْتَ إِذْ رَمَيْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ رَمَى (الأنفال: 17)
Bukan engkau yang melempar ketika melempar, tetapi Allahlah yang melempar (QS Al-Anfal [8]:17).
Namun sekali lagi perlu dicatat bahwa semua itu bukan mukjizat yang dipaparkan untuk menantang yang ragu, tetapi itu merupakan anugerah Allah Swt. kepada Nabi-Nya sekaligus rahmat dan bantuan bagi umat Islam.

B. Karamah
Dalam khazanah tasawuf istilah karamah berarti keadaan luarbiasa di luar pengalaman manusia biasanya yang diberikan Allah Swt. kepada para wali-Nya. Kata karamah juga sering disamakan dengan kata keramat, yang berarti bakat luar biasa bagi orang yang dipilih Allah Swt. yaitu bakat individual karena Allah Swt. menyertai, melindungi, dan menolong orang-orang saleh.
Orang-orang sufi yakin bahwa para wali mempunyai keistimewaan, seperti kemampuan melihat kegaiban-kegaiban dan kemampuan melakukan sesuatu yang tidak dapat diperbuat oleh manusia biasa. Keramat atau karamah sering terjadi di kalangan orang-orang sufi, namun dapat juga lahir dari seorang hamba Allah Swt. yang biasa, saleh, beritikad bersih, dan tekun mengerjakan segala amal ibadah. Perkataan keramat dalam pengertian ini sudah umum diketahui dan dipakai di Indonesia terutama untuk orang-orang yang sudah wafat. Hal ini terjadi karena pada masa hidupnya mereka sudah menunjukan beberapa keajaiban. Setelah kematianya pun, banyak terkabul niat yang disampaikan dengan menggunakan namanya. Maka terdapat banyak kuburan orang-orang keramat, baik kuburan wali maupun orang biasa yang pada waktu hidupnya berbudi mulia dan luhur, yang dikunjungi orang pada waktu-waktu tertentu.
Dalam Al-Quran surah Yunus ayat 62 dikatakan bahwa wali-wali Allah SWT tidak pernah merasa khawatir dan bersedih hati karena mereka pasrah total kepada Allah Swt. Allah Swt. adalah pelindung, penolong, dan teman terdekat mereka sehingga hubungan dengan Allah Swt. tidak pernah terkendala oleh ruang dan waktu. Allah SWT adalah pelindung para hamba-Nya. Mereka adalah orang yang suci, berjiwa bersih, dekat pada Allah Swt. seakan-akan semuanya membawa kemuliaan yang ajaib dan kejadian-kejadian yang luar biasa. Karena hubungannya yang dekat pada Allah Swt. terbukalah selubung yang menutupi alam supernatural, alam gaib. Mereka dikaruniai kelebihan-kelebihan yang luar biasa. Contoh kejadian luarbiasa antara lain tampak dalam cerita yang dilukiskan surah an-Naml ayat 39-40, bahwa seorang yang mempunyai ilmu dari Alkitab dapat membawa singgasana Ratu Sulaiman AS. Juga dalam surah Ali Imran ayat 37 masuk untuk bertemu dengan maryam, ibu Nabi Isa AS, maka didapatinya makanan di sisi mihrab atas kehendak dari Allah Swt. Kejadian-kejadian ini merupakan anugerah luar biasa Allah Swt. di luar pengalaman lahiriah manusia, karena dekatnya hamba pada Khaliknya.
Pendapat ulama berbeda-beda mengenai masalah karamah. Abu al-Wafa’ , mengatakan bahwa uraian yang begitu luas tentang kekeramatan dalam kehidupan wali merupakan hal yang dilebih-lebihkan dan menyimpang dari fakta-fakta biasa dalam pengalaman keagamaan yang ajaib dan luar biasa. Ibnu khaldun dan Ibnu Sina (Avicena) mengatakan bahwa kekeramatan harus diakui bersandarkan hipotesis bentuk-bentuk misteri yang masih terpendam dan belum terbongkar di alam jagat raya. Namun, Mazhab Muktazilah (aliran yang mendasarkan ajaran Islam pada Al-Quran dan akal) menolaknya karena alam semesta tidak menyimpan misteri yang tidak terpikirkan secara rasional. Karenanya, keseluruhan kejadian alam semesta masih dapat diselesaikan dengan kaidah rasional karena Al-Qur’an memang mengatakan demikian.
Orang-orang keramat seperti para wali tidak maksum (bebas dari dosa dan kesalahan), tidak terpelihara dari segala pekerjaan jahat, tetapai mahfuz, yang berarti terpelihara dari segala perbuatan maksiat. Mahfuz pada asalnya berarti tidak mengerjakan yang maksiat, tetapi jika dikerjakan juga, maka para wali menyesal dan bertobat sesempurna mungkn. Kekeramatan pada para wali menurut kaum sufi bukan pekerjaan mustahil bagi Allah SWT, karena termasuk yang mungkin terjadi seperti juga mukjizat bagi Nabi Muhammad SAW. Karena itu, kejadian ini tidak pernah disangkal oleh empat aliran mazhab ahlusunah (ahli sunah), terutama tanda-tanda keramat sesudah mati. Kisah-kisah mengenai kekeramatan para wali biasanya dapat didengar dari penungu-penunggu kuburan, keluarga, dan murid mereka, atau dibaca dalam sejarah hidupnya yang biasa di sebut manakib (kisah kekeramatan para wali). Umpamanya, manakib Syekh Abdul Qadir al-Jailani (w. 561 H/1166 M), pendiri Tarekat Qadiriah, dan masih banyak lagi manakib-manakib para wali dalam ceritera kekeramatan.
Menurut kaum sufi, “kekeramatan” berbeda dengan sihir. Sihir acap kali terjadi dalam kalangan orang-orang fasik (tidak mengindahkan perintah Tuhan), zindik (tersesat imannya), dan kafir (tidak bertuhankan Allah). Sedangkan kekeramatan terjadi pada orang-orang yang percaya kepada Allah SWT dan sungguh-sungguh mengerjakan segala syariat-Nya. Terdapat perbedaan keramat dengan mukjizat. Keramat terjadi pada wali Allah Swt. biasa, sedangkan mukjizat terjadi bagi nabi-nabi dan rasul-rasul Allah Swt. demi kelancaran dakwah dan syiar Islam dalam menanamkan kepercayaan kepada umat yang dihadapi. Nabi-Nabi melahirkan mukjizatnya untuk meyakinkan kenabiannya kepada umat, sedangkan para wali hanya menyampaikan seruan-seruan Nabi Muhammad Saw. kepada manusia di sekitarnya dengan keterangan-keterangan yang sudah diberikan oleh Allah SWT dalam firman-Nya dan oleh Nabi Muhammad SAW dengan sunahnya. Kebanyakan wali merahasiakan keistimewaannya yang luar biasa karena ketaatan kepada Allah Swt. serta kesungguhan mereka dalam menjauhkan diri dari segala maksiat dan hawa nafsu.

C. Ma’unah
Secara lughawai (bahasa), man’unah berarti pertolongan dari seseorang kepada orang lain. Sedangkan dalam istilah epistemologi du’a, ma’unah biasa diartikan sebagai pertolongan dari Allah secara khusus yang diberikan kepada ulama yang shalih, pengamal ilmunya secara ikhlas dalam bentuk ‘amrun khwarikun lil’adah’ (hukum yang keluar dari kebiasaan kausalitas dalam hukum imaterial Allah).
Misalnya, penulis syarah kitab Riyad as-Shalihin, yaitu kitab Dalil al-Falihin, dan pensyarahnya ketika menceritakan sesuatu yang dinilai luar biasa pada penulis kitab Riyad as-Shalihin itu, yakni imam an-Nawawi. Pada suatu ketika, terlihat oleh para muridnya beliau (imam an-Nawawi) menulis dalam keadaan mati lampu, yang seharusnya menurut kebiasaan akan gelap gulita, tetapi anehnya dari jari-jemari Imam an-Nawawi nubcul cahaya terang benderang sehingga keadaan mati lampu itu, tidak menjadi hambatan untuk melanjutkan menulis menyelesaikan tulisan yang sedang digarapnya.
Contoh-contoh lain, sangat boleh jadi banyak pembaca temukan yang terjadi pada diri seseorang yang berkafasitas ulama-ulama shalihin yang mukhlisîn.
D. Istidraj
Secara lughawai (bahasa), istidraj berarti sungkunan yang dialamatkan kepada seseorang. Sedangkan dalam istilah epistimologi du’a, istidraj berarti suatu kejadian yang termasuk ‘khawarikun lil’adat’ (hukum yang keluar dari kebiasaan kausalitas dalam hukum imaterial Allah) pada diri seseorang yang secara teoritik dan empiris terkategorisasikan sebagai ‘kahin’ (dukun). Kejadian-kejadian luar biasa tersebut jika terbukti, semata-mata merupakan sungkunan dari Allah Swt.
Contoh-contoh perilaku tukang sihir, di antaranya seorang dukun yang mampu memperlihatkan sesuatu yang semestinya berdasarkan hukum kebiasaan, mustahil terjadi. Misalnya laki-laki berwajah Cepot, bisa dicintai oleh perempuan berwajah Srikandi, setelah diberi mantera-mantera tertentu oleh seorang dukun.

BAB VII

SIHIR DAN PERMASALAHANNYA

A. Pengertian dan Hakikat Sihir
Secara etimologis kata sihir berasal dari bahasa Arab, yakni bentuk mashdar dari kata kerja sahara-yasharu yang memiliki arti sesuatu yang sumbernya lembut atau halus. Kata sihir juga berarti al-sharfu (membelokkan), maksudnya, membelokkan sesuatu dari kenyataan yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan sebenarnya. Selain itu, sihir juga bisa diartikan dengan istikhdam al-arwah (menggunakan roh).
Berdasarkan arti kata di atas, bisa dikatakan bahwa sihir adalah upaya yang dilakukan manusia sebagai suatu tipu daya yang dalam mengujudkannya meminta bantuan sesuatu yang halus (setan) untuk membelokkan sesuatu yang sebenarnya ke sesuatu yang bukan sebenarnya. Menurut sebagian pendapat sihir diidentikkan dengan tenung, santet, azimat-azimat, mantra-mantra, atau perbuatan tertentu dengan bantuan setan yang mempengaruhi hati dan badan sehingga menyebabkan sakit, mati, atau terpisahnya seseorang dari keluarganya.
Abu Muhammad al-Maqdisi berkata dalam kitab al-Kafi: “Sihir adalah mantera-mantera, jampe-jampe dan berbagai alat pendukung yang dapat mempengaruhi fisik dan jiwa seseorang. Seseorang yang kena sihir akan sakit dan mati bahkan cerai dengan pasangannya. Sihir merupakan sebuah fenomena yang punya hakekat makna dasar. Kita diperintah untuk meminta perlindungan dari berbagai jenis sihir yang dihembuskan oleh tukang-tukang tenung.”
Syaikh Wahid Abdul Salam Bali mengutip beberapa pengertian sihir sebagai berikut:
– Sihir adalah perbuatan yang dilakukan dengan mendekatkan diri kepada setan dengan pertolongan darinya;
– Orang Arab menyebut sihir karena sihir mengubah kesehatan menjadi penyakit;
– Sihir ialah mengeluarkan kebatilan dalam bentuk kebenaran;
– Sihir ialah sesuatu yang lembut pengambilnya.
Syaikh al-Buthi berkata: “Jumhur kaum muslim sepakat bahwa sihir itu ada dan punya makna hakiki yang bisa teliti. Dalil ini adalah jampe-jampe yang dibasakan oleh Nabi untuk melindungi dirinya dari serangan sihir Labid bin al-A’sham, sebagaimana diriwayatkan oleh Bukhari dalam kitab shahihnya. Dan perlu diketahui bahwa sihir itu bisa dipelajari. Sebagaimana dalam al-Quran:
فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرء وزوجه ( البقرة : 102)
Mereka mempelajari dari kedua malaikat tersebut ilmu yang bisa meruntuhkan perkawinan orang lain. (al-Baqarah:102).
Sesuatu yang bisa dipelajari berarti punya makna hakeki (esensi dasarnya) yang bisa diteliti. Sebagian punya asumsi yang merupakan spekulasi ilmiah (wahm) yang kurang bisa dipertanggungjawabkan validitas datanya, yaitu bahwa sihir punya hakekat tersendiri yang tidak ada dalam jangkauan kudrat Allah. Pendapat ini keliru, sebab sihir masih tetap berkait dengan kekuasaan Allah. Persis seperti racun dan obat. Kedua benda ini tidak punya pengaruh (ta’tsir) tersendiri, kecuali ada kehendak Allah. Berkenaan dengan hal ini Allah SWT. berfirman:
وما هم بضارين به من احد الا باذن الله (البقرة : 102)
Mereka tidak bisa membuat madlarat (melalui sihir-sihirnya) kecuali atas izin Allah. (al-Baqarah: 102).
Dalam kitab Muqadimat, Ibnu Khaldun berkata: “Kemampuan melakukan sihir hanya bisa dilakukan dengan cara mengkonsentrasikan diri kepada bintang-bintang di langit, alam-alam meteor dan syaitan. Hal tersebut dilakukan dengan cara menyembah, tunduk dan takdhim dan menghinakan diri. Ini merupakan penghambaan diri kepada selain Allah. Dengan demikian, sihir dianggap sebagai perilaku kufur.”
Syaikh Abd al-Lathif Hamzah, seorang mantan mufti (hakim agung) Mesir, menyatakan bahwa jumhur fuqoha (ahli hukum Islam) mengeluarkan fatwa yang sama berkenaan dengan perihal sihir. Mereka bersepakat bahwa sihir bisa menimbulkan madharat namun tetap berdasar izin Allah.
Sihir juga telah ada sejak dulu. Sihir merupakan hasil ajaran syaitan yang diberikan kepada manusia. Dalam al-Quran terdapat ayat yang mengungkapkan tentang sihir secara jelas. Ayat tersebut:
واتبعوا ماتتلوا الشياطين على ملك سليمان وما كفر سليمان ولكن الشياطن كفروا يعلمون الناس السحر وما انزل على الملكين ببابل هروت ومروت وما يعلمان من احد حتى يقولا انما نحن فتنة فلا تكفر فيتعلمون منهما ما يفرقون به بين المرء وزوجه وما هم بضارين به من احد الا باذن الله ويتعلمون ما يضرهم ولاينفعهم ولقد علموا لمن اشتريه ما له فىالأخرة من خلاق ولبئس ما شروا به انفسهم لو كانوا يعلمون (البقرة: 102)
Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman. Sulaiman itu bukan orang kafir, namun juesteru syaitan-syaitan itulah yang kafir. Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua malaikat di Babilonia yang bernama Harut dan Marut. Keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seseorang kecuali mengatakan: “sesungguhnya kami hanya cobaan (untukmu). Maka, janganlah kamu menjadi kafir!” Dari kedua malaikat tersebut, manusia mempelajari ilmu-ilmu sihir yang bisa memecah belah rumah tangga orang lain. Sihir-sihir tukang tenung tersebut tidak akan mempan menjadi madharat (bagi orang lain) kecuali dengan izin Allah. Mereka mempelajari sesuatu yang berbahaya bagi dirinya dan sama sekali tidak ada nilai manfaat baginya. Padahal mereka tahu, orang yang melakukan hal tersebut tidak akan mendapat apa-apa di akhirat. Sungguh jahat diri orang yang menjual jiwa-jiwanya dengan sihir, jika mereka mengetahui. (al-Baqarah:102).
Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila kata sihir diucapkan, maka akan mengesankan sesuatu yang serem, misterius, jahat. Mantra-mantra dan peralatan yang digunakannya tidak mudah dipahami oleh pemikiran sekilas. Suasana serem, penuh kekuatan magis, menyebabkan bulu kuduk merinding tatkala berada dalam sebuah ruangan tertutup yang dipenuhi asap kemenyan serta benda-benda yang terkesan magis berderet mengelilingi tukang sihir.
Ke tempat itu ada orang meminta bantuan misalnya untuk membinasakan seseorang, menyakitkan seseorang, atau meminta mengguna-gunai seseorang. Kesan pertama yang diperoleh penulis ialah tukang sihir bersifat tertutup, tidak bersedia menerangkan sesuatu yang bersangkutan dengan sihir.
Menurut James Drever , bahwa proses ritual sebagai suatu sistem upacara atau prosedur magis merupakan bagian yang penting dalam sihir. Itu biasanya dilakukan dengan cara-cara khusus, kata-kata khusus atau rangkaian kalimat khusus yang biasanya dihubungkan dengan cara-cara khusus, kata-kata khusus atau rangkaian kalimat khusus yang biasanya dihubungkan dengan tindakan-tindakan penting. Ritual sihir mutlak harus dilakukan secara tepat.
Dalam setiap sihir terdapat mantra-mantra; antara mantra dan ritual sihir tidak dapat dipisahkan, ia merupakan satu kesatuan. Mantra adalah roh yang memberi kehidupan pada ritual, dan ritual adalah tempat kehidupan mantra. Mantra adalah kalimat sihir yang banyak ragamnya. Ada yang dalam bahasa Arab, Indonesia, Jawa, dan lain-lain. Ciri-ciri mantra, menurut Samudi Abdullah ialah sebagai berikut:
– Isinya mengandung kemusyrikan
– Kadang-kadang menggunakan ungkapan yang tidak dimengerti,
– Mendorong sugesti diri secara khayali,
– Pengucapannya secara rahasia (yang dimantrai tidak akan mengerti mantra itu),
– Ada anggapan bahwa lafal mantra itu mempunyai kekuatan magis.
Mantra tidak tergantung pada bahasa tertentu, karena itu sihir dengan ritualnya dan mantranya bukan monopoli bahasa tertentu. Suatu bahasa yang digunakan dalam mantra sihir tidak menjadikannya lebih unggul dari pada sihir dengan mantra berbahasa lain. Apa pun bahasa yang digunakan, asal saja dilaksanakan dengan menuruti ketentuan ritual sihir, maka sihir akan efektif, tanpa harus mengerti bahasa itu Inilah salah satu mantra:
Sang wewe putih gendongan aku, sang wewe abang aling-alingana aku, sang buto ijo aja ana ing kono, sukma toya ing buriku, landhep tan kathon, adoh tan katingal.
b. Kegunaan Sihir
Berdasarkan uraian di atas dapatlah diketahui bahwa kegunaan sihir lebih berorientasi pada orang yang memanfaatkannya (biasanya pemesan) dan penyihir itu sendiri (yang mendapat imbalan yang biasanya bersifat sukarela). Kegunaan bagi pemesan ialah ia puas bila musuhnya sakit atau binasa, bagi penyihir ia akan meningkat popularitasnya dan sejumlah materi yang diterimanya. Dengan demikian, bahaya sihir adalah kegunaanya dan kegunaanya adalah bahaya sihir.
Berikut adalah beberapa jenis sihir dan kegunaannya:
1) Sihir perceraian
Digunakan untuk menceraikan suami isteri atau untuk menimbulkan permusuhan antara orang yang bersahabat. Bentuknya mungkin:
2) Sihir mahabbah atau guna-guna
Digunakan oleh perempuan agar terlihat menarik
3) Sihir menipu penglihatan (hypnotis)
Tukang sihir mendatangkan sesuatu yang diketahui oleh orang,kemudian mengucapkan mantera lalu meminta bantuan setan sehingga orang melihat sesuatu itu tidak sebagaimana sebenarnya.
4) Sihir Gila
Jin yang ditugasi penyihir masuk ke dalam jasad sasaran dan diam di otaknya, kemudian menekan sel-sel otak yang berkaitan dengan daya pikir; saat itulah muncul gejala pada sasaran seperti orang gila.
5) Sihir lesu
Jin diperintahkan penyihir untuk berdiam di otak sasaran dan mempengaruhinya agar mengisolir diri dan menutup diri.
6) Sihir Suara Panggilan
Jin ditugasi menyibukkan orang yang disihir baik waktu tidur maupun jaga, jin itu menampakkan diri dalam tidur orang itu berupa binatang yang mengancamnya atau memanggilmanggilnya juga kadang-kadang seperti suara manusia yang dikenal orang itu atau dengan suara-suara aneh.
7) Sihir Penyakit
Sihir penyakit ialah sihir yang digunakan untuk membuat orang sakit
8) Sihir Pendarahan
Oleh penyihir jin ditugasi untuk mengeluarkan darah, dengan cara masuk ke dalam jasad (biasanya wanita) dengan cara masuk kedalam jasad wanita itu dan berjalan di urat bersama darah.
9) Sihir Menghalangi Pernikahan
Tukang sihir meminta nama gadis yang akan menikah, nama ibunya dan salah satu benda bekas pakainya. Lalu penyihir menugasi jin menempel gadis tersebut dan masuk pada gadis itu ketika gadis tersebut dalam satu dari empat keadaan yang memungkinkan, yaitu keadaan sangat takut, sangat marah, sangat lalai, gejolak nafsu syahwat.
Menurut Abu Abdullah al-Razi bahwa sihir itu ada delapan macam, yaitu:
1) Sihir orang-orang Kildan dan Kisydan yang menyembah tujuh bintang. Mereka meyakini bahwa bintang-bintang tersebut mengatur alam dan dapat mendatangkan kebaikan atau keburukan.
2) Sihir orang-orang yang berilusi dan berjiwa kuat.
3) Sihir yang dilakukan dengan cara meminta bantuan roh-roh rendah yaitu setan.
4) Sihir yang tampak pada penyusunan alat-alat tertentu berdasarkan ukuran-ukuran tertentu.
5) Sihir dalam bentuk hayal, hipnotis, dan sulap.
6) Sihir yang menggantungkan obat-obat khusus yakni dalam berbagai makanan dan minyak.
7) Sihir dalam bentuk yang menggantungkan ke hati
8) Sihir dalam bentuk menggunjing dan mendekat dengan cara yang ringan dan lembut.
Dilihat dari klasifikasinya Suroso Orakas membagi sihir menjadi dua, yaitu sihir klasik dan sihir modern. Sihir klasik adalah sihir yang dilaksanakan secara tradisional dan bisa dilakukan oleh pawang atau penenung. Sihir klasik ini dibagi tiga, yaitu:
– Sihir dengan konsentrasi penuh pada tujuan,
– Sihir dengan menggunakan alat bantu
– Sihir dengan gerakan-gerakan tertentu disertai mantra-mantra.
Sihir modern ialah sihir yang dilaksanakan dengan cara-cara modern, praktis dan sederhana, yang biasanya dilakukan oleh ahli hipnotis dan paranormal.

c. Beberapa tanda Penyihir dan Bentuk-bentuk Sihir
Di antara tanda-tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah tukang sihir adalah sebagai berikut::
1. Bertanya kepada klien nama ayah dan ibunya.
2. Mengambil atau meminta benda bekas dipakai (seperti peci, sapu tangan, kain) orang yang akan disihir.
3. Meminta binatang dengan sifat-sifat tertentu untuk disembelih tidak dengan menyebut nama Allah, kadang-kadang melemparkan darah itu ke tempat sepi.
4. Menuliskan jimat-jimat tertentu.
5. Membaca mantera yang tidak dipahami.
6. Memberi hijab (semacam kerudung) yang bersegi empat di dalamnya ada huruf-huruf atau angka.
7. Meminta klien (yang diobati) agar tidak bertemu orang lain (‘uzlah) selama masa tertentu di dalam kamar yang tidak kemasukan sinar matahari; orang awam menyebutnya hijbah atau nyepi.
8. Kadang-kadang meminta klien tidak menyentuh air selama masa tertentu, biasanya 40 hari.
9. Memberikan kepada klien benda-benda yang harus ditanam di tanah
10. Memberi klien kertas untuk dibakar dan berasap dengannya.
11. Kadang-kadang memberitahukan kepada klien namanya, nama negeri asalnya dan persoalan yang akan ditanyakan klien, jadi, ia mampu menebak.
12. Menuliskan sesuatu di kertas atau di piring tembikar warna putih dan memerintahkan penderita agae melarutkannya dan meminum airnya.
Menurut al-Razi bahwa sihir ada delapan macam:
1. Sihir al-Kadzabin dan al-Kaldaniyyin. Yaitu sihir yang dilakukan oleh orang-orang yang dalam prakteknya mereka menyembah tujuh jenis bintang (planet) yang beredar di langit.
2. Sihir al-Awham, yaitu sihir yang sumbernya adalah kekuatan dasar manusia.
3. Sihir yang dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada roh-roh gaib yang ada di muka bumi, roh tersebut adalah jin. Perilaku termasuk perbuatan kafir.
4. Sihir yang dilakukan dengan menipu pernglihatan mata. Di masa sekarang praktek sihir ini dilakukan oleh tukang-tukang sirkus.
5. Sihir dengan menggunakan alat-alat teknologi, yaitu permainan-permainan yang menggunakan alat elektronik modern.
6. Sihir dengan menggunakan obat-obat tertentu.
7. Sihir yang dilakukan dengan mengelabui hati orang. Seorang tukang sihir memberikan sebuah ilustrasi bahwa ia dibantu oleh jin yang menjadi taklukannya. Orang yang mempercayainya akan merasa takut sehingga panca inderanya tidak berfungsi normal karena tersugesti.
8. Sihir yang dilakukan dengan cara terselubung, yaitu dengan cara mengirimkan hembusan-hembusan penyakit lewat bantuan makhluk-makhluk halus.
Syaikh Badr al-Din al-‘Ainy berkata bahwa ada beberapa bentuk sihir yang biasa terjadi. Pertama, sihir yang terjadi dengan jalan mengkelabui orang. Hal ini sering terjadi dalam kegiatan yang dilakukan oleh tukang sulap. Kedua, sihir yang terjadi karena bantuan syaitan setelah merena dijadikan sebagai tuhan. Ketiga, dengan cara berkomunikasi dengan bintang-bintang di langit dan memanggil roh-roh yang bersemayam di dalamnya. Keempat, dengan cara membuat rumus-rumus hurup (azimat atau isim).

d. Keterkaitan antara Sihir dengan Jin
Sudah menjadikan kesepakatan seluruh tokoh-tokoh Islam, begitu juga yang lain, bahwa sebagian orang ada yang bisa komunikasi langsung dengan jin dan meminta bantuan mereka. Kemampuan komunikasi tersebut dikenal dengan istilah taskhir al-jin (menundukan jin).
Masalah sihir masuk ke dalam kerangka kajian perjinan ini. Sebab, tukang sihir suka meminta bantuan kepada jin, syaitan atau ifrit untuk melakukan apa-apa yang diinginkan olehnya. Di antara cara mendatangkan jin ialah sebagai berikut:
1) Thariqat al-Iqsam (bersumpah atas nama jin)
Masuk kedalam kamar gelap, kemudian menyalakan api dan meletakkan kemenyan di atas api tersebut, sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Jika ingin menceraikan, menimbulkan permusuhan, kebencian atau sejenisnya, maka ia harus meletakkan kemenyan yang berbau tidak enak.
2) Thariqat al-Dzabhi (menyembelih sembelihan)
Mendatangkan seekor burung, ayam, burung dara, atau binatang lainnya yang memiliki sifat-sifat tertentu sesuai permintaan jin, biasanya berwarna hitam, kemudian menyembelihnya tanpa menyebut nama Allah, kadang-kadang penderita (yang sakit) diolesi darahnya, kemudian melemparkan hewan itu ke tempat reruntuhan, sumur, atau tempat kosong yang biasanya menjadi tempat tinggal jin. Ketika melemparkannya tidak boleh menyebut nama Allah, kemudian kembali ke rumahnya lalu mengucapkan mantera, kemudian memerintahkan jin melakukan sesuatu yang diinginkannya.
3) Thariqat Sufliyah (melakukan kenistaan)
Yang menempuh cara ini biasanya memiliki sejumlah pembesar jin yang siap melakukan perintahnya.
4) Thariqat Najasah (menuliskan du’a tertentu dengan menggunakan najis)
Menuliskan salahsatu bentuk du’a dengan menggunakan darah haid atau benda najis lainnya, kemudian mengucapkan mantera-mantera sehingga datang jin yang diinginkan, lalu diperintahkan untuk melakukan sesuatu.
5) Thariqat al-Tankis (menuliskan ayat al’Qur’an susunan sungsang)
Menuliskan salah satu surat al-Qur’an dengan huruf terpisah-pisah dan sungsang, kemudian mengucapkan mantera sampai jin yang diinginkan datang untuk diperintah.
6) Thariqat Tanjim (menunjum menggunakan bintang)
Menunggu munculnya binatang tertentu, kemudian berbicara dengannya dengan bacaan sihir lalu membaca mantera-mantera. Setelah itu ia melakukan beberapa gerakan untuk menurunkan spirit bintang itu, sekalipun orang yang menujum tidak menyadarinya.
7) Thariqat Kaffi (melihat melalui telapak tangan)
Menghadirkan anak kecil yang belum baligh, tidak dalam keadaan wudhuk, pada telapak tangan kiri anak kecil itu dibuat gambar segi empat, disitu ditulis mantra-mantra sihir. Mantra itu ditulis disekitar segi empat itu, di tengah segi empat itu diletakan minyak dan bunga warna biru atau minyak dan tinta biru, kemudian di tulis mantra lain dengan huruf-huruf terpisah di atas kertas memanjang, kemudian kertas itu diletakan seperti payung di wajah anak itu dan dipakai topi, kemudian anak itu ditutup seluruh badannya dengan pakaian berat. Dalam keadaan seperti itu anak kecil itu melihat telapak tangannya, tentu saja ia tidak dapat melihat apa-apa karena gelap. Penyihir membaca mantra. Anak itu akan merasa tenang dan melihat gambar yang bergerak-gerak di telapak tangannya. Tukang sihir bertanya, apa yang kamu lihat? Anak itu menjawab bahwa ia melihat gambar seorang laki-laki. Tukang sihir berkata agar anak itu mengatakan kepada lelaki itu bahwa sang dukun (penyihir) menyuruh ini atau itu, kemudian gambar itu bergerak sesuai perintah. Biasanya sihir ini digunakan untuk mencari sesuatu yang hilang.
8) Thariqat al-Atsar (menggunakan benda bekas pakai)
Meminta pada klien benda bekas pakainya, seperti sapu tangan, peci atau apa saja yang mengandung bau keringatnya, kemudian mengikat sapu tangan tersebut dari ujung lalu sekitar empat jari (dari ujung) dipegang dengan kuat seraya membaca mantera dengan suara lirih, kemudian memanggil jin dan berkata: jika penyakitnya disebabkan oleh jin maka hendaklah kalian mendekatkannya (sapu tangan itu), jika karena gangguan mata (dengki), maka panjangkan jika penyakitnya berkenaan dengan urusan kedokteran, hendaklah kalian membiarkan sebagaimana adanya. Kemudian sapu tangan itu diukur lagi. Jika memanjang lebih dari empat jari, maka penyihir itu mengatakan bahwa pasien kena gangguan mata, dan begitu seterusnya sesuai ukuran yang ditemukan.
Jin yang telah takluk akan mau melaksanakan apa saja yang diinginkan oleh tukang sihir, seperti halnya si tukang sihir harus mau melaksanakan apa yang diinginkan oleh jin dan mengaku jin sebagi tuhan yang disembah olehnya selain Allah.
Fakhr al-Razi menyatakan, “Tukang-tukang sihir dan paranormal berkeyakinan bahwa untuk melakukan komunikasi langsung dengan jin bisa dilakukan dengan cara sepele, yaitu berupa membacakan mantera-mantera, kemenyan dan semedi. Cara ini disebut dengan istilah ‘azaim dan taskhir al-jin.”
Ibnu Taimiyah berkata: “Orang-orang yang biasa meminta bantuan kepada jin, dengan azimat, jampe-jampe dan mantera-mantera, berpraduga bahwa Nabi Sulaiman suka meminta bantuan kepada jin dengan mantera dan jampe-jampe. Beberapa ulama salaf menyatakan bahwa ketika Sulaiman meninggal syaitan-syaitan menulis buku-buku sihir yang disimpan di bawah kursi kerajaan Sulaiman. Ketika itu syaitan pada berkata sesungguhnya Sulaiman suka meminta bantuan kepada jin dengan jampe-jampe yang ada dalam buku ini. Dengan penipuan syaitan tersebut sebagian ahl al-kitab mencerca Sulaiman”.
Sedangkan sekelompok ahl al-kitab berkata bahwa kalau sihir dan minta bantuan kepada jin bukan ‘hak’ yang dibolehkan, Sulaiman tidak akan melakukannya.
Berkenaan dengan dua persepsi dari dua kelompok yang berbeda tersebut, Allah menuturkan dalam al-Quran:
ولما جاءهم رسول من عند الله مصدق لما معهم نبذ فريق من الذين أتوا الكتاب كتاب الله وراء ظهورهم كأنهم لايعلمون (البقرة: 101)
Dan ketika seorang rasul Allah datang kepada mereka untuk membenarkan apa yang ada pada mereka, sebagian orang-orang yang diberi kitab (Taurat) melemparkan kitab Allah ke belakang punggungnya seolah-olah mereka tidak mengetahuinya.
Lebih lengkapnya. penjelasan ini dimuat dalam tiga ayat yang berakhir dengan ungkapan :
لو انهم امنوا واتقوا لمثوبة من عندالله خير لو كانوا يعلمون
Jika mereka iman dan taqwa, pasti akan mendapat balasan baik dari Allah, jika mereka mengetahuinya.
Dr. Husaini Abu Farhat, mantan Dekan Fakultas Dakwah Universitas al-Azhar, berkata: “Banyak masyarakat mendatangi orang-orang yang bisa komunikasi dengan jin. Mereka meminta agar diberi kemampuan menaklukan bangsa jin untuk dijadikan pembantunya. Bangsa jin punya kekuatan riil yang bisa ditaklukan (dikalahakan) oleh orang-orang yang bisa komunikasi langsung dengan mereka. Sehingga, dengan bantuan jin yang ditaklukan, sebagian dari mereka ada yang bisa menerka kejadian atau berita masa lampau dan berpindah tempat dengan cepat dari satu tempat ke tempat lain. Bangsa jin suka ikut bersama-sama dengan kita di rumah, namun kita tidak bisa melihatnya. Ketidak mampuan kita melihat bentuk jin secara fisik karena mereka bergerak dengan kecepatan luar biasa. Orang-orang yang mampuh komunikasi dan menaklukan jin, kemungkinan besar akan bisa mengetahui imformasi tentang berita seseorang, baik berkenaan dengan masa yang lampau atau sekarang, melalui imformasi dari jin yang biasa menempati rumah manusia”.
Sebagian tukang-tukang jin, kata Ibnu Taimiyah, ada yang suka dibawa terbang oleh jin, seperti mendatangi kota Makah, Palestina atau yang lainnya. Ada sebagian dukun yang dibawa terbang ke tanah Arofah (pada saat musim haji) di waktu sore dan malam harinya telah kembali. Kedatangan ke tempat melaksanakan haji tersebut, bukan untuk melaksanakan haji, sebab, ia tidak melakukan ihram, talbiyah, mabit, tawaf, sa’i, dan melempar jumrah, namun sekedar diam sebentar di tanah Arofah dan sekembalinya ia mengaku telah melasanakan haji.
Sebagian dukun-dukun, ada yang suka berbicara dengan syaitan (Jin kafir) dalam bahasa yang tidak bisa difahami. Terkadang jin-jin itu berbicara dengan bahasa yang bermacam-macam, seperti yang suka terjadi pada orang yang kesurupan.
Yang cukup menarik masalah ini adalah kejadian yang menimpa para dukun ketika mereka mimpi bertemu dengan orang-orang terhormat, seperti Abu Bakar dan yang lainnya. Ia mimpi dicukur oleh Abu Bakar dan diberi pakaian dan kopiyah untuk dipakainya. Pada waktu pagi-pagi, rambut ia telah gundul dan di atas kepalanya telah terpasang kopiyah. Ternyata jin dia yang menggunduli dan memakaikan kopiyah tersebut.
Sebagian jin ada yang suka mendatangkan wanita yang dicintai oleh seseorang untuk diserahkan kepada orang tersebut. Hal ini pernah terjadi kepada beberapa orang Islam, Yahudi dan Nasrani. Kejadian ini sering sekali teralami oleh orang-orang kafir, baik di Timur maupun di Barat.
Sebagian jin ada yang suka menampakan diri dalam bentuk orang yang telah meninggal, sehingga orang-orang yakin bahwa itu adalah jasad si mayit. Jin-jin yang muncul dalam bentuk jasad orang yang telah meninggal dunia, terkadang, suka melaksanakan kewajiban-kewajiban mayit yang belum terpenuhi, seperti membayar hutang, mengembalikan titipan yang belum diserahkan. Juga, jin suka masuk ke dalam jasad suami atau isteri mayit. Orang-orang kafir India suka membakar mayit, dengan keyakinan bahwa mayit-mayit suka hidup kembali, karena memang sering terjadi jin menjelma dengan orang-orang yang telah meninggal.
Sebagian dukun sering melihat kuburan membelah dan keluar jasad mayitnya. Dukun meyakini bahwa itu adalah mayit yang dikubur. Padahal, itu adalah jin yang menampakan diri dengan jasad orang yang telah meninggal. Bahkan, ada sebagian dukun yang terkadang melihat seekor kuda keluar dari kubur atau masuk ke dalam kubur, padahal itu adalah syaitan.
Sebagian ahli bid’ah, kata Ibnu Taimiyah, ada yang suka menyimpan celana dalam di kuburan. Mereka menemukan celana tersebut dalam keadaan menali. Atau mereka suka menyimpan orang kesurupan di kuburan, sehingga mereka melihat syaitan keluar dari jasadnya.
Sebagian jin ada yang biasa menampakan diri dalam bentuk seseorang yang tebal rambutnya. Kulit dia seperti kambing. Orang yang tidak tahu menyangka bahwa itu adalah seorang manusia, padahal ia seorang jin.
Saya (kata Ibnu Taimiyah) sering melihat orang yang berbicara dengan tumbuh-tumbuhan, pepohonan dan batu-batu. Semuanya adalah karena jin yang ada dalam benda-benda itu. Dengan membacakan ayat kursi pasti mereka lari.
Suatu saat, kata Ibnu Taimiyah, saya melihat seseorang yang bermaksud memburu burung. Ketika bertemu dengan seekor burung Pipit, burung itu bisa berbicara: “ tolong aku ambil, supaya orang-orang fakir tidak memakanku!”
Perlu diketahui, lanjut Ibnu Taimiyah, bahwa syaitan suka masuk ke dalam burung, seperti biasa masuk ke dalam badan manusia. Bahkan, ada seseorang yang melihat orang yang seperti dirinya sendiri. Atau, terkadang syaitan menjelma teman dekat seseorang, sehingga ia menganggap bahwa itu adalah temannya, padahal ia adalah syaitan.
Kadang-kadang syaitan (jin) suka menjelma dalam bentuk Khidlir dan suka memberi informasi tertentu berkaitan dengan hal-hal gaib. Atau, menjelma seseorang yang mengaku sebagai pembawa berita dari Allah, sehingga sebagian orang meyakini bahwa itu adalah al-Mahdi yang telah diberitakan oleh Nabi Muhammad akan muncul ke dunia. Makhluk atau orang yang menjadi penjelmaan syaitan terkadang punya kemampuan melakukan hal-hal yang luar biasa (al-khawariq), seperti bisa menyuruh burung untuk diam atau pergi.
Semua yang dilakukan oleh syaitan, baik berupa penjelmaan atau kemampuan membuat hal-hal yang luar biasa, adalah semata-mata untuk menyasarakan manusia.
Jika kita membaca ayat al-kursi dengan benar-benar, makar syaitan itu akan tidak kena. Sebab, keyakinan (tauhid) kepada Allah akan mampuh mengusir syaitan.
Ada sebagian yang dibawa terbang oleh jin (syaitan), kemudian ia membaca kalimat al-tauhid (laa ilaaha illa allah), maka jatuh dari udara.
Menurut Ibnu Taimiyah, masalah ini sangat panjang lebar. Kalau dibahas lebih lanjut akan menghabiskan beberapa puluh buku
Di zaman modern ini, kejadian tentang jin sering terjadi di antara masyarakat. Penyebab utama kejadian ini, kata Ibnu Taimiyah, karena orang-orang meninggalkan al-kitab dan al-sunah.
Di antara bangsa jin ada yang kafir, fasik, dan ada yang sering melakukan kekeliruan. Kekufuran dan kefasikan mereka sama dengan kekufuran dan kefasikan bangsa manusia. Jin sangat suka membantu manusia untuk melakukan kekafiran dan kefasikan, seperti sumpah dengan atas nama mereka atau menulis asma Allah dengan barang-barang najis, menulis al-fatihah dibalikan, atau surat-surat lainnya, seperti ayat al-kursi dan al-ikhlash.
Ibnu Taimiyah berkata: “Sebagian tukang jin (al-syuyukh) menceritakan sebuah pengalamannya. Suatu saat ada seorang jin memperlihatkan benda berkilau seperti kaca kepadaku. Dalam benda tersebut kita dapat melihat beberapa berita yang ingin diketahui. Saya memberitahukan kepada orang-orang dan mereka mencoba saya untuk mengetahui ada orang yang sedang meminta bantuan. Maka saya bisa memberitakan orang tersebut dan ternyata itu benar”.
Istilah yang tepat untuk memberi nama pemilik benda berkilau tersebut adalah fath al-mandil (peramal nasib). Lewat benda tersebut, tukang ramal bisa memberitahukan barang atau orang yang hilang. Kemampuan meramal ia dibantu oleh syaitan.
Istilah lain yan biasa diberikan kepada orang-orang yang bisa berkomunikasi dengan jin atau syaitan adalah al-kuhanat, al-‘urafun, al-munjimun. Mereka adalah orang-orang yang bisa meramal hari esok dengan metoda penghitungan perjalanan bintang dan planet.
Ada beberapa hadits yang melarang untuk mendatangi dan mempercayai berita-berita para dukun. Di antaranya:
من اتى عرافا فساله عن شيئ لم تقبل له صلاة اربعين ليلة (رواه مسلم)
Barang siapa mendatangi tukang ramal, shalatnya tidak akan diterima selama empat puluh malam.
من اتى كاهنا او عرافا فصدقه بما يقول فقد كفر بما انزل على محمد
Barang siapa mendatangi dukun atau tukang rama, kemudian ia membenarkan apa yang diucapkannya, ia telah kafir terhadap al-Quran yang telah diturunkan kepada Muhammad.
Menurut al-Baghawi bahwa yang dimaksud dengan al-‘urraf adalah orang yang mengaku dirinya mengetahui sesuatu dengan rumus-rumus tertentu dalam mencari sesuatu yang dicuri orang atau hilang. Namun sebagian pendapat, ‘uraf sama dengan kahin.
Kahin adalah orang yang bisa meramal sesuatu yang akan terjadi di masa mendatang. Sedangkan menurut sebagian orang yang dimaksud dengan kahin adalah orang yang bisa menebak isi hati orang lain.
Menurut Ibnu Taimiyah bahwa al-‘uraf adalah nama untuk dukun, ahli nuzum, tukang ramal dan orang-orang yang punya kemampuan untuk menerka-nerka sesuatu dengan cara-cara yang telah disebutkan di atas. Imam Ahmad bin Hambal berpendapat bahwa al-‘urafat adalah bagian dari praktek sihir.
Yang termasuk ke dalam kerangka sihir adalah praktek nujum (astrologi mistik). Pelaku sihir dan tukang nujum sama-sama kejinya.
Dalam buku Talbis Iblis, Ibnu Jawzi menceritakan seorang laki-laki yang punya keanehan karena bantuan jin. Suatu saat, kata Ibnu Jawzi, laki-laki itu masuk ke dalam mesjid dan mengusap sebuah meja yang terbuat dari pualam. Ketika diusap olehnya, meja itu bisa mengucapkan tasbih. Laki-laki tersebut punya kemampuan memberi buah-buahan yang semestinya ada di musim panas tapi justeru ia bisa mendatangkannya di musim dingin.Dan juga suatu saat pernah ada kejadian aneh, yaitu ketika ia meminta masyarakat untuk keluar rumah sebab ia menjanjikan bisa menghadirkan para malaikat di udara. Memang ternyata ada bebarapa oang di udara yang menunggangi kuda. Menurut dia itu adalah malaikat, padahal semuanya adalah jin yang dipelihara olehnya.
Musalaimah al-Kadzab (yang mengaku-ngaku nabi) punya beberapa syaitan (jin) yang suka memberi tahu tentang hal-hal ghaib dan membantu dalam melakukan sesuatu yang dikehendaki olehnya. Begitu juga, al-Aswad al-‘Unsy, orang yang mengaku menjadi nabi, punya beberapa jin yang selalu membarengi dan membantunya. Selain dua orang tersebut, ada beberapa orang yang sama mengaku nabi dan punya pembantu dari bangsa jin. Di antaranya al-Harts al-Dimasiqi pada zaman Raja Malik bin Marwan di Syam. Harits al-Dimasiqi bisa keluar dari belenggu (rantai) yang dijadikan pengikat dia dan tidak tembus oleh pedang (weduk). Bahkan, ada sebuah meja dari batu pualam yang kalau diusap oleh dia bisa mengucapkan tasbih. Suatu saat masyarakat pernah melihat beberapa orang yang ada di udara sambil menunggangi kuda. al-Dimasiqi berkata bahwa mereka itu adalah malaikat. Padahal kenyataanya adalah jin peliharaan dia. Ketika masyarakat menangkap dia untuk dihukum bunuh, beberapa tebasan pedang dan lemparan tumbak tidak mempan kepadanya, kecuali ketika Malik bin Marwan menebasnya.
Di antara fenomena prilaku jin adalah kejadian keranda mayit yang terbang. Kejadian ini sering sekali. Keranda yang terbang tersebut karena dibawa terbang oleh syaitan (jin).
Sebagian bentuk hubungan jin dengan manusia terjadi dalam sihir. Sebab, sihir, hakekatnya, adalah hubungan yang terjadi antara bangsa manusia dengan jin yang menimbulkan kemadlaratan. Seorang tukang sihir suka meminta bantuan kepada jin untuk menggangu manusia, baik berupa timbulnya penyakit, tidak bisa melakukan hubungan badan dengan pasangannya, atau gangguan-gangguan lain. Bahkan, ada juga sihir yang dilakukan oleh jin dengan cara memasukan benda-benda tertentu dalam jasad manusia.
Dalam buku al-Kabair, al-Dzahabi mengungkapkan satu pendapat bahwa banyak sekali manusia melakukan prilaku-prilaku yang dikategorikan sihir. Di antaranya adalah bacaan-bacaan tertentu (pelet) yang bisa menjadikan wanita menjadi cinta kepada pembacanya. Semuanya itu merupakan sihir yang bukan sekedar haram, namun masuk kepada kerangka perilaku kafir.
Sihir akan terjadi dengan sempurna ketika dilakukan oleh seorang tukang tenung yang mengabdi diri kepada syaitan. Tukang-tukang sihir jika tidak bertaubat akan ber sama-sama dengan barisan syaitan menempati neraka di hari akhirat, sebagimana dijelaskan oleh al-Quran:
وقال الشيطان لما قضي الأمر إن الله وعدكم وعد الحق ووعدتكم فاخلفتكم, وما كان لي عليكم من سلطان الا ان دعوتكم فاستجبتم لي فلا تلوموني ولوموا انفسكم ما انا بمصرخكم وما انتم بمصرخي اني كفرت بما اشركتمون من قبل ان الظالمين لهم عذاب اليم (ابراهيم: 22)
Ketika keputusan (hisab) Allah telah diputuskan, syaitan berkata: sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadamu janji yang benar. Dan aku telah menjanjikan kepadamu dan aku meyalahinya. Sekali-kali tidak ada kekuasaan bagiku terhadapmu, melainkan sekedar aku meyeru kamu lalu kamu mematuhi seruanku. Oleh sebab itu, janganlah engkau sekalian mencercaku tapi cercalah dirimu. Aku, sama sekali, tidak bisa menolongmu dan begitu juga kamu tidak bisa menolongku. Sesungguhnya Aku tidak membenarkan perbuatanmu dalam mempersekutkanku dengan Allah sejak dulu. Sesungguhnya orang-orang yang dzalim itu mendapat siksaan yang pedih.

e. Kedudukan Pelaku Sihir
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Turmudzi Nabi Muhammad menyatakan bahwa hukuman bagi pelaku penyihiran (tukang sihir) adalah dibunuh. Namun, hadits ini dianggap mauquf, hanya sampai pada seorang sahabat yang bernama Jundab bin ‘Abd Allah. ‘Umar bin Khatab, sebagimana diriwayatkan dalam riwayat yang shahih, menyuruh untuk membunuh tukang sihir.
Dalam sebuah riwayat shahih disebutkan bahwa Hafsah ra., menyuruh membunuh budak belian yang kabur dam mensihir dirinya. Namun, tindakan Hafsah diprotes oleh Usman karena tidak berdasarkan perintah dari dirinya (saat itu Usman menjabat sebagai khalifah). Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa ‘Aisyah menyruh membunuh budak belian yang kabur darinya dan mencoba menyihir beliau. Namun, riwayat lain disebutkan bahwa budak belian tersebut dijual kepada orang lain oleh ‘Aisyah. Riwayat ini disampaikan oleh Ibnu Mundzir dan lain-lain.
Adapun Rasulullah tidak membunuh kepada orang Yahudi yang mensihir dirinya. Dengan alasan inilah Imam Syafi’i dan Abu Hanifah menetapkan bahwa tukang sihir tidak boleh dibunuh. Sedangkan Imam Malik dan Imam Ahmad berpendapat bahwa tukang sihir harus dibunuh.
Perlu diketahui, bahwa Imam Ahmad melarang membunuh tukang sihir kafir dzimi. Alasannya adalah apa yang dilakukan oleh Rasulullah ketika ia disihir oleh seorang Yahudi yang bernama Labid bin al-A’sham. Rasulullah tidak membunuh terhadap tukang sihir tersebut.
Hafidh bin Ahmad Hukma berpendapat bahwa seorang tukang sihir yang praktek sihirnya berdasar ajaran yang diberikan oleh syaitan, sebagaimana diungkapkan dalam surat al-Baqarah 102, maka ia termasuk orang kafir.
Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah khabar dari Jundab bahwa Rasulullah bersabda: hukuman tukang sihir adalah dibunuh dengan pedang. Turmudzi menyebut bahwa riwayat tersebut shahih dan mauquf. Hadits ini, kata Turmudzi, diamalkan oleh tokoh-tokoh ilmu dari kalangan para shahabat Nabi dan yang lainnya, termasuk pendapat Malik bin Anas.
Imam Syafi’i berpendapat bahwa seorang tukang sihir harus dibunuh jika prilaku sihirnya sampai kepada tahap kekafiran, adapun kalau tidak mencapai kepada tahap kekafiran, ia tidak boleh dibunuh.
Hukum bunuh bagi tukang sihir pernah dilakukan oleh Umar, Abd Allah bin Umar, Hafshah, Ustman bin Affan, Jundab bin Abd Allah, Jundab bin Ka’ab, Qais bin Sa’ad, Umar bin Abd al-‘Aziz, Ahmad bin Hambal dan Abu Hanifah.
Imam Nawawi berpendapat bahwa sihir adalah haram. Berdasarkan ijma, sihir termasuk salsatu dari dosa besar. Rasulullah menyebut sihir sebagai bagian dari tujuh dosa besar yang bisa membinasakan (al-sab’ al-mubiqat). Praktek sihir ada yang masuk ke dalam kategori kufur, ada yang hanya berkategori dosa besar dan tidak termasuk kafir. Kalau dalam prakteknya ada ucapan atau pekerjaan yang berindikasi kufur, maka praktek sihir tersebut termasuk kufur. Adapun belajar dan mengajar sihir adalah haram dan termasuk prilaku kufur yang wajib diminta tobat kepada pelakunya. Jika seorang tukang sihir tidak mau taubat, wajib dibunuh. Kalau ia taubat, maka taubatnya diterima.
Imam Malik berpendapat bahwa tukang sihir, secara pasti, termasuk orang kafir yang wajib dibunuh dan tidak harus disuruh taubat. Taubat yang dilakukan olehnya tidak bisa diterima, seperti taubatnya orang-orang zindiq.
Qadli ‘Iyad menyebutkan bahwa pendapat Malik tersebut merupakan landasan yang dipakai oleh Ahmad bin Hanbal, sebab pendapat itu diriwayatkan dari para sahabat dan tabi’in.
Ibnu Khaldun berkata:
Kegiatan sihir dilakukan dengan cara menkonsentrasikan diri kepada benda-benda luar angkasa, menyembah dan mengangungkan syaitan. Penyembahan diri kepada selain Allah adalah perbuatan kufur. Oleh sebab itu, sihir adalah prilaku kufur, termasuk sarana dan sebab-sebab yang mendorong terbentuknya kegiatan sihir.
Orang yang terlibat dalam sihir, berdo’a dengan memanggil nama-nama syaitan, menghembuskan napas lewat buhul-buhul, membuat isim dan azimat yang memuat nama-nama jin, membacakan pelet (kekuatan magic untuk menciptakan daya tarik birahi kepada lawan jenis), maka ia telah masuk ke dalam arena kekufuran.
Menurut Syaikh ‘Athiyah Saqar, sihir banyak dipelajari oleh manusia dengan tujuan mencelakakan orang lain bukan tujuan kemaslahatan dan kemanfaatan. Karena inilah ada beberapa ayat Quran dan sunah yang menjelaskan bahwa sihir adalah perbuatan dosa besar, bahkan termasuk kufur jika seorang manusia meyakini ada pengaruh sihir tersendiri dalam akibatnya bukan dengan izin dan kehendak Allah. Begitu juga, orang yang kena sihir, kemudian berkeyakinan bahwa tukang sihir bisa menyembuhkannya, telah melakukan dosa besar.
Rasulullah bersabda:
ليس منا من تطير او تطيرله او تكهن او تكهن له او سحر او سحر له
Bukan termasuk umat kami orang-orang yang mencelakakan orang lain atau merasa dicelakakan oleh orang lain, bukan termasuk umatku orang yang menjadi dukun dan mendatangi dukun, bukan umatku tukang sihir dan orang yang suka mendatangi tukang sihir.
Dr. Husaini Abu Farhah berkata bahwa tukang sihir bisa membunuh orang lain dengan sihirnya atau mengirimkan penyakit. Oleh sebab itu, Islam menganggap sihir sebagai dosa besar.
Dr. Abd al-Ghani al-Raji berpednapat bahwa orang yang membunuh orang lain dengan sihir, maka wajib dibunuh lagi melalui sihir.
Dalam sebuah hadits yang lalu telah disebutkan bahwa mendatangi tukang sihir, dukun, tukang ramal dan membenarkan apa yang diucapkannya, sungguh telah kufur (inkar) terhadap apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad –shalla al-allah ‘alaih wa sallam. Dengan demikian, mendatangi tuakang sihir haram hukumnya.
Syaikh Ahmad bin Hamd al-Khalili, seorang mufti ‘am negeri Yaman, menfatwakan bahwa seorang tukang sihir murni adalah bukan seorang muslim. Betapa kerasnya apa yang diucapkan oleh Rasulullah berkenaan dengan tukang sihir itu. Sampai-sampai Rasul menyuruh untuk membunuh mereka.
Syaikh Sa’id bin Khalaf al-Karushi, Hakim Agung pengadilan tinggi di Misqath (sebuah propinsi di Mesir bagian selatan) mengeluarkan fatwa bahwa sihir dan tenung adalah haram. Keduanya termasuk dosa besar. Orang yang melakukannya adalah mudlil (sasar), fasiq, munafiq, sehingga ia melakukan taubat. Dalam hadits Nabi disebutkan, sebagaimana diriwayatkan oleh al-Turmudzi, : hukuman tukang sihir adalah dibunuh dengan pedang.
Menurut sebagian pendapat, seorang tukang sihir dibunuh jika prilaku sihirnya telah mencapai tahap kekufuran. Dalam sebuah hadits diesbutkan :
من اتى كاهنا فصدقه فقد كفر بما انزل على محمد
Orang yang datang kepada dukun dan membenarkan apa yang diucapkannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkan kepada Muhammad.
Syaikh Abd al-‘Aziz bin Baz, Direktur Utama Lembaga Penelitian, Dakwah dan Penyuluhan Kerajaan Saudi Arabia, mengeluarkan fatwa bahwa seorang yang sakit haram mendatangi dukun untuk meminta dicek penyakitnya, seperti halnya haram menganggap betul terhadap informasi yang disampaikan oleh dukun-dukun. Sebab, mereka bicara lewat spekulasi terhadap hal-hal ghaib atau hasil minta bantuan kepada jin agar mengkabulkan apa yang dikehendaki oleh mereka. Sikap dan tindakan para dukun termasuk sasar dan kafir, sebab mereka mengaku mengetahui hal-hal gaib.
Dalam memperkuat pendapatnya, Syaikh Abd al-‘Aziz bin Baz mengungkapkan sebuah hadits yang telah disebutkan di depan:
من اتى عرافا فسأله عن شيئ لم تقبل له صلاة اربعين يوما
Orang yang datang kepada dukun untuk bertanya tentang sesuatu, maka shalatnya tidak diterima selama 40 hari. (Hadits Riwayat Muslim).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah –radliya al-Allah ‘anh- sesungguhnya Nabi Muhammad bersabda:
من اتى كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما انزل على محمد
Orang yang datang kepada kepada dukun dan membenarkan apa yang disampaikannya, ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.
Hadits ini diriwayatkan oleh Ashab al-Sunan dan dinyatakan shahih oleh Imam Hakim dengan dukungan hadits jalan lain yang redaksinya hampir persis:
من اتى عرافا او كاهنا فصدقه بما يقول فقد كفر بما انزل على محمد
Orang yang datang kepada tukang ramal atau dukun, kemudian membenarkan apa yang disampaikannya, ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad.
Dalam beberapa hadits tersebut Nabi tersebut, terdapat larangan mendatangi tukang ramal dan bertanya kepada mereka serta membetulkan apa yang disampaikan oleh mereka. Selain itu, ada ancaman dari Nabi bagi orang yang selalu mendatangi dukun atau tukang ramal.
Dengan demikian, wajib bagi pemerintah, ahl al-hisbat (pengawas sosial) dan orang-orang yang punya kekuasaan untuk melarang dengan keras dan tegas terhadap prilaku perdukunan, baik yang terjadi di pasar atau yang lainnya. Pemerintah jangan terkecoh dengan sebagian informasi benar yang disampaikan oleh dukun-dukun dan berbondong-bondongnya masyarakat dalam mendatangi mereka. Sebab, para dukun bukan ahli ilmu yang benar dan mendalam. Mereka adalah orang-orang bodoh. Rasulullah sampai mengeluarkan larangan keras terhadap prilaku perdukunan. Hal ini beliau lakukan karena berkait dengan resiko berbahaya dalam maslah ini.
Hadits-hadits Nabi Muhammad yang berkenaan dengan masalah dukun cukup banyak dan muatan pesannya hampir sama, yaitu justifikasi kafir terhadap dukun dan orang-orang yang menggunakan jasa mereka. Selain cap kafir, Rasulullah menyatakan tidak bertanggung jawab terhadap orang-orang yang terlibat dalam perdukunan, sehingga tidak mau mengakui sebagai umatnya.
Seorang muslim tidak boleh tunduk terhadap anjuran para dukun dalam mengobati penyakitnya, seperti dengan menggunakan azimat dan lain-lain yang dikategorikan khurafat. Selain itu, ada hal yang harus dihindari oleh seorang muslim, yaitu menanyakan nasib, jodoh, meminta bantuan kelengketan rumah tangga dan lain-lain. Orang yang mengikuti jejak mereka dan menganggap apa-apa yang disampaikannya, berarti mendukung terhadap kebatilan dan kekufuran mereka.
Ibnu Baz meneruskan pendapatnya bahwa Allah SWT. telah memberikan sarana penangkal terhadap gangguan sihir sebelum terjerembab ke dalamnya. Hal ini Allah lakukan sebagai kasih sayang terhadap hamba-hambanya.
Dalam bagian akhir dari tulisannya, Ibnu Baz menyatakan bahwa terapi pengobatan penyakit dengan menggunakan sihir, yaitu melalui “taqarub” kepada jin dengan cara menyembelih hewan dan lain-lain, mutlak tidak boleh dilakukan. Sebab, perilaku tersebut merupakan amal syaitan, bahkan termasuk musyrik. Sudah merupakan kewajiban bagi setiap orang untuk menjauhi sihir tersebut, seperti keharusan kita untuk menghindar dari bertanya kepada dukun, tukang tenung dan tukang ramal, apalagi membenarkan terhadap ucapannya. Mereka adalah orang-orang tidak beriman, jahat dan suka menipu manusia. Rasulullah sangat mewanti-wanti agar tidak mendatangi dan bertanya kepada mereka.
Dengan demikian, sihir adalah perilaku kufur dan tukang sihirnya termasuk orang kafir. Apapun alasannya, seorang muslim tidak boleh mendatangi mereka dan apalagi membenarkan ucapannya.
Mungkin anda akan beratanya. Kalau Islam melarang mengobati gangguan sihir dengan sihir lagi, maka apa pengganti alternatifnya?
Jawabnya, anda akan melihat di depan beberapa konsep terapi penyembuhan gangguan sihir secara Islami.
Walaupun pengharaman mendatangi dukun telah dikemukan secara gencar, kita masih mendengar ada orang yang membolehkan datang kepada dukun untuk mengobati gangguan sihir dan penyakit lain.
Hujah mereka, orang-orang yang membolehkan mendatangi dukun untuk mengobati gangguan sihir, adalah analogi dengan meminta bantuan kepada orang jahat untuk melindungi diri dari orang jahat lagi. Aliran pemikiran ini, menurut kami, tidak ada dalil yang bisa dijadikan pendukung untuk memperkuatnya. Justeru apa-apa yang telah kita kemukan tadi merupakan bantahan terhadap pemikiran ini.
Allah SWT. telah memberikan pedoman tepat bagi manusia, melalui al-Quran dan Sunah, dalam mengatasi gangguan sihir baik ketika sudah terjadi atau belum.
Dalam bahasan yang akan datang, secara khusus akan dikemukakan terapi-terapi Islami dalam mengatasi gangguan sihir tersebut berdasarkan referen al-Quran dan al-Sunah.
Yang cukup mengagetkan sekarang ini adalah adanya fatwa yang membolehkan belajar dan mengajarkan sihir karena dianggap sebagai ilmu (sains). Fatwa tersebut dikemukakan oleh al-Husaini Abu Farhah dengan ungkapan sebagai berikut: “Sihir adalah ilmu. Mempelajari sihir berarti mempelajari strategi menghancurkan dan melawannya. Ada beberapa orang mukmin shalih yang mampuh mempelajari sihir untuk melawan kembali serangan sihir”.
Beberapa ulama dan tokoh lain menolak terhadap fatwa ini. Syaikh Hafidh bin Ahmad Hukma berpenadapat bahwa menyembuhkan orang kena sihir dengan sihir lagi termasuk pekerjaan syaitan. Tapi jika menggunakan jampe dan lapadz-lapadz yang tidak bertentangan dengan syari’at tidak menjadi masalah.
Perlu anda ingat selamanya apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad –shalall al-Allah ‘alaih wasallam- dalam sabdanya:
ثلاثة لا يدخلون الجنة: مدمن الخمر ومصدق بالسحر وقاطع الرحم
Tiga orang yang tidak akan masuk surga. Pertama, peminum arak. Kedua, yang suka membetulkan terhadap sihir. Ketiga, orang yang suka memutuskan hubungan kekeluargaan (shilat al-rahm).
Yang dimaksud membetulkan sihir (mushaddiq al-sihr) di sini adalah orang yang menggunakan sihir dan mendatangi tukang-tukang sihir.

f. Perbedaan Antara Karamah, Sihir Dan Mukjizat
Karomah pada para wali benar adanya. Ia
merupakan kemampuan luar biasa yang biasa yang terjadi pada diri para wali. Ia tidak dihasilkan lewat latihan dan percobaan.Tapi, karomah terjadi karena kekuasaan Allah yang diberikan kepada para wali walaupun mereka tidak tahu-menahu. Contohnya, seperti yang terjadi pada diri Ashab al-Kahfi, orang yang masuk gua dan tertimpa batu (sebagaimana dalam hadits Nabi), dan Pendeta Juraij. Kalau kelebihan luar biasa tersebut terjadi pada para nabi disebut mukjizat.
Kejadian-kejadian luar biasa tersebut juga pernah teralami oleh Abu Bakar ketika memerangi orang-orang murtad, dan oleh umar ketika memanggil pasukan perangnya yang sedang berada di Syam sementara ia berada di atas mimbar mesjid. Juga, Umar pernah melemparkan tulisan dalam kertas ke dalam Sungai Nil yang sedang kering lalu sungai tersebut mengalir.
Selain terjadi pada Abu Bakar dan Umar, kejadian luar biasa tersebut pernah terjadi pula pada beberapa orang shaleh, seperti al-‘Ala’ bin al-Khadlrami ketika kudanya bis berjalan di atas air laut pada saat perang melawan pasukan tentara Rum dan Abu Muslim al-Khulani yang bisa sholat di atas api yang dinyalakan oleh
al-Aswad al-‘Unsi.
Kejadian luar biasa yang dialami para shahabat tersebut, hakekatnya bersubstansi mukjizat sebab kemampuan ini karena mereka mengikuti jejak langkah Nabi Muhammad. Sedangkan kalau terjadi sesuatu yang luar biasa pada seseorang yang tidak mengikuti jejak langkah Nabi, itu bukan karomah, tapi fitnah dan sihir. Dan pelakunya adalah kekasih syaitan bukan kekasih Tuhan.
Ibnu Katsir berkata bahwa kemampuan luar biasa dalam bentuk yang sesuai dengan aturan syari’at yang shahih dan digunakan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya serta menjauhi larangannya, maka hal tersebut merupakan karunia dari Allah dan karomah bagi orang-orang shalih. Kemampuan luar biasa tersebut tidak dikategorikan sihir. Adapun kemampuan luar biasa yang terjadi pada seseorang yang suka melanggar larangan Allah dan tidak mau melaksanakan apa yang diperintahkan-Nya, maka hal tersebut merupakan prilaku menyimpang dari syari’at.
Selanjutnya, Ibnu Taimiyah berpendapat bahwa antara karomah para wali dengan sihir yang datang dari syaitan terdapat banyak perbedaan. Di antaranya dalam segi sebab. Sebab utama pendorong adanya karomah pada para wali adalah keimanan dan ketaqwaan. Sedangkan penyebab terjadinya sihir adalah pelanggaran terhadap larangan Allah dan Rasul-Nya, sebagaimana Allah berfirman:
قل انما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وان تشركوا بالله مالم ينزل به سلطانا وان تقولوا علىالله ما لاتعلمون (الاعراف: 33)
“Katakanlah, “Tuhanku mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang tampak atau yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mengharamkan mensekutukan Allah dengan yang oleh-Nya tidak diturunkan hujah untuk itu, dan mengharamkan mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-A’raf: 33)
Sesuai dengan ayat di atas, berbicara atas nama Allah tanpa dasar ilmu, syirik, dhalim, dan perbuatan-perbuatan keji, sungguh diharamkan pasti oleh Allah dan Rasul-Nya. Dengan demikian, hal-hal tersebut bukan sebab terjadinya karomah.
Sihir tidak akan bisa dihasilkan melalui shalat, dzikir dan membaca al-Quran. Tapi, hanya bisa dihasilkan dengan melakukan perbuatan yang disenangi oleh syaitan dan perilaku-perilaku syirik, seperti meminta bantuan (istighatsah) terhadap makhluk halus. Selain dihasilkan dengan perilaku-perilaku syirik dan perbuatan yang disenangi syaitan, sihir bisa dihasilkan dengan cara melakukan berbagai perbuatan keji dan mendhalimi makhluk. Semua perilaku tersebut merupakan tingkah laku syaitan, bukan perilaku untuk menghasilkan karomah.
Karamah para wali, lanjut Ibnu Taimiyah, penyebabnya mesti ketaqwaan dan keimanan. Kalau ada kemampuan luar biasa (khawariq al-‘adat) yang penyebabnya kekufuran, kefasikan, dan perbuatan dosa, hal itu merupakan kemampuan luar biasa musuh-musuh Allah, bukan karomah kekasih-kekasih-Nya. Oleh sebab itu, orang yang bisa melakukan perbuatan luar biasa, namun dihasilkan bukan melalui shalat, membaca ayat-ayat suci Allah, dzikir, qiyam al-lail, dan do’a yang diajarkan oleh syara’, tapi justeru dihasilkan dengan jalan kemusyrikan, seperti memanggil makhluk ghaib dan orang-orang yang telah mati, kemaksiaatan, seperti berzina dengan wanita pelacur, dan memakan barang-barang haram, seperti ular, darah, kumbang besar, dan benda-benda najis, maka, kemampaun tersebut bukan karena kasih sayang dari Allah kepada kekasih-Nya, tapi perilaku syaitan yang diberikan kepada kekasih-keasihnya. Tentang hal ini Allah berfirman:
ومن يعش عن ذكرالرحمن نقيض له شيطانا فهو له قرين (الزخرف: 36)
“Orang yang hidup tidak sesuai dengan ajaran Allah, kami kuasakan syaitan kepadanya untuk menjadi teman dalam kehidupannya”. (QS. Aj-Jukhruf: 36)
Syaikh abd al-Rahman bin Hasan Ali al-Syaikh menyatakan bahwa karomah adalah sesuatu yang diberikan oleh Allah pada diri seorang hamba-Nya yang mukmin dan taqwa, baik melalui do’a yang dikabulkan atau amal-amal shalih yang dilakukannya. Karomah, datangnya tidak bisa diusahakan, namun datang secara spontan. Beda lagi dengan kemampuan luar biasa pada seseorang yang mengaku dirinya sebagai wali dan mampuh mengetahui hal-hal ghaib. Kejadian luar biasa tersebut terjadi, pada diri mereka, karena sebab-sebab yang diharamkan dan sebagai usaha penipuan. Mereka mengaku mampuh mengetahui hal-hal ghaib karena ingin perhatian masyarakat demi keuntungan materi. Cukup kiranya bagi kita apa yang terjadi pada para shahabat Nabi. Mereka adalah pawa wali yang agung, namun tidak pernah mengaku-ngaku hal yang aneh.
Tentang perbedaan antara mukjizat dengan sihir, al-Buthi menjelaskan sebagai berikut: “Mukjizat terjadi pada para nabi sebagai fakta penguat pengakuan kenabian mereka dan melawan kepada orang-orang yang mengingkarinya. Sedangkan sihir, tidak seperti itu. Tidak mungkin seorang tukang sihir mengaku-ngaku sebagai seorang nabi dengan dalih punya kemampuan luar biasa. Selain itu, cakupan kekuatan sihir terbatas dalam hal-hal tertentu. Kejadian yang ditimbulkan oleh sihir bukan realita sebenarnya. Seperti ketika ada benda yang berubah, bukan berubah yang sebenarnya sehingga berubah dari satu jenis benda kepada jenis yang lain. Hal ini seperti yang terjadi pada saat tukang-tukang sihir Fir’aun mensihir tali-tali menjadi ular. Kenyataanya, bukan tali menjadi ular, namun penglihatan yang
dipengaruhi oleh kekuatan mejiknya”.
Syaik al-Nawawi berpendapat bahwa kejadian luar biasa (khawariq al-‘adat) bisa terjadi pada seorang nabi, wali dan tukang sihir. Kejadian luar biasa pada seorang nabi merupakan fakta untuk menandingi manusia yang mengingkari kepada kenabiannya, sedangkan kejadian luar biasa pada para wali dan tukang sihir bukan untuk menandingi manusia dan menguatkan pengakuan kenabian.
Adapun perbedaan antara karamah dengan sihir adalah sebagai berikut:
1. Sihir, berdasarkan kesepakatan kaum muslim, terjadi pada orang-orang fasik sedangkan karomah tidak akan terjadi pada diri-diri mereka namun terjadi pada para wali. Pendapat ini diyakini benarnya oleh Imam Haramain dan Abu sa’ad al-Mutawali.
2. Sihir terkadang timbul dengan cara diusahakan dan meminta bantuan kepada makhluk halus. Sedangkan karomah tidak bisa diusahakan. Bahkan, di saat-saat tertentu karomah terjadi tanpa disadari.
Menurut Ibnu Taimiyah bahwa karomah para wali Allah adalah sebagai berkah mengikuti jejak langkah Rasulullah- shalall al-Allah ‘alaih wa sallam, sehingga hakekatnya karomah para wali adalah bersubstansi mukjizat.
Muhammad Rasyid Ridla berkata bahwa sihir bisa dipelajari dan dipakai berulang-ulang, sehingga masuk kepada hal yang biasa (amr ‘adiy), sedangkan mukjizat tidak seperti itu.

BAB VIII

ISTI’ANAH, ISTIGASAH, MUNÂJAT
DAN ISTI’ADZAH

A. Isti’anah
Isti’ânah secara bahasa berarti setiap perilaku yang berisikan permohonan, perlindungan, penghindaran terhadap sesuatu yang tidak diperintahkan Allah Swt. dan memilih sesuatu yang diperintahkan Allah.
Sedangkan isti’ânah menurut istilah ialah melakukan dan menjadikan shabar dan shalat (do’a) dalam menghadapi setiap problem kehidupan dalam rangka ibadah kepada Allah Swt. Sebagaimana diperintahkan dalam al-Qur’an behwa setiap pribadi muslim harus melakukan ista’ânah, yakni dengan redaksi firman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ (البقرة: 45)
Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat. (QS. Al-Baqarah: 45)
Dalam tafsir Jalâlian dinyatakan: “Kalian hendaklah mencari pertolongan terhadap berbagai urusan yang kalian hadapi dengan mengekang diri (shaum) dari berbagai perkara yang dilarang, dan dzikir (shalat). Bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa apabila Rasulullah Saw. sedang menghadapi suatu masalah atau kebutuhan yang berat, beliau selalu melakukan shalat”.
Dalam tafsir Ibn Katsîr dinyatakan bahwa shabar dalam kalimat tersebut bisa berarti shaum, bahkan dalam sebuah hadits dinyatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
الصوم نصف الصبر
Puasa adalah setengah sabar
Sedangkan shalat dipandang sebagai pertolongan paling besar, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (العنكبوت: 20)
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Ankabut: 20)
Dengan kata lain, arti shalat dalam ayat di atas adalah proses ibadah shalat itu sendiri yang telah diatur oleh fiqih, dan shalat secara bahasa diartikan do’a. Dengan demikian shaum dan shalat (do’a) merupakan salah satu metoda isti’anah.
Isti’anah secara umum dalam praktiknya merupakan interaksi manusia dengan manusia; manusia dengan ghaib, meliputi Malaikat dan Jin; manusia dengan makhluk lain, meliputi nabatat (tetumbuhan), hayawanat (binatang), dan jamadat (benda mati); dan manusia dengan Khâliq dalam kerangka saling kebergantungan (interdefedensi yang memberikan “simbiosis mutualis”, karena mukhattab dari wata’awanu dan wasta’inu dimustatirkan (tidak disebutkan secara langsung).

B. Istighâsah
Istigâasah secara bahasa berarti memohon pertolongan dengan sangat dalam situasi dan kondisi yang tertindas.
Sedangkan arti istigâsah dalam istilah epistimologi do’a adalah suatu rangkaian permohonan dari seorang hamba kepada Allah agar diselamatkan dari segala macam bahaya, dimana si pemohon tersebut tak ubah laksana orang yang tenggelam dalam lautan.
Dengan demikian istigâsah adalah do’a permohonan supaya orang tidak tenggelam dalam keterpurukan dan ketertindasan dalam situasi dan kondisi yang sangat terdesak.
Teknis istighâsah di antaranya adalah sebagai berikut:
a. Menggunakan du’a dalam al-Qur’an seperti do’a Nabi Yunus yang dikenal dengan tasbih dan i’tiraf-nya, yakni
لا إِلَهَ الا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ (الأنبياء: 87)
Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim.”
b. Do’a yang diambil dari semangat al-Qur’an (Iqtibas al-Qur’an)
c. Do’a yang diambil dari semangat al-Sunnah (Iqtibas al-Sunnah)
d. Do’a dengan menggunakan redaksi sanjungan dan pujian kepada Rasulullah Muhammad Saw.
Contoh redaksinya:
الصلاة والسلام بيدك ما فى علم الله عليك يارسول الله, اغثني شريعا بعزة الله, اللهم صل على سيدنا محمد خذ بيدك أدركني
e. Du’a dengan menggunakan al-Asma al-Husna.

C. Munâjat
Sebagai istilah, munâjat ialah melakukan ibadah, baik dalam bentuk perbuatan, ucapan maupun doa dengan sepenuh hati, khusyuk, dan tawaduk, dengan suara yang lembut sehingga terasa dekat sekali kepada Allah SWT, untuk mengharap keridaan, ampunan, hidayat, dan pertolongan-Nya untuk keselamatan hidup. Usaha tersebut hanya bisa dicapai dalam posisi antara kedua pihak yang sangat dekat; inilah yang disebut munâjat. Apabila dicapai dengan tidak dekat, disebut munada (memanggil).
Munâjat dalam arti berbisik atauberbicara secara rahasia, dapat dilihat dalam beberapa firman Allah SWT dalam Al-Qur’ân, yakni dalam surah Al-Mujâdalah ayat 12:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِذَا نَاجَيْتُمُ الرَّسُولَ فَقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيْ نَجْوَاكُمْ صَدَقَةً ذَلِكَ خَيْرٌ لَكُمْ وَأَطْهَرُ (المجادلة: 12)
Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu mengadakan pembicaraan khusus dengan Rasul hendaklah kamu mengeluarkan sedekah (kepada orang miskin) sebelum pembicaraan itu. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu dan lebih bersih”,
Dalam surah al-Mujâdalah ayat 7:
مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ (المجادلة: 7)
“…Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya”, (QS. Al-Mujadalah:7)
Dan dalam surah Yusuf ayat 80:
فَلَمَّا اسْتَيْئَسُوا مِنْهُ خَلَصُوا نَجِيًّا (يوسف: 80)
Maka tatkala mereka berputus asa, dari pada (putusan) Yusuf, mereka menyendiri sambil berunding dengan berbisik-bisik..(Qs. Yusuf: 80).
Munâjat dalam arti posisi yang sangat dekat ke pada Allah Swt.pernah dialami Nabi Musa AS ketika ia dipanggil oleh Allah Swt. Ia berkata: “Ya Tuhan, adakah Engkau jauh, sehingga aku memanggil-Mu? Ataukah dekat sehingga aku berbisik (munâjat) kepada-Mu?” Kemudian Allah Swt. berfirman:
وَنَادَيْنَاهُ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ الْأَيْمَنِ وَقَرَّبْنَاهُ نَجِيًّا (مريم: 52)
“Dan Kami telah memanggilnya dari sebelah kanan Gunung Thur dan Kami telah mendekatkannya kepada Kami di waktu di munâjat (kepada Kami)” (QS.Maryam:52).
Cara ber-munâjat adalah memusatkan konsentrasi dan mengosongkan hati, sehingga yang ada hanya perasaan selalu dekat kepada Allah Swt. dengan sedekat-dekatnya. Hal ini bisa ditempuh dalam salat, seperti yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. Yang termasuk bermunâjat kepada Allah SWT adalah orang yang membaca Al-Qur’an, berdoa dengan sepenuh hati dalam segala permohonannya, atau berzikir dengan lisan melalui bacaan tahmid (alhamdu li Allah = segala puji bagi Allah) atau tamjid (al-Majdu li Allah = keagungan bagi Allah) dengan tujuan memperoleh rida dan dekat kepada-Nya. Karena itu Allah Swt. lebih dekat pada bisikan orang yang ber-munâjat daripada orang tersebut dengan ucapannya sendiri.
Adapun diantara tujuan munâjat adalah untuk memperoleh kekhusuan dan ketenangan serta dekat dan mendapat cinta (mahabbah) Allah Swt. Permohonan dan upaya orang dekat kepada Allah Swt. akan dikabulkan-Nya.
Meski para sufi memiliki makam yang harus dilewati, tetapi munâjat akan senantiasa dibutuhkan dalam setiap kegiatan ibadah. Beberapa kitab hadis seperti Sahih al-Bukhari, Sahih Muslim, Musnad Ahmad, dan Sunan Abi Dawud menjelaskan munâjat sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kegiatan salat itu sendiri.
Dalam sebuah hadis riwayat Bukhari dari Hamam diceritakan bahwa Hammam mendengar ucapan Abu Hurairah yang meriwayatkan hadis dari Nabi Saw. Nabi Saw. bersabda: “Jika salah seorang kamu mengerjakan salat, maka janganlah meludah di depannya, karena sesungguhnya ia sedang bermunâjat kepada Allah selama berada pada tempat salatnya, juga jangan ke samping kanannya, karena pada samping kananya terdapat malaikat, dan hendaklah meludah ke samping kirinya atau di bawah kakinya, kemudian memendamnya.” Hadis ini menjelaskan bahwa orang yang salat itu sedang bermunâjat kepada Allah Swt.. Begitu juga hadis riwayat Bukhari dari Anas bin Malik. Nabi Saw. bersabda: Tegaklah dalam bersujud dan jangan gelar (lebarkan) kedua tangan (zira)-nya seperti anjing, dan apabila meludah, janganlah meludah di antara muka dan belakangnya, juga jangan pada samping kanannya, karena sesungguhnya ia sedang bermunâjat kepada Tuhannya.”
Dalam arti yang lebih umum, munâjat berarti persembahan, sebagai ungkapan rasa hormat dan kekaguman. Misalnya, Ahmad Muhammad al-Hufy dalam mengantarkan bukunya yang berjudul Akhlak Nabi Muhammad Saw., Keluhuran dan Kemuliaannya memakai kata munâjat. Tetapi yang lebih lazim istilah ini digunakan dalam upaya manusia mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah Swt. melalui ibadah yang telah Allah Swt. perintahkan kepada hamba-Nya.bagi seorang sufi, kedekatan dirinya dengan Tuhan merupakan tujuan maksimal. Karena itu munâjat sudah tentu merupakan salah satu syarat yang tak dapat diabaikan. Selain itu masih harus melalui makam-makam seperti tobat, zuhud, rida, cinta, dan makrifat. Semua makam ini tidak dapat dilaui tanpa munâjat.
Terhadap orang yang sedang bermunâjat kepada Allah Swt., Nabi Muhammad Saw. mengajarkan dalam satu sabdanya yang artinya: “Kalau saja seorang kamu mengetahui bagaimana keadaan orang yang melewati (di depan) saudaranya yang sedang bermunâjat kepada Tuhannya, maka sungguh ia akan berhenti di tempat itu selama seratus tahun adalah lebih ia suka daripada apabila ia melewatinya” (HR. Imam Ahmad dari Abu Hurairah). Hadis ini menunjukkan bahwa betapa sulit untuk melakukan munâjat yang sebenarnya. Karena itu hendaklah seseorang tidak menimbulkan gangguan terhadap orang yang sedang berkonsentrasi dalam munâjatnya kepada Allah Swt. Gangguan tersebut dinilai demikian buruknya sehingga lebih baik menunggu begitu lama daripada menimbulkan gangguan yang dapat merusak munâjat-nya.

D. Isti’âdzah
Secara lughawai istiâdzah adalah upaya melindungi sesuatu dari sesuatu, baik berupa ucapan maupun tindakan. Sedangkan menurut istilah epistimologi du’a, isti’âdzah, diartikan sebagai sebuah term untuk menyebut sekumpulan redaksi du’a yang berisikan permohonan perlindungan kepada Allah Swt. dari sesuatu yang tidak diinginkan terutama terutama sesuatu yang akan membahayakan bagi pemohon.
Secara eksplisit, al-Qur’an banyak mencontohkan untuk ber-isti’ânah, baik dalam bentuk berita yang bermakna perintah maupun dalam bentuk perintah secara langsung. Ayat-ayat yang berkaitan dengan isti’âdzah tersebut antara lain:
1. Q.S Ghafir: 27 dan 56 serta Q.S. ad-Dukhan: 20
2. Q.S. al-Baqârah: 67
3. Q.S. Hud: 4 7
4. Q.S. Maryam: 18
5. Q.S. al-Mukmin: 97 dan 98
6. Q.S. al-Jin: 6
7. Q.S. Ali-Imran: 36
8. Q.S. al-‘Araf: 200
9. Q.S. an-Nahl: 98
10. Q.S. Fushilat: 36
11. Q.S. Yusuf: 23 dan 79
12. Q.S. al-Falaq: 1
13. Q.S. al-Nas: 1
Mengacu kepada isyarat kandungan ayat-ayat tersebut, kiranya nampak jelas mengenai prinsip-prinsip isti’adzah itu pada dasarnya adalah sebagai berikut
1. memohon perlindungan kepada Allah dengan menyebut nama fungsional “Rabbun” yang berarti memohon kepada Allah sebagai pencipta, pemelihara, pengembang, dan sekaligus sebagai pemberi aturan berupa hukum kausalitas imaterial dan material yang mesti dijalani oleh si pemohon perlindungan.
2. Memohon perlindungan kepada Allah dengan menyebut al-Asmâ al-Husnâ “al-Rahman”, hal ini menunjukan bahwa dalam konsep nama yang indah “al-Rahman” itu terdapat suatu ketentuan Allah berupa hukum-hukum kausalitas yang berlaku secara universal dan siapapun yang menjalaninya akan menjalani sesuai keberlakuan hukum kausalitas itu.
3. Memohon perlindungan kepada Allah sebagai pencipta al-Falaq dan pencipta manusia, hal ini menunjukan bahwa sesuatu yang menjadi sebab timbulnya kemadharatan itu terjadi dan dilakukan oleh makhluk Tuhan dalam dimensi ruang dan waktu.
4. Sesuatu yang dimohonkan kepada Allah yang dipandang sebagai sesuatu yang berbahaya, antara lain: perilaku ketakaburan, kedzaliman, kejahilan, gangguan makhluk halus yang jahat yang lazim disebut syaithan yang perilakunya terkutuk. Sebetulnya periku syaithaniyah ini dapat dilakukan jin kafir dan manusia fasik dan kafir.
5. Redaksi du’a untuk perlindungan ini dapat menggunakan ayat yang telah disebutkan di atas, yaitu dengan cara dibacakan secara langsung dan dawam.
6. Selain dengan cara seperti yang te;lah disebutkan pada point 5, redaksi du’a isti’âdzah ini dapat dirumuskan dalam bentuk pelaksanaan perintah dengan merubah redaksi dalam bahasa permohonan. Dan cara seperti ini disebut metode iqtibas bi al-Qur ‘an. Seperti perintah “Fasta’idz billah…”, kemudian memunculkan redaksi ta’awudz.
Penggunaan du’a isti’âdzah ini terutama diprioritaskan untuk menghindari dari kejahatan pelaku makhluk Tuhan yang biasa terjadi pada waktu malam dan dari kejahatan “Khannâs”. Khannâs adalah kegiatan wiswas (transpormasi energi) yang dilakukan oleh para transpormator kejahatan dari jin kafir dan manusia fasik dan kafir. Itulah yang dimaksud dengan Q.S. al-Falq dan al-Nas. Sehubungan dengan hal itu, terdapat prinsip yang harus diperhatikan. Selain itu, prinsip ini telah diajarkan oleh Fachrudin al-Razi, dalam Tafsir Mafatih al-Ghaib, penjelasannya sebagai berikut:
1. Ketika memohon perlindungan dari tiga kejahatan yang akan merusak aspek fisik yang terdiri dari tiga perkara, yaitu: (a) Kejahatan makhluk pada waktu malam, (b) Kejahatan makhluk dari para tukang sihir, dan (c) Kejahatan dari orang-orang yang hasud. Perlindungan dari bentuk kejahatan-kejahatan tersebut adalah dengan menyebut dan mengacu kepada rububiyah Allah. Hal ini menunjukan bahwa perilaku du’a, selain yang diajukan oleh qalbu, lisan, da perbuatan mesti menjalani hukum kausalitas materi dan immateri. Dengan demikian, ketika menghadapi tiga bahaya itu dihadapi dengan satu nama fungsional Allah, yaitu al-Rab.
2. Untuk memohon perlindungan dari satu bahaya yang akan membahayakan aspek psikis, yaitu keyakinan perilaku keagamaan terutama persoalan aqidah berupa kejahatan “waswis al-Khannas” yang pelakunya terdiri dari Jin kafir dan manusia fasik dan atau kafir, maka penyembuhannya harus dihadapi dengan tiga nama fungsional Allah, yaitu: (a) Rabbaniyah (pencipta manusia), (b) Malik an-Nas (raja dan pemelihara manusia), dan (c) Ilahi an-Nas (Tuhan yang kepada-Nya manusia mesti menyembah).
Du’a isti’âdzah untuk maksud tertentu sebagaimana dijelaskan dari dua prinsip tersebut, secara langsung bisa menggunakan dua surah ma’udzataini (dua surah untuk mohon perlindungan yang lajim disebut surah al-Nas dan al-Falaq) dapat dipergunakan/ diuraikan untuk perlindungan. Sedangkan mengenai kaifiyat berdu’a dengan dua surah itu, merupakan kajian psikoterapi Islam yang dasar teoritiknya mengacu kepada epistimologi du’a.

BAB IX

RIYADHAH, RATIB, WIRID, DAN MUHASABAH

A. Riyâdhah
Secara bahasa riyâdhah adalah latihan atau olah raga. Sedangkan riyâdhah dalam istilah tasawuf berarti latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukan keinginan nafsu syahwat. Menurut pemahaman kalangan tasawuf riyâdhah dalam pengertian seperti tadi telah dilakukan oleh rasulullah Muhammad Saw. ketika berkhalwat di Gua Hira dengan melatih diri, mengolah jiwa, berdzikir, merenung/ berpikir, memper-hatikan kejadian alam dan susunannya, dan memper-hatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan dan kerusakan dalam berbagai aspek kehidupan.
Keadaan masyarakat tersebut menimbulkan keprihatinan rasulullah yang mendalam. Karena itu ia hidup serba prihatin, dan keadaan seperti itu menjadi penyebab datangnya wahyu dari Allah melalui perantaraan Malaikat Jibril. Setelah menjadi rasul, ia tetap menjalankan riyadhah dalam bentuk jihad an-Nafs (melawan hawa nafsu) dan tekun melaksanaka ibadah mahdhah seperti melaksanakan shalat Tahajud sehingga kakinya membengkak.
Riyâdhah dalam dunia tasawuf ada dua macam, yaitu riyâdhah badan dan riyâdhah rohani. Riyâdhah badan dilakukan oleh seorang sufi atau pengamal tarekat dengan jalan mengurangi makan, mengurangi minum, mengu-rangi tidur, dan mengurangi berkata-kata. Riyâdhah rohani biasanya dilakukan oleh seorang sufi atau pengamal tarekat dengan jalan melalui pelaksanaan ibadah secara lebih intensif, menjaga diri dalam keadaan berwudhu, rajin melakukan shalat (baik fardhu maupun sunnah), dan rajin mengamalkan dzikir dan aneka ragam wirid. Riyâdhah yang dilakukan oleh para sufi dimaksudkan untuk mendekatkan diri dan bermakrifat kepada Allah SWT. Al-Ghazali membagi tingkatan riyadhah ini kepada enam tingkatan, yakni:
1. Musyâratah (mempertaruhkan diri dalam ber ibadah)
2. Murâqabah (mendekatkan diri)
3. Muhâsabah (introspeksi diri)
4. Mu’âqabat an-Nafs (mengekang diri)
5. Mujâhadat, dan (memaksimalkan potensi ruhani)
6. Mu’âtabat an-Nafs (mengendalikan diri)
Keenam tingkatan riyadhah ini disebut munjiyah (pemberi jalan keselamatan) dan murâbatah ( mengawasi diri dengan pengawasan Allah). Menurut al-Ghazali murâbatah ini diperintahkan Allah dalam al-Qur’an terutama pada surat ali-Imran ayat 200.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (إل عمران: 200)
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu beruntung. (QS. Ali Imrân: 200)

B. Râtib
Secara bahasa, ratib berasal dari bahasa Arab yang berarti: yang teratur. Dalam istilah tasawuf, kata ratib dipakai sebagai suatu bentuk dzikir yang dipakai oleh seorang guru tarekat atau seorang ulama untuk dibaca pada waktu-waktu tertentu oleh seseorang atau beberapa orang dalam suatu jemaah sesuai dengan aturan yang telah ditentukan oleh penyusunnya. Dzikir-dzikir yang disusun menjadi ratib itu biasanya terdiri dari ayat-ayat yang dipilih dari ayat-ayat al-Qur’an yang bermakna tahlîl (mengesakan Allah), tasbih (mensucikan Allah), tahmîd (memuji Allah), taqdîs (menyucikan Allah), istighfâr (memohonkan ampun), shalawat, hauqalah (membesarkan nama Alah) dan do’a-do’a pilihan lainnya. Dzikir dalam ratib ini sangat populer dalam tarekat Samaniyah dan tarekat Haddadiah.
Tarekat Samaniyah melakukan ratib yang masyhur dengan nama ratib Saman-dengan berdiri dan dengan gerakan-gerakan tertentu. Materi dan pelaksanaan ratib Saman adalah sebagai berikut:
(1) Membaca surat al-Mulk;
(2) Membaca surat al-Fatihah 28 kali;
(3) Membaca surat al-Ikhlas 100 kali;
(4) Membaca surat at-Taubah ayat 127 dan 128;
(5) Membaca Ya Latif 129 kali;
(6) Membaca surat asy-Syu’ara ayat 19, sebanyak 20 kali;
(7) Membaca Ya Latifan bi Khalqihi (Yang Maha Pengasih kepada hamba-Nya), Ya ‘Aliman bi Khalqihi (Yang Maha Mengetahui makhluk-Nya), Ya Khairan bi Khalqihi (Yang Maha Baik terhadap hamba-Nya), iltaf bina ya Latif ya ‘Ali ya Khair (kasihanilah/ rahmatilah kami wahai Yang Maha Lembut, Yang Maha Tinggi, Yang Maha Baik) sebanyak 3 kali;
(8) Membaca Ya Hayyun Ya Qayyum (Yang Maha Hidup, Yang Maha Kekal) sebanyak 100 kali;
(9) Membaca sejumlah surat, mulai dari surat ad-Duha sampai surat al-Lahab, dan dilanjutkan dengan membaca surat al-Ikhlas 3 kali;
(10) membaca surat al-Falaq dan surat an-Nas;
(11) Membaca surat al-Baqarah ayat 163, 255, dan 284-286;
(12) Ditutup rangkaian ratib dengan menyebut nama-nama Allah (al-Asma al-Husna), membacakan sya’ir-sya’ir yang memuji Allah SWT. serta rasul-Nya, dan do’a-do’a atau bisa juga dengan bacaan tahlil.
Sedangkan waktu pelaksanaan melakukan ratib Saman biasanya setelah shalat Isya pada setiap malam Jum’at dengan dipimpin seorang imam.
Selain ratib Saman, di Indonesia dikenal juga yang disebut dengan ratib Haddad (penjaga). Pelaksanaan ratib Haddad adalah sebagai berikut: Membaca surat al-fatihah dan ayat Kursi (al-Baqarah ayat 225), surat al-Baqarah ayat 285-286, surat al-Ikhlas, surat al-Falaq, surat an-Nas, dan 17 bacaan berupa tahlil, tasbih, istighfar, shalawat, ta’awudz, basmalah, dan do’a-do’a pilihan. Bacaan-bacaan tadi di baca masing-masing sebanyak 3 kali. Ratib ini biasanya dibaca setelah shalat subuh dengan suara nyaring di bawah pimpinan seorang imam.
C. Wirid
Wirid jamaknya awrâd, rangkaian kalimat-kalimat qur’ani; biasanya sejumlah ratusan kali atau bahkan lebih. Kalimat-kalimat tersebut merupakan pelatihan yang menumbuhkann konsentrasi keagamaan sehari-hari: pagi dan petang hari. Kalimat-kalimat ini dibaca oleh kelompok-kelompok tharikat dan juga kelompok-kelompok lainnya. Gaya dan model awrad sangat beragam, tetapi pada umumnya mengandung permohonan ampunan (istighfâr), shalawat atas nabi dan syahadah; seringkali digunakan kutupan-kutipan al-Qur’an, seperti dinyatakan dalam firman-Nya:
أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ (الرعد: 28)
Ingatlah, bahwa sesungguhnya hanya dengan berdazikir bkepada Allah hati menjadi tenang. (QS. Al-Ra’d: 28)
Terdapat sebuah hadis yang sangat terkenal menyatakan: “Hatiku serasa tertutup kabut hingga aku membaca istighfar (memohon ampunan) tujuhpuluh kali dalam sehari semalam”. Dalam hal ini, Ibnu Athaillah berkata dalam karyanya al-Hikam, “Hanya orang-orang bodoh yang memandang rendah bacaan-bacaan wirid. Insfirasi (al-Warid) akan dijumpai di akhirat, sementara itu bacaan-bacaan (wirid) tersebut menghilang bersamaan dengan hilangnya dunia, tetapi ia lebih tepat dipahami sebagai sesuatu yang tidak ada penggantinya. Bacaan-bacaan wirid merupakan sesuatu yang ia cari darimu, sedang insfirasi adalah sesuatu yang kamu cari dari-Nya. Tetapi sebandingkah antara yang ia cari darimu dan apa yang kamu cari darinya?”.

D. Muhâsabah
Muhâsabah dalam dunia tasawuf adalah memperhitungkan untung rugi dalam melakukan amal bagi diri sendiri. Muhâsabah dilakukan untuk mengetahui kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat sehingga dengan demikian timbul kesadaran dalam diri untuk melakukan mu’âqabat an-Nafs, yaitu menghukum diri sendiri. Mu’âqabat an-Nafs dilakukan sesuai keperluan latihan anggota tubuh.
Selain itu, muhâsabah juga dapat digunakan untuk menyebut kegiatan du’a bersama setelah melakukan bermacam-macam shalat sunnah, tushiyah, i’tiraf (pengakuan banyak dosa dan noda), pada waktu tertentu, misalnya waktu fajar dengan dibimbing oleh mursyid di suatu tempat yang penuh keheningan terutama di Mesjid.
Muhâsabah berfungsi sebagai bagian dari bentuk aktualisasi nilai-nilai ‘Athifah Diniyah as-Salîmah’ (naluri keagamaan yang tauhîdullah), dan internalisasi ajaran pada tingkat intra individu seorang muslim sebagai bagian dari metode pencerahan qalbu dan kecerdasan spiritual.

BAB X

BERDU’A DENGAN AL-ASMA` AL-HUSNA

Kata al-asmâ` adalah bentuk jamak dari kata ism, artinya nama-nama, yakni nama-nama Allah sebagaimana disebutkan dalam hadits. Sedangkan kata al-husnâ adalah bentuk jamak dari kata al-hasan, artinya sangat baik.
Umat Islam telah diperintahkan oleh Allah Swt. agar berdu’a dengan menggunakan asma’` al-husnâ` tersebut, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا (الأعراف: 180)
Hanya milik Allah al-asmâ-ul husnâ`, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut al-asmâ-ul husnâ` (QS. al-A’raf: 180)
Sedangkan tentang keutamaan al-asmâ-ul husnâ`, antara lain dinyatakan dalam sebuah sebuah hadits:
حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مَنْ حَفِظَهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَإِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ (رواه مسلم)
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi s.a.w bersabda: Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama. Siapa saja yang mampu menghafalnya, niscaya dia akan masuk Syurga. Sesungguhnya Allah itu ganjil (esa pada zat, sifat dan perbuatanNya serta tiada sekutu bagi-Nya) dan Dia menyukai pada yang ganjil. (HR. Muslim)
Nama-nama yang sembilan puluh sembilan tersebut adalah sebagai berikut :
1. al-Awwal Yang Pertama (57:3)
2. al-Akhîr Yang Akhir (57:3)
3. al-Ahad Yang Maha Esa (112:1)
4. al-Badî’ Yang Mula/Asal (2:1)
5. al-Bârî` Yang Maha Pembuat (59: 24)
6. al-Barr Yang Maha Pemurah (52:28)
7. al-Bashîr Yang Maha Menyaksikan (57:3)
8. al-Basîth Yang Melapangkan (13:26)
9. al-Bathîn Yang Terdalam (57:3)
10. al-Ba’is Yang Membangkitkan (16:89)
11. al-Baqî’ Yang Abadi (2:37)
12. al-Tawwâb Yang Menerima Taubat (2:37)
13. al-Jabbar Yang Maha Tidak Tertahan (59:23)
14. al-Jalîl Yang Maha Agung
15. al-Jamî’ Yang Mengumpulkan (3:9)
16. al-Hasîb Yang Maha Menghitung (4:6)
17. al-Hafizh Yang Maha Menjaga (11:57)
18. al-Haqq Yang Maha Benar (20: 114)
19. al-Hakim Yang Maha Bijaksana (6:18)
20. al-Hakkam Yang Mengadili (40:48)
21. al-Halim Yang Maha Peramah (2:235)
22. al-Hamid Yang Maha Terpuji (2:269)
23. al-Hayy Yang Maha Hidup (20:111)
24. al-Khabîr Pemberi Tahu Kabar Kebajikan (6:
18)
25. al-Khafid Yang Merendah (Nama Bentukan)
26. al-Khaliq Pencipta, Yang Menciptakan
(113:16)
27. Zul-Jalali wal-Ikram Penuh Kemuliaan (Sebuah
Nama Bentukan)
28. al-Rauf Yang Maha Lemah Lembut (2:143)
29. al-Rahman Yang Maha Pengasih (55:1)
30. al-Rahim Yang Maha Penyayang (2:143)
31. al-Razzaq Yang Maha Pemberi Rizki (51:57)
32. al-Rasyid Yang Menunjuki (Berasal dari
Hadis)
33. al-Rafi’ Yang Meninggikan Derajat
(NamaBentukan)
34. al-Raqib Yang Maha Waspada (5:117)
35. al-Salam Yang Penuh Kedamaian (59:23)
36. al-Sami’ Yang Maha Mendengar (`17:1)
37. al-Syakur Penuh Syukur (64:17)
38. al-Syahid Maha Menyaksikan (5: 117)
39. al-Shabur Peyabar (Nama Bentukan)
40. al-Shamad Abadi (112: 2)
41. al-Darr Pemberi Sakit (Nama Bentukan)
42. al-Zhahir Yang Tampak Jelas (57:3)
43. al-‘Adl Maha Adil (6:115)
44. al-‘Aziz Maha Perkasa (59:23)
45. al-Azhim Maha Agung (2:255)
46. al-‘Afuw Pemaaf (4:99)
47. al-‘Alim Yang Maha Mengetahui (2:29)
48. al-‘Ali Yang Maha Tinggi (2:225)
49. al-Ghafur Yang Maha Pengampun (2:235)
50. al-Ghaffar Yang Maha Mengampuni (2:235)
51. al-Ghani Yang Maha Kaya (2:265)
52. al-Fath Yang Maha Membuka (34:26)
53. al-Qabid Yang Maha Merampas (2:245)
54. al-Qadir Yang Maha Biasa (17:99)
55. al-Quddus Yang Maha Suci (62:1)
56. al-Qahhar Yang Maha Menang (13:16)
57. al-Qawi Yang Maha Kuat (22:40)
58. al-Qayyum Yang Maha Mandiri (3:2)
59. al-Kabir Yang Maha Besar (22:63)
60. al-Karim Yang Maha Mulia (27:40)
61. al-Lathif Yang Maha Ramah (42:19)
62. al-Muta’akhir Yang Menangguhkan (14:42)
63. al-Mukmin Yang Beriman (59:23)
64. al-Muta’ali Yang Mengaggungkan Diri (13:9)
65. al-Mutakabbir Yang Membaganggakan Diri
(59:23)
66. al-Matin Yang Kukuh (51:58)
67. al-Mubdi Pendahulu, pendiri (85:13)
68. al-Mujib Yang Mengabulkan Permohonan
(11:61)
69. al-Majid Yang Penuh Keagungan (11:73)
70. al-Muhsi Yang Maha Memperhitungkan
(19:94)
71. al-Muhyi Yang Memberi Kehidupan (30:90)
72. al-Mudill Yang Menaungi (3:26)
73. al-Muzill Yang Memilah-milahkan
74. al-Mushawwir Yang Membentuk (59:24)
75. al-Mu’id Pelindung
76. al-Mu’izz Yang Maha Mulia (3:26)
77. al-Mu’it Maha Pemberi (20:50)
78. al-Mughni Yang Maha Kaya (9:74)
79. al-Muqit Penahan (4:85)
80. al-Muqtadir Yang Maha Menentukan (54:42)
81. al-Muqaddim Asal mula segala sesuatau (50:28)
82. al-Muqsit Yang Maha Panatas (21:47)
83. al-Malik Yang Maha Diraja (59:23)
84. al-Malik al-Muluk Pemilik Kerajaan (3:26)
85. al-Mumit Yang Mematikan (15:23)
86. al-Muntaqim Penuntut Balas (30:47)
87. al-Muhaimin Yang Melindungi (59:23)
88. al-Nafi’ Yang Memberi Manfaat (48:11)
89. al-Nashir Maha Penolong (4:45)
90. al-Nur Cahaya (24:35)
91. al-Hadi Maha Pemberi Petunjuk (22:54)
92. al-Wahid Yang Tunggal (74:11)
93. al-Wadud Yang Maha Mencintai (11:90)
94. al-Waris Pewaris (19:40)
95. al-Wast Yang Maha Luas (2:268)
96. al-Wakil Yang Melayani (6:102)
97. al-Waliy Yang Berwenang (4:45)
98. al-Wali Penjaga/Pelindung (13:11)
99. al-Wahhab Yang Maha Penganugerah (3:8)
Apabila seseorang telah selesai membaca al-asmâ al-husnâ tersebut, sebaikanya membaca:
سبحان من له الأسماء الحسنى والصفات العلياء سبحانه وتعالى عما يقولون علوا كتبيرا
Kemudian ia berkadu’a, mengungkapkan keinginannya
Menurut sebagian ulama, nama-nama tersebut dalam dibagi menjadi dua kelompok: Pertama, adalah Nama Esensi (Ism al-Zat), seperti Nama Allah, al-Rahman; dan Kedua, adalah Nama-nama Sifat (Ism al-Shifat), seperti Nama al-Rahim, al-Barri (‘Azza wa Zalla). Selain itu, Nama-nama Tuhan juga dapat dibedakan menjadi Nama Keindahan (Ism al-Jamal).
Sebagian Nama-nama Tuhan terkandung di dalam al-Qur’an secara langsung, dan sebagian lagi ditetapkan berdasarkan sebagian surat tertentu di dalam al-Qur’an secara tidak langsung, dan sebagian lainnya ditetapkan berdasarkan keterangan hadits tidak berdasarkan ungkapan al-Qur’an.
Namun demikian, nama-Nya yang paling agung dan paling utama adalah Allah. Bahkan para filusuf kuno telah menamai Allah (Ism al-Jalah wa Ism al-‘Azham, “Nama-nama Keagungan dan Kemuliaan”), antara lain dimaksudkan sebagai sebutan untuk nama Pencipta, Akal pertama, Penggerak pertama, Penggerak yang tiada bergerak, Puncak Cita-cita, dan Dzat wajib al-Wujud. Allah merupakan nama suatu hakikat, atau keniscayaan yang bersifat mutlak. Agaknya kata “Allah” merupakan pengkhususan dari kata “al-Ilah” (Ketuhanan). Kata “Allah” sama sekali tidak dapat diturutkan kepada unsur-unsur teori garamatika. Jika diurut secara gramatika, kata tersebut terdiri dari suku kata: Yakni artikel al dan Ilah (Ketuhanan) kata gabungan, untuk sesuatu yang berlaku di dunia berdasarkan logika bahasa Arab, sedang ia merupakan kata-kata wahyu yang tersembunyi dalam bahasa Arab yang asli sekalipun. Dalam bahasa ia membentuk kembali sebuah pengertian sebuah realitas yang tidak dapat dipersamakan dengan kandungan kata yang mana pun. Kata “Allah” merupakan sebuah nama yang hanya pantas dan tepat untuk Tuhan, yang melalui kata tersebut dapat memanggil-Nya secara langsung. Ia merupakan kata pembuka menuju essensi (hakikat) ketuhanan, yang berada dibalik kata tersebut bahkan yang tersembunyi dibalik dunia ini. Nama “Allah” telah dikenal dan dipakai sebelum al-Qur’an diwahyukan; misalanya nama ‘Abdullah (hamba Allah), nama ayah nabi Muhammad. Kata ini tidak hanya khusus bagi Islam saja, melainkan ia juga merupakan nama yang, oleh umat Kristen yang berbahasa Arab dari gereja-gereja Timur, digunkan untuk memanggil Tuhan. Jika ditulis kata tersebut biasanya diikuti dengan kata ‘Azza wa Jalla’ (Maha Agung dan Maha Luhur), atau dengan kata ‘Jalla Jalaluh’ (Maha Besar Keagungan-Nya).
Al-Qur’an menerangkan (Allah) dalam sejumlah ayat dengan sangat indah dan sangat mengesankan, di antaranya terangkai dalam QS.2:255; 59:22-24; 6:95-98; 2:284; 6:59; 36:82-83; 50:16; 64:3; 24:35; 64:11-13; 64:15-18; dan 47:38. Kata “Allah” tertulis dengan huruf alif, lam, lam, (dengan saddah), dan ‘Ha’. Kata ini mengalami penyusutan dari kata ortoghrafinya yang semula terdiri dari huruf alif’, lam, lam, alif, dan ‘Ha’. Antara huruf lam yang akhir dengan ‘ha’ terdapat huruf Alif mati. Huruf ini keberadaannya bergantung kepada lam akhir dan ‘ha’, atau terkadang diletakan di atas syaddah, dan terkadang pula dituliskan panjang mendatar di atas kata. Bahkan bisa jadi Alif mati tidak ditampakan sama sekali. Huruf lam pertama tidak disuarakan, menurut pandangan seorang mufassir, lam tersebut dimasukan (Mudghamah) kedalam lam berikutnya dengan disertai syaddah. Alif mati dalam kata “Allah” merupakan corak yang unik, dimana ketika kata tersebut berdiri sendiri alif mati menjadikan lam kedua mesti disuarakan berat (tafhim). Tetapi jika kata ini didahuli dengan konsonan kashroh, misalnya Lillah, maka lam kedua disuyarakan ringan (tarqiq). Dari segi abjad maka menurut kajian mistik ilmu huruf, huruf yang tampak dalam nama Allah mencapai 66 huruf, yang terkumpul dalam huruf ‘Adam wa hawwa’.
Huruf Alif merupakan tiang bagi huruf hamzaah, sebuah huruf yang berada pada posisi antara disuarakan atau didiamkan. Hamzah yang disuarakan dinamakan hamzah washal, sedang yang tidak disuarakn dinamakan hamzah qatha. Hamazah yang kedua dihilangkan suaranya jika didahului oleh huruf hidup, misalnya kata ya Allah, terbaca YaAllah. Menurut Ibnu Arabi dalam naskahnya mengenai nama-nama keagungan bahwa suara atau bunyi lam dan suara alif mati merupakan wujud dari kaiitan erat terhadap yang Maha Mutlak. Huruf terakhir, yakni huruf ‘ha’ sesungguhnya merupakan penghembusan nafas yang terakhir, secara simbolik, ia kembali menuju kepada yang tidak tampak, dan selanjutnya ia mengadakan penyatuan kembali, yakni kembali dibalik keberadaan wujud mutlak. Dalam bentuk nominatif, Allahu, huruf terakhir yakni ha’ juga menunjukkan kata huwa. Huwwa, bisa menggantikan orang ketiga tunggal dan bisa saja menjadi nama Tuhan atau nama essensi Tuhan. Sekalipun disuarakan secara lembut, suara nama Allah bagaikan halilintar, huruf pertama secara tiba-tiba bergelombang keras bagaikan sebuah letupan. Puncak gelombang ini berbenturan dengan gelombang huruf lam saddah yang saling berlawanan arah setelah itu gelombangnya merendah pelan-pelan bagaikan halilintar yang menggelinding semakin jauh. Dalam tulisan Muhammad Busyrhah, seorang Maroko penerus Syeikh Darqawi, menyatakan: Nama “Allah” tersusun empat huruf yang dibaca Allah. Jiika huruf pertama dihilangkan terbaca Lillah (untuk atau kepada Tuhan). Jika huruf berikutnya dihilangkan terbaca lahu (untuk-Nya atau kepada-Nya). Dan jika hanya tingal ha’ terbaca hu (Dia) yang merupakan nama essensi atau hakikat. Dengan cara yang sama, maka ketika engakau berdu’a atau berdzikir dengan menyebut nama Allah, niscaya secara bertahap nama tersebut akan melarut didalam dada. Seperti ini pula perihal kematian seseorang dimana nyawanya ditarik sampai ujung nafas, dan akhirnya nyawa lepas meninggalkan badan dengan hembusan nafas yang terakhir.
Berdu’a dengan al-Asma al-Husna yang bukan bahasa Arab atau bahasa ‘Ajam terdapat perbedaan pendapat di kalangan pakar du’a, sebagian membolehkan seperti ‘Ali al-Buni, dan sebagian lagi ada yang tidak membolehkan jika tidak yakin bahwa nama itu merupakan nama sifat dari Allah Swt.

BAB XI

SHALAWAT, BARAKAH, HIZIB, DAN SAEFI

A. Shalawat
Kata shalawat adalah bentuk jamak dari shalah, yang berarti rahmat, kemuliaan, dan kesejahteraan. Secara fenomenal kata shalah biasanaya mengisayaratkan peribadatan ritual (shalat), sedang kata kerjanya shalla (“menyanjung”, “memberkahi”, dan sering diterjemah-kan sebagai “mendo’akan”). Merupakan istilah yang berasal dari bahasa Aramaic yang akar katanya mengandung pengertian “mengagungkan”. Arti bersha-lawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika dari Allah Swt berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari Malaikat berarti memintakan ampun. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu do’a agar Allah Swt memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya. Kalau dari makhluk kepada Allah, shalawat juga dapat berarti do’a baik untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak atau untuk kepentingan bersama.
Dalam hal ini al-Qur’an menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب:22)
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya menurunkan barkah dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman hendaknya engkau memohonkan barkah untuknya”. (QS.al-Ahzâb:56).
Umat muslim membacakan sejumlah shalawat dalam berbagai ritual dan upacara keagamaan. Pembacaan do’a senantiasa diiringi dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad. Sebuah versi shalawat yang berkembang di Afrika Utara adalah:
الصلاة والسلام عليك يا نبي الله, الصلاة والسلام عليك يا حبيب الله, الصلاة والسلام عليك يارسول الله, ألف صلاة وألف سلام, عليك وعلى آلك ورضى عن أصحابك يا خير من إختار الله
Keberkahan dan keselamatan untuk mu wahai Nabi Allah; Keberkahan dan keselatan untuk mu wahai kekasih Allah; Keberkahan dan keselamatan untuk mu wahai utusan Allah. Beribu-ribu barkah dan keselamatan untukmu, untuk keluargamu dan untuk sahabatmu dan juga keridhaan Allah wahai satu-satunya orang yang terpilih oleh Allah.
Redaksi shalawat lainnya di antaranya adalah:
اللهم صل على سيدنا محمد عدد خلقك ورضاء نفسك ومداد كلمتك سبحن الله عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
Wahai Tuhan kami berilah limpahan berkah dan keselamatan kepada piamapinan kami Nabi Muhammad sebanyak makhluk-Mu, dan anugerahkan keridhaan-Mu sebanyak tinta yang diperlukan untuk menuliskan firman-mu. Maha Suci Allah atas segala yang disifatkan kepadanya, dan keselamatan semoga senantiasa terlimpahkan kepada para Rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
Ketika orang beriman menyebutkan nama Nabi Muhammad, baik ketika disebut dengan namanya atau disebut dengan gelarnya seperti al-Nabi, atau Rasul Allah, maka terdapat kebiasaan melengkapi sebutan tersebut dengan kalimat shalla-Allahu ‘Alayhi Wassallam (semoga barkah dan keselamatan Allah senantiasa terlimopahkan kepadanya). Shalah (berkah) berarti berkah vertikal dari Allah secara langsung, sedang kata salam (keselamatan) menunjukan anugerah horizontal yang memperkokoh orang-orang yangb diberi barkah.
Keutamaan bershalawat dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah swt dan malaikat-malaikat-Nya ber-shalawat atas Nabi Saw., seperti terlihat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya menurunkan barkah dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman hendaknya engkau memohonkan barkah untuknya”. (QS.33:56). Penggalan ayat ini menunjukan bahwa Allah swt melimpahkan rahmat bagi Nabi Muhammad dan para Malaikat memintakan ampun bagi Nabi Muhammad Saw. Karena itu pada lanjutan ayat tersebut, Allah Swt menyuruh orang-orang mukmin supaya bershalawat dan memberi salam kepada Nabi Muhammad Saw: “…Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Adapun bacaan shalawat adalah:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد
Wahai Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan umat Muhammad.
Shalawat ini selalu dibaca dalam shalat pada tahiyat pertama. Adapun bacaan shalawat yang lebih panjang pada tahiyat kedua berbunyi:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمبن إنك حميد مجيد
Wahai Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memuliakan Nabi Ibrahîm dan umat Ibrahîm, Sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji, Yang Maha Mulia. Wahai Allah, berkahilah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji, dan Yang Maha Mulia.
Salam kepada Nabi Saw yang dimaksud ayat tersebut adalah:
السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته
Semoga selamat atasmu Muhammad, semoga Allah memberi rahmat dan berkah-Nya kepadamu.
Salam ini juga terdapat dalam tahiyyat.
Apabila seseorang mendengar orang lain menyebut nama Nabi Muhammad, ia dianjurkan membaca shalawat yang berbunyi
صلى الله عليه وسلم
Semoga Rahmat dan Kesejahteraan (keselamatan) dilimpahkan kepadanya.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah Swt. pernah bersabda:
إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا علي فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه وسلم بها عشرا (رواه مسلم)
Kalau kalian mendengar adzan, maka ikutilah bacaannya, sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian membaca shalawatlah kepadaku, sebaba barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah Swt. akan membaca shalawat bagi hamba tersebut sepuluh kali . (HR. Muslim)
Dalam hadits lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim diceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw datang dengan wajah berseri-seri seraya berkata: “Malaikat Jibril telah datang kepadaku sambil berkata: “Amat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa satu shalawat dari seorang umatmu akan aku imbangi dengan sepuluh du’a (permohonan rahmat) baginya, dan bagi salam yang disampaikannya kepadamu akan aku balas dengan sepuluh salam (memohon kesejahteraan) baginya”. Dinyatakan oleh Rasulullah Saw: “Apabila seseorang bershalawat kepadaku, niscaya Malaikat akan bershalawat (memohon keselamatan) yang sama baginya, sedikit ataupun banyak.”
Ia bersabda pula dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh at-Tarmidzi: “Manusia yang paling utama dalam pandanganku adalah manusia yang paling banyak bershalawat kepadaku” dan “Alangkah kikirnya manusia ketika ia mendengar namaku disebut dia tidak mengucap shalawat bagiku”. Selain itu dalam hadits yang diriwayatkan Adu Daud, diterangkan tentang waktu yang utama untuk membaca shalawat yakni “Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jum’at”.
Hadits yang diriwayatkan Muslim menegaskan bahwa Rasulullah saw pernah menegaskan: “Sepuluh kebaikan senantiasa dicatat oleh umatku yang mau bershalawat kepadaku dan dihapuskan darinya sepuluh kejahatan.”
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori Nabi saw bersabda: “Barang siapa ketika usai mendengar adzan lalu mengucapkan:
اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة, أت سيدنا عبدك ورسولك الوسيلة والفضيلة والدراجة الرفيعة والشفاعة يوم القيامة ومقاما محمودا الذي وعدته إنك لاتخلف الميعاد
Ya Allah Tuhanku, dengan seruan yang sempurna dan shalat yang tegak ini berilah rahmat pada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, berikanlah baginya jalan, keutamaan, derajat yang tinggi, dan safa’at (pertolongan) di hari kiamat serta tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan kepadanya sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji, niscaya tersedia baginya pertolongan (safa’at) di hari kiamat”.
Ucapan-ucapan shalawat tersebut pada lazimnya dibaca dalam shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat Id, dalam khutbah, ceramah, da’wah, berdo’a dan lain-lain. Disamping itu ada bacaan shalawat yang dirubah oleh para Ulama dengan tujuan untuk mengagungkan Nabi Muhammad Saw seperti bacaan shalawat yang terdapat dalam kitab al-Burdah karya al-Budini dan juga dalam kitab al-Barjanji. Buku-buku ini juga berisi sejarah hidup Nabi Muhammad Saw yang disertai dengan pujian dan sanjungan kepadanya dengan gaya bahasa yang indah. Kitab-kitab ini banyak dibaca dalam acara-acara peringatan maulid (hari kelahiran Nabi Muhammad Saw), khitanan anak, dan aqiqah anak serta peresmian namanya terutama di lingkungan masyarakat muslim di pedesaan.

B. Barakah
Barakah berasal dari akar kata, baraka (menyudahi), sedang kata birkah berarti “sumur”, kata ini juga mengandung pengertian berlutut seperti unta. Namun yang lebih umum barakah diartikan sebagai “Suatu Keagungan” khususnya kaitannya dengan karunia atau kekuatan spiritual yang dianugerahkan oleh Tuhan. Barakah dapat ditemukan dala diri seseorang, tempat, dan dalam segala sesuatu. Suatu tindakan dan dalam keadaan tertentu dipandang megandung barakah. Beberapa ucapan selamat dan ungkapan keagamaan mengandung ide barakah, seperti ungkapan baraka al-Allah Fik (semoga Allah memberkahimu), suatu kebiasaan untuk mengungkapkan terimakasih.
Barakah berarti juga bertambahnya berbagai macam kebaiikan, sebagai hasil karya spiritual dan rasional seseorang dalam mengaktualisasikan keimanan dan ketaqwaan .

C. Hizib
Secara bahasa hizib berarti penghalang. Sedangkan hizib dalam istilah tasawuf dan tarekat adalah kumpulan dzikir yang disusun oleh seorang guru tarekat atau seorang ulama untuk diamalkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Bacaan-bacaan yeng terangkai pada bacaan hizib adalah berupa kumpulan ayat-ayat pilihan dalam al-Qur’an, pujian-pujian, al-Asma al-Husna, Shalawat, tahlîl dan du’a-du’a pilihan. Tarekat yang terkenal dengan hizib-nya adalah tarekat Syadziliyah dengan hizib al-Bahr (penjaga laut atau pasukan laut) yang disusun oleh Syekh Abu Hasan Ali asy-Syadzili. Hizib al-Bahr ini terdiri dari ayat-ayat pilihan dari al-Qur’an, syahadat, al-Asma al-Husna, shalawat dan do’a-do’a pilihan. Hizib al-Bahr biasanya dibaca sebelum terbit matahari dan sesudah shalat ashar. Selain tarekat Syadziliyah, tarekat yang populer dengan hizib-hizibnya adalah tarekat Qadiriyah. Di antara hizib-nya adalah: hizib as-Shagir (pasukakn kecil), hizib al-Hifz (pasukan pengawas), hizib an-Nasr (pasukan penolong), hizib an-Nasr al-Akbar (pasukan penolong yang besar), hizib Imam an-Nawawi dan lain sebagainya. Tujuan membaca hizib adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., meminta bantuan-Nya dalam mengekang hawa nafsu, memohon maghfirah (ampunan-Nya), dan meminta petunjuk serta taufiq-Nya dalam rangka mencapai ridha-Nya. Selain itu untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt dari segala sesuatu yang berbahaya dan sesuatu yang tidak diinginkan .
Penamaan hizib ada yang dinisbahkan kepada nama penyusunnya dan ada yang dinisbahkan pada fungsi dan tujuan pesan substansi hizib.

D. Dua Saefi
1. Pengertian dan Hakikat Saefi
Dari segi etimologi, kata saefi (bahasa Arab) berarti pedang. Kata ini dipakai mungkin karena pedang adalah senjata yang tajam. Sedangkan arti saefi menurut terminologi, adalah nama du’a yang terdiri dari rentetan bacaan menurut bilangan dan waktu tertentu yang dialamatkan kepada Allah. Dilihat segi esensinya saefi adalah do’a khusus yang dibaca terus menerus atau berulang-ulang menurut bilangan dan waktu tertentu. Karena do’a itu dibaca berulang-ulang maka do’a itu akan menjadi darah daging orang itu sehingga nilai do’a itu akan memiliki ketajaman seperti tajamnya pedang yang diasah berulangkali. Do’a yang tajam di sini maksudnya ialah do’a yang cepat dikabulkan Tuhan.
2. Cara Memperoleh Du’a Saefi
Bagaimana cara memperoleh du’a saefi? Pada dasarnya ilmu du’a saefi diperoleh seperti memperoleh ilmu hikmah. Du’a saefi adalah salah satu du’a magik putih. Cara-cara memperoleh du’a saefi sangat beragam, tergantung pada siapa gurunya dan saefi apa yang ia inginkan.
Pada umumnya ilmu magis diperoleh melalui puasa, tetapi ternyata tidak semua du’a saefi diperoleh melalui puasa. Ada saefi yang diperoleh hanya dengan melakukan wirid saja sebanyak bilangan tertentu seperti saefi Mughni, Saefi Dzulfaqar dan lain-lain. Selain itu banyak saefi yang dipelajari dengan berpuasa dan wirid, ada juga yang ditambah dengan tidak memakan makanan bernyawa, tidak bersebadan selama menuntut saefi tertentu seperti untuk Saefi Angin, Saefi Air. Jadi, ada berbagai cara memperoleh saefi, tergantung pada gurunya dan jenis saefinya. Namun secara umum saefi diperoleh dengan banyak dzikrullah dan menjauhi maksiat. Selain itu, berdo’a dengan saefi ini hendaknya berguru dan berijazah kepada ahlinya.
3. Jenis-jenis Du’a Saefi
Berikut ini ada beberapa macam saefi dan cara memperolehnya:
1. Saefi Djulfaqar
Du’a ini apabila dimiliki dan diwiridkan orang yang memilikinya berwibawa.
2. Saefi Mughni
Saefi ini dapat menyebabkan pemilik atau pengamalnya mendadak kaya.
3. Saefi Umum
Saefi ini apabila diamalkan maka apapun yang diinginkan akan mudah tercapai.
4. Saefi Antazaman
Saefi ini dapat menyelamatkan orang dari pengaruh negatif arus zaman.
Bentuk redaksi macam du’a saefi tersebut dapat berguru kepada ahlinya. Penulis tidak berkompeten untuk mengijazahkan saefi tersebut, tetapi hanya sebatas menunjukkan secara teoritis bahwa ada bentuk du’a yang disebut saefi.

BAB XI

SHALAWAT, BARAKAH, DAN HIZIB

A. Shalawat
Kata shalawat adalah bentuk jamak dari shalah, yang berarti rahmat, kemuliaan, dan kesejahteraan. Secara fenomenal kata shalah biasanaya mengisayaratkan peribadatan ritual (shalat), sedang kata kerjanya shalla (“menyanjung”, “memberkahi”, dan sering diterjemah-kan sebagai “mendo’akan”). Merupakan istilah yang berasal dari bahasa Aramaic yang akar katanya mengandung pengertian “mengagungkan”. Arti bersha-lawat dapat dilihat dari pelakunya. Jika dari Allah Swt berarti memberi rahmat kepada makhluk. Shalawat dari Malaikat berarti memintakan ampun. Sedangkan shalawat dari orang-orang mukmin berarti suatu do’a agar Allah Swt memberi rahmat dan kesejahteraan kepada Nabi Muhammad Saw. dan keluarganya. Kalau dari makhluk kepada Allah, shalawat juga dapat berarti do’a baik untuk diri sendiri maupun untuk orang banyak atau untuk kepentingan bersama.
Dalam hal ini al-Qur’an menyatakan:
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا (الأحزاب:22)
“Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya menurunkan barkah dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman hendaknya engkau memohonkan barkah untuknya”. (QS.al-Ahzâb:56).
Umat muslim membacakan sejumlah shalawat dalam berbagai ritual dan upacara keagamaan. Pembacaan do’a senantiasa diiringi dengan bacaan shalawat kepada Nabi Muhammad. Sebuah versi shalawat yang berkembang di Afrika Utara adalah:
الصلاة والسلام عليك يا نبي الله, الصلاة والسلام عليك يا حبيب الله, الصلاة والسلام عليك يارسول الله, ألف صلاة وألف سلام, عليك وعلى آلك ورضى عن أصحابك يا خير من إختار الله
Keberkahan dan keselamatan untuk mu wahai Nabi Allah; Keberkahan dan keselatan untuk mu wahai kekasih Allah; Keberkahan dan keselamatan untuk mu wahai utusan Allah. Beribu-ribu barkah dan keselamatan untukmu, untuk keluargamu dan untuk sahabatmu dan juga keridhaan Allah wahai satu-satunya orang yang terpilih oleh Allah.
Redaksi shalawat lainnya di antaranya adalah:
اللهم صل على سيدنا محمد عدد خلقك ورضاء نفسك ومداد كلمتك سبحن الله عما يصفون وسلام على المرسلين والحمد لله رب العالمين
Wahai Tuhan kami berilah limpahan berkah dan keselamatan kepada piamapinan kami Nabi Muhammad sebanyak makhluk-Mu, dan anugerahkan keridhaan-Mu sebanyak tinta yang diperlukan untuk menuliskan firman-mu. Maha Suci Allah atas segala yang disifatkan kepadanya, dan keselamatan semoga senantiasa terlimpahkan kepada para Rasul, dan segala puji bagi Allah, Tuhan Semesta Alam.
Ketika orang beriman menyebutkan nama Nabi Muhammad, baik ketika disebut dengan namanya atau disebut dengan gelarnya seperti al-Nabi, atau Rasul Allah, maka terdapat kebiasaan melengkapi sebutan tersebut dengan kalimat shalla-Allahu ‘Alayhi Wassallam (semoga barkah dan keselamatan Allah senantiasa terlimopahkan kepadanya). Shalah (berkah) berarti berkah vertikal dari Allah secara langsung, sedang kata salam (keselamatan) menunjukan anugerah horizontal yang memperkokoh orang-orang yangb diberi barkah.
Keutamaan bershalawat dinyatakan dalam al-Qur’an bahwa Allah swt dan malaikat-malaikat-Nya ber-shalawat atas Nabi Saw., seperti terlihat dalam firman-Nya: “Sesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya menurunkan barkah dan keselamatan kepada Nabi Muhammad, Wahai orang-orang yang beriman hendaknya engkau memohonkan barkah untuknya”. (QS.33:56). Penggalan ayat ini menunjukan bahwa Allah swt melimpahkan rahmat bagi Nabi Muhammad dan para Malaikat memintakan ampun bagi Nabi Muhammad Saw. Karena itu pada lanjutan ayat tersebut, Allah Swt menyuruh orang-orang mukmin supaya bershalawat dan memberi salam kepada Nabi Muhammad Saw: “…Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”
Adapun bacaan shalawat adalah:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد
Wahai Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan umat Muhammad.
Shalawat ini selalu dibaca dalam shalat pada tahiyat pertama. Adapun bacaan shalawat yang lebih panjang pada tahiyat kedua berbunyi:
اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم في العالمبن إنك حميد مجيد
Wahai Allah, muliakanlah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memuliakan Nabi Ibrahîm dan umat Ibrahîm, Sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji, Yang Maha Mulia. Wahai Allah, berkahilah Nabi Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau memberkahi Nabi Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Terpuji, dan Yang Maha Mulia.
Salam kepada Nabi Saw yang dimaksud ayat tersebut adalah:
السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته
Semoga selamat atasmu Muhammad, semoga Allah memberi rahmat dan berkah-Nya kepadamu.
Salam ini juga terdapat dalam tahiyyat.
Apabila seseorang mendengar orang lain menyebut nama Nabi Muhammad, ia dianjurkan membaca shalawat yang berbunyi
صلى الله عليه وسلم
Semoga Rahmat dan Kesejahteraan (keselamatan) dilimpahkan kepadanya.
Dalam suatu hadits yang diriwayatkan Muslim, Rasulullah Swt. pernah bersabda:
إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول ثم صلوا علي فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه وسلم بها عشرا (رواه مسلم)
Kalau kalian mendengar adzan, maka ikutilah bacaannya, sebagaimana yang ia ucapkan. Kemudian membaca shalawatlah kepadaku, sebaba barangsiapa yang membaca shalawat kepadaku satu kali, maka Allah Swt. akan membaca shalawat bagi hamba tersebut sepuluh kali . (HR. Muslim)
Dalam hadits lainnya yang juga diriwayatkan oleh Imam Muslim diceritakan bahwa pada suatu hari Rasulullah Saw datang dengan wajah berseri-seri seraya berkata: “Malaikat Jibril telah datang kepadaku sambil berkata: “Amat menyenangkan untuk engkau ketahui wahai Muhammad, bahwa satu shalawat dari seorang umatmu akan aku imbangi dengan sepuluh du’a (permohonan rahmat) baginya, dan bagi salam yang disampaikannya kepadamu akan aku balas dengan sepuluh salam (memohon kesejahteraan) baginya”. Dinyatakan oleh Rasulullah Saw: “Apabila seseorang bershalawat kepadaku, niscaya Malaikat akan bershalawat (memohon keselamatan) yang sama baginya, sedikit ataupun banyak.”
Ia bersabda pula dalam beberapa hadits yang diriwayatkan oleh at-Tarmidzi: “Manusia yang paling utama dalam pandanganku adalah manusia yang paling banyak bershalawat kepadaku” dan “Alangkah kikirnya manusia ketika ia mendengar namaku disebut dia tidak mengucap shalawat bagiku”. Selain itu dalam hadits yang diriwayatkan Adu Daud, diterangkan tentang waktu yang utama untuk membaca shalawat yakni “Banyaklah bershalawat kepadaku di hari Jum’at”.
Hadits yang diriwayatkan Muslim menegaskan bahwa Rasulullah saw pernah menegaskan: “Sepuluh kebaikan senantiasa dicatat oleh umatku yang mau bershalawat kepadaku dan dihapuskan darinya sepuluh kejahatan.”
Dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhori Nabi saw bersabda: “Barang siapa ketika usai mendengar adzan lalu mengucapkan:
اللهم رب هذه الدعوة التامة والصلاة القائمة, أت سيدنا عبدك ورسولك الوسيلة والفضيلة والدراجة الرفيعة والشفاعة يوم القيامة ومقاما محمودا الذي وعدته إنك لاتخلف الميعاد
Ya Allah Tuhanku, dengan seruan yang sempurna dan shalat yang tegak ini berilah rahmat pada Muhammad hamba-Mu dan Rasul-Mu, berikanlah baginya jalan, keutamaan, derajat yang tinggi, dan safa’at (pertolongan) di hari kiamat serta tempat yang terpuji yang telah engkau janjikan kepadanya sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji, niscaya tersedia baginya pertolongan (safa’at) di hari kiamat”.
Ucapan-ucapan shalawat tersebut pada lazimnya dibaca dalam shalat lima waktu, shalat Jum’at, shalat Id, dalam khutbah, ceramah, da’wah, berdo’a dan lain-lain. Disamping itu ada bacaan shalawat yang dirubah oleh para Ulama dengan tujuan untuk mengagungkan Nabi Muhammad Saw seperti bacaan shalawat yang terdapat dalam kitab al-Burdah karya al-Budini dan juga dalam kitab al-Barjanji. Buku-buku ini juga berisi sejarah hidup Nabi Muhammad Saw yang disertai dengan pujian dan sanjungan kepadanya dengan gaya bahasa yang indah. Kitab-kitab ini banyak dibaca dalam acara-acara peringatan maulid (hari kelahiran Nabi Muhammad Saw), khitanan anak, dan aqiqah anak serta peresmian namanya terutama di lingkungan masyarakat muslim di pedesaan.

B. Barakah
Barakah berasal dari akar kata, baraka (menyudahi), sedang kata birkah berarti “sumur”, kata ini juga mengandung pengertian berlutut seperti unta. Namun yang lebih umum barakah diartikan sebagai “Suatu Keagungan” khususnya kaitannya dengan karunia atau kekuatan spiritual yang dianugerahkan oleh Tuhan. Barakah dapat ditemukan dala diri seseorang, tempat, dan dalam segala sesuatu. Suatu tindakan dan dalam keadaan tertentu dipandang megandung barakah. Beberapa ucapan selamat dan ungkapan keagamaan mengandung ide barakah, seperti ungkapan baraka al-Allah Fik (semoga Allah memberkahimu), suatu kebiasaan untuk mengungkapkan terimakasih.
Barakah berarti juga bertambahnya berbagai macam kebaiikan, sebagai hasil karya spiritual dan rasional seseorang dalam mengaktualisasikan keimanan dan ketaqwaan .

C. Hizib
Secara bahasa hizib berarti penghalang. Sedangkan hizib dalam istilah tasawuf dan tarekat adalah kumpulan dzikir yang disusun oleh seorang guru tarekat atau seorang ulama untuk diamalkan dalam waktu-waktu yang telah ditentukan. Bacaan-bacaan yeng terangkai pada bacaan hizib adalah berupa kumpulan ayat-ayat pilihan dalam al-Qur’an, pujian-pujian, al-Asma al-Husna, Shalawat, tahlîl dan du’a-du’a pilihan. Tarekat yang terkenal dengan hizib-nya adalah tarekat Syadziliyah dengan hizib al-Bahr (penjaga laut atau pasukan laut) yang disusun oleh Syekh Abu Hasan Ali asy-Syadzili. Hizib al-Bahr ini terdiri dari ayat-ayat pilihan dari al-Qur’an, syahadat, al-Asma al-Husna, shalawat dan do’a-do’a pilihan. Hizib al-Bahr biasanya dibaca sebelum terbit matahari dan sesudah shalat ashar. Selain tarekat Syadziliyah, tarekat yang populer dengan hizib-hizibnya adalah tarekat Qadiriyah. Di antara hizib-nya adalah: hizib as-Shagir (pasukakn kecil), hizib al-Hifz (pasukan pengawas), hizib an-Nasr (pasukan penolong), hizib an-Nasr al-Akbar (pasukan penolong yang besar), hizib Imam an-Nawawi dan lain sebagainya. Tujuan membaca hizib adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt., meminta bantuan-Nya dalam mengekang hawa nafsu, memohon maghfirah (ampunan-Nya), dan meminta petunjuk serta taufiq-Nya dalam rangka mencapai ridha-Nya. Selain itu untuk memohon perlindungan kepada Allah Swt dari segala sesuatu yang berbahaya dan sesuatu yang tidak diinginkan .
Penamaan hizib ada yang dinisbahkan kepada nama penyusunnya dan ada yang dinisbahkan pada fungsi dan tujuan pesan substansi hizib.

BAB XII

DASAR-DASAR DU’A
PENYEMBUHAN PENYAKIT

A. Hakikat Penyakit
Menurut Ibnu Qayim al-Zawzi dalam al-Thib an-Nabawi, bahwa secara umum penyakit itu dapat dibagi menjadi dua macam, yakni: Pertama, Penyakit hati atau penyakit jiwa dan Kedua, Penyakit badan atau penyakit jasad. Sedangkan yang dimaksud penyakit adalah satu situasi jasmani dan atau ruhani yang hilang kesetimbangan dan keharmonisan interaksi antar unsur-unsur yang ada pada ruhani maupun jasmani. Selanjutnya menurut Ibnu Qayyim, yang dimaksud dengan penyakit ruhani (qalbu) adalah situasi dan kondisi qalbu yang keluar dari kesehatan dan keharmonisannya dengan ditandai terdapatnya gerak menyimpang dari garis aktivitas mentauhidkan Allah dan mencintai-Nya.
Tentang adanya penyakit qalbu di antaranya diisyaratkan antara lain: Q.S. 2: 7 dan 94; 47: 24; 16: 108; 33: 32; dan 74: 31. Atas dasar pemahaman terhadap ayat-ayat tersebut, menurut Ibnu Qayim bahwa penyakit qalbu akan berpengaruh kepada kesehatan jasmani. Di antara contoh bentuk penyakit ruhani tersebut, antara lain: Munafik, ragu-ragu atas Kemahakuasaan Allah, berperilaku dosa, perilaku brutal, mengumbar keinginan syahwat diluar ketentuan syari’at.
Sedangkan tentang penyakit jasad atau adalah situasi dan kondisi jasmani atau fisik jasadiyah yang hilang kesetimbangan dan keharmonisan antar unsur-unsur asal kejadian fisik, yaitu unsur panas dari api, unsur dingin dari air, unsur halus dari hawa, dan unsur ketenangan dari bumi. Menurut Ibnu Qayyim, terjadinya ketidaksetimbangan antar unsur-unur itu disebabkan oleh unsur-unsur makan yang isyraf (over dosis) menurut aturan syara’ dan pengaruh dari penyakit qalbu.
Menurut pendapat Ibnu al-Anbari, penyakit secara bahasa adalah rusaknya sesuatu. Oleh karena itu jasad disebut sakit ketika terjadi kerusakan keberadaan jasad itu dan berubahnya situasi jasad dari keharmonisan antar unsur jasadiyah. Menurut al-Anbari penyakit itu berkisar antara empat macam situasi fisik, yaitu: (a) Fasad (rusak), (b) Dha’fun (lemah), (c) Nuqhsanun (berkurang), dan (d) Dzulmatun (kegelapan).
Menurut pendapat lain, misalnya Ibnu al-‘Arabi pernah mengatakan bahwa asalnya penyakit itu berkurangnya daya tahan tubuh (fisik jasadiyah). Sedangkan menurut al-Azhari dan al-Mundziri, bahwa yang disebut sakit jasmani adalah goyahnya kedaan fisik dan yang disebut penyakit qalbu yaitu goyahnya keadaan qalbu dari kejernihannya dalam bentuk al-Jahlu (kebodohan), as-Syak (ragu-ragu), al-Khiyârah (bingung), dan ad-Dzholal (sesat).
Dari empat macam penyakit ini, akan muncul kepermukaan tindakan-tindakan yang menyimpang. Dengan demikian tindakan penyimpangan yang teramati merupakan refleksi dari keruhanian seseorang. Selanjutnya satuan-satuan dari keragaman penyakit itu, menjadi kajian kedokteran yang sudah dibahas oleh dokter-dokter muslim, misalnya Ibnu Sina, al-Razi, Ibnu Rusyd, dan lain-lainnya.
Upaya untuk melakukan penyembuhan dari berbagai macam bentuk penyakit tersebut, al-Qur’an memberikan isyarat-isyarat bahwa al-Qur’an itu sendiri dari apa yang ditunjuk oleh al-Qur’an terdapat cara-cara atau upaya-upaya menyembuhkan berbagai penyakit. Bagaimana prinsip-prinsip upaya menyembuhkan ber-bagai penyakit tersebut? Selanjutnya akan dibahas pada bagian berikut.

B. Prinsip-Prinsip Du’a Penyembuhan Penyakit
Ibnu Qayim al-Zawzi adalam tafsir al-Qayim,
ketika menafsirkan ayat 82 dari Q.S. al-Isra dan Q.S. Fushilat ayat 44, dijelaskan bahwa yang dimaksud dengan al-Qur’an berfungsi sebagai “Syifa” (obat penawar penya-kit), artinya al-Qur’an itu berfungsi sebagai obat penawar berbagai penyakit baik penyakit jasmani maupun ruhani. Karena menurut Ibnu Qayim, perkataan “Min” pada ayat 82 Q.S. al-Isra tersebut, maknanya “lilbayyan” (sebagai penjelasan) bukan “litab’id” (menunjukan sebahagian).
Ayat-ayat al-Qur’an yang mendasari istisyfâ (upaya penyembuhan penyakit) menurut dan dengan al-Qur’an, adalah sebagai berikut:
1. Q.S. at-Taubah: 14
2. Q.S. as-Syu’arâ: 80
3. Q.S. Yunus: 57
4. Q.S. an-Nahl: 69
5. Q.S. al-Isra: 82
6. Q.S. Fushilat: 44
7. Q.S. al-Anbiya: 83 dan
8. Q.S. Shad: 41 s/d 44
Dari isyarat-isyarat ayat tersebut terdapat bentuk kegiatan penyembuhan terhadap penyakit, antara lain:
a. Penyembuhan penyakit dengan du’a
b. Penyembuhan penyakit dengan roja’ (optimisme)
c. Penyembuhan penyakit dengan shalat
d. Penyembuhan penyakit dengan shaum
e. Penyembuhan penyakit dengan shabar
f. Penyembuhan penyakit dengan taubat
g. Penyembuhan penyakit dengan mandi dengan air
h. Penyembuhan penyakit dengan minum air
i. Penyembuhan penyakit dengan membaca al-Qur’an yang difungsikan sebagai du’a.
Prinsip-prinsip penyembuhan penyakit melalui du’a berdasarkan isyarat nama-nama surat yang memuat ayat tentang funsi al-Qur’an sebagai syifa, adalah sebagai berikut:
a. Prinsip taubat, yaitu upaya menghentikan dan menggantikan perilaku negatif menurut syara’ dan urf (pengetahuan nilai-nilai dan norma-norma yang disepakati oleh komunitas tertentu dalam bentuk kegiatan tertentu).
b. Prinsip kelembutan dan kehalusan budi, yaitu bahwa kelembutan dan kehalusan budi itu menjadi dasar etik dalam upaya melaksanakan proses penyembuhan.
c. Prinsip kesadaran diri, yaitu proses mengintrosfeksi perilaku lahir dan bathin yang dikategorisasikan sebagai perilaku dzalim untuk diganti dengan perilaku ‘adil , yaitu dengan cara menggunakan potensi diri itu sendiri secara proforsional menurut keharusan syari’at.
d. Prinsip madu. Prinsip ini dimaksudkan dalam upaya penyembuhan karakteristik yang ada pada lebah untuk dijadikan pelajaran penting sebagai sandaran perilaku penyembuhan. Misalnya, kehati-hatian dalam hal makanan dari segala makan yang akan menyebabkan timbulnya penyakit; Tidak berpra-sangka dan berpikiran kotor, karena lebah tidak hinggap pada tempat-tempat yang kotor; Aktualisasi kesucian jati diri yang digambarkan dengan alat penyengat lebah. Selain itu, alat sengat lebah dan madunya dari hasil karya lebah menjadi salah satu macam obat bagi penyakit-penyakit tertentu.
e. Prinsip rekreasi spiritual (al-Isra) melalui pengalaman komunikasi transendental dengan memahami cip-taan-ciptaan Allah Yang Maha Kuasa, bahwa betapa keberadaan diri itu merupakan sub sistem dan merupakan anggota dari macro cosmos yang bergerak dalam ketentuan hukum alam ciptaan Allah Swt.
f. Prinsip diagnosis sebab-akibat (fushilat), yaitu bahwa proses penyembuhan merupakan upaya meng-hilangkan berbagai macam penyakit baik penyakit jasmani maupun ruhani
g. Prinsip tawakal kepada Allah, yaitu bahwa upaya penyembuhan adalah proses menjalani hukum kau-salitas imaterial ciptaan Tuhan. Dan dari prinsip ini menjadi keniscayaan bahwa pembuat penyakit dan pembuat obat serta penyembuh penyakit pada hakikatnya berjalan dalam prinsip izin Allah Swt.

C. Pengaruh Du’a Penyembuhan
Menurut Ibnu Qayim al-Zawzi, bahwa du’a memiliki pengaruh terhadap penyembuhan penyakit karena du’a pada hakikatnya merupakan energi immateri yang diarahkan kepada penyakit. Atas dasar itu, maka dapat dirumuskan ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
a. Bobot energi du’a lebih besar dari penyakit, maka peluang sembuh lebih besar,
b. Antara bobot energi du’a dengan penyakit seimbang (sama), maka peluang sembuh lambat,
c. Bobot penyakit lebih besar dari bobot du’a, maka peluang sembuh lebih kecil.
Mengacu kepada tiga prinsip tersebut, maka dalam melakukan du’a untuk penyembuhan penyakit, maka petugas atau siapa pun yang melakukannya harus menyadari bahwa upaya-upaya dalam bentuk du’a yang dilakukannya harus memiliki volume yang lebih tinggi dan lebih besar dibanding dengan penyakit yang akan didu’akan untuk disembuhkannya itu.
Sedangkan menurut Abu Hasan bin Yusuf al-Amiri bahwa dua itu sebagai sesuatu yang immateri akan berpengaruh kepada penyakit jasmani yang bersifat materi, dan berpengaruh kepada penyakit ruhani yang bersifat imateri. Tabel berikut ini menjelaskan teori pengaruh yang diungkapkan oleh al-Amiri:
No Kategori Pengaruh Contoh
1 Materi Materi Pengaruh magnetis
2 Imateri Materi Energi rasa dan kon-sentrasi daya pikiran serta du’a
3 Imateri Imateri Nasehat dan du’a
4 Materi Imateri Alat-alat musik terha-dap kegembiraan sese-orang
Berdasarkan tebel tersebut, posisi pengaruh du’a dalam pandangan al-Amiri termasuk kategori pengaruh (2 dan 3). Upaya-upaya penelitian yang sudah dilakukan oleh para psikiater menunjukkan adanya bukti empirik pengaruh dari immateri terhadap immateri dan immateri terhadap materi.

D. Prosedur Du’a Penyembuhan
Pada prinsipnya adab-adab du’a penyembuhan tidak berbeda dengan adab-adab du’a yang telah dijelaskan pada bab IX ( Adab dan Macam Prosedur Berdu’a). Namun demikian, terdapat prosedur khusus selain dari mengaplikasikan prinsip-prinsip du’a yang telah disebutkan, juga ada tata cara khusus yang menjadi kajian atau objek bahasan psikoterapi Islam , sedangkan tugas efistimologi du’a hanya memberikan kerangka dasar teoritik, bahwa du’a merupakan bagian dari isytisfa (upaya pengobatan penyakit)

E. Macam-Macam Du’a Penyembuhan
Apabila mengacu kepada isyarat-isyarat al-Qur’an, bahwa upaya penyembuahan melalui pendekatan du’a dapat dikategorisasikan menjadi dua macam, yakni: (a) Pengobatan secara wiqa’i, pencegahan agar suatu penyakit jauh dari diri seseorang atau orang lain, dan (b) Pengobatan secara ‘ilazi, yaitu upaya penyembuhan penyakit yang telah terjadi pada diri seseorang agar kembali sehat.
Secara khusus pakar du’a yang menulis tentang hal ini, antara lain adalah Abdul Mun’in Qudzail dengan judul buku Al-Tadawa bi Al-Qur’an, Penerbit : Maktabah al-Turats al-Islamy, Tempat Terbit : Kairo, Tahun Terbit : 1987 dengan tebal buku : 1987 halaman. Buku ini, mengkaji secara aplikatif tentang tiga persoalan yang terkait dengan upaya pemeliharaan kesehatan dan upaya penyembuhan dari penyakit, yaitu berupa tindakan preventif, tindakan kuratif, dan pendekatan psikoterafi, serta dilengkapi dengan contoh-contoh penggunaan du’a.
Untuk mengetahui tentang bagaimana operasionalisasi apa yang dibahas oleh penulis tersebut, hal ini menjadi kajian dalam psikoterafi Islam. Karena tugas pokok epistemologi du’a hanya menunjukkan bahwa upaya penyembuhan penyakit melalui du’a dapat dilakukan dengan mengacu kepada hidayah al-Qur’an.
Selain Abdul Mun’in, penulis lain adalah Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamil dengan judul buku Al-Istisyfa Bi al-Du’a, Penerbit: Dar al-Fadhilah, Terbit: Kairo, Tahun Terbit: 1988, tebal buku: 159 halaman. Menurut buku tersebut dengan mengutif pendapat Ibnu Qayim al-Zawzi, bahwa du’a merupakan bagian yang sangat bermanfaat dalam proses pengobatan penyakit. Lebih dari itu, bahkan du’a itu merupakan musuh penyakit, karena du’a selain mencegah datangnya penyakit juga dapat menyembuhkan dan menghilangkan penyakit yang sedang dan yang akan melekat kepada diri seseorang, sekaligus du’a merupakan senjata bagi orang-orang yang beriman kepada Allah Swt.
Menurut penulis buku ini, bahwa penyembuhan penyakit melalui du’a terdiri dari lima kategori du’a, yaitu:
1. Du’a dari al-Qur’an
2. Du’a dari al-Hadits
3. Du’a dari Shaum dan Shabar
4. Du’a dari Shalat
5. Du’a dari al-Asma al-Husna
Sedangkan kajian operasional lebih mendalam tentang bagaimana mengoptimalisasikan kajian yang disajikan oleh buku al-Istisyfa bi al-Du’a tersebut menjadi kajian material psikoterapi Islam. Tugas epistimologi du’a hanya menunjukan bahwa penyembuhan penyakit dengan du’a dapat dilakukan dengan macam-macam du’a sesuai dengan peruntukannya.

F. Upah Jasa Pelayanan Du’a Penyembuhan
Termasuk hal yang kontroversial tentang boleh atau tidaknya orang yang memberikan pelayanan du’a penyembuhan bagi orang yang sakit menerima upah atas jasa pelayanan du’anya itu. Pada satu sisi ada pihak yang menolak dan melarang menerima upah, namun disisi lain ada pihak yang membolehkan menerima upah atas jasa pelayanan du’a penyembuhan itu.
Bagi pihak yang menolak menerima upah, sebab memandang du’a itu sebagai bagian dari ibadah mahdhah yang harus dijaga dan dipelihara nilai ikhlas dalam pelaksanaannya, dan salah satu ciri ikhlas adalah tidak mengharapkan upah dan balasan kecuali dari Allah Swt.
Sedangkan bagi pihak yang membolehkan menerima upah atas jasa pelayanan du’a penyembuhan itu karena merujuk kepada beberapa penjelasan hadits Nabi yang memuat keterangan-keterangan mengenai bolehnya menerima upah jasa pelayanan du’a penyembuuhan. Dan di antara hadits yang menyatakan hal terse but adalah:
1. H.R. Bukhori pada pasal tentang pengobatan menggunakan Q.S al-Fatihah
2. H.R. Muslim pada bab yang sama, yaitu tentang pengobatan melalui du’a yang mengatakan boleh mengambil upah dari pelayanan du’a penyembuhan melalui al-Qur’an dan dzikir-dzikir
3. H.R. Imam Daruqutni dalam Sunan Darruqutni juz ke-23, halaman ke-4
4. H.R. Abu Daud yang dimuat pada hadits ke-34 18, 3419, dan 3900
5. H.R. Imam at-Tirmidzi dalam Sunan at-Tir midzi, yang tercantum pada urutan hadits ke-2063 dan 2064, tentang bolehnya menerima upah dari pelayanan du’a isti’âdzah.
6. H.R. Ibnu Majjah dalam Sunan Ibnu Majjah yang tercantum pada urutan hadits ke-2116 tentang upah membacakan du’a-du’a penyembuhan.
Sehubungan dengan keterangan-keterangan berdasarkan hadits-hadits tersebut khususnya mengenai boleh menerima upah atas pelayanan du’a penyembuhan, namun demikian tidak atau belum ditemukan berapa ketentuan nominalnya. Hanya saja menurut biasanya ukuran besaran nominal upah itu bergantung kepada prinsip “kerelaan” pemberi upah, dan mungkin saja besaran nominal itu disesuaikan dengan urf , yakni sesuai kesepakatan pengetahuan budaya masing-masing dimana kegiatan du’a pelayanan itu dilakukan.
Secara kausalitas upah pelayanan du’a penyembuhan yang terjadi pada jaman Rasulullah saw., ada shahabat memberikan upah sebagai wujud terimakasih atas jasa pelayanan du’a dengan memberikan upah berbentuk hewan, yaitu domba yang dalam istilah haditsnya disebut “Al-Qathi’”, yaitu domba sebanyak 30 ekor, itu diberikan sebagai upah pelayanan du’a kepada orang yang mendu’akan dengan cara membaca surah al-Fatihah sebanyak tujuh kali.

DAFTAR PUSTAKA
Scissor
Al-Qur’an
Abu al-Fida Muhammad ‘Izat Muhammad ‘Arif.
“Alij Nafsaka bi al-Qur’an”. Muassasah Badran, Jedah, 1993.
‘Abd al-Hamid Dayah dan Ahmad Qerquz. Ma’aal-Thib fi
al-Qur’an al-Karim. Muassasah ‘Ulum al-Qur’an,
Damaskus, 1982.
Ahmad al-Daerabi. Fath al-Malik al-Majid. Maktabah al-
Munawar, Semarang, Tt.
Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmum, Pasca Sarjana IAIN
Bandung, 2000
‘Abd al-Lathif ‘Asyur, Al-Tadawa bi al-A’syab wa
al-Nabatat. Maktabab Ibn Sina, Kairo, 1985.
Abu ‘Abd Allah Mushthafa al-Adawi. Qabas Mukhtar min
shahih al-azkar. Muassasah al-Juraisi, Riyadh, 1414
Ahmad al-‘Arabi. Nukhbah min al-Azkar al-Matsurah.
Maktabah al-Tan’im, Makah, Tt.
Ahmad Faried. Tazkiyah al-Nufus wa Tarbiyatuha Kama’
Yuqaribuhu ulama’ al shalaf. Dar al-Qalam, Beirut,
1986.
Ahmad bin ‘Ali al-Buni. Manba’ Ushul al-Hikmah. Al-
Maktabah al-Sya’biah, Beirut, 1970.
Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, (Pentahqiq: M.
Muhyiddin Abd. Hamid), Dar al-Fikr, Beirut, Tt.
Ahmad bin ‘Ali bin Hajar Abu Fadhl al-Atsqalanî, Fath
al-Barî, Daar al-Ma’rifah, Beirut, 1379.
‘Alî Hâzim dan Musthafâ Amîn, al-Balâgah al-Wâdihah, al-
Bayan wa al-Ma’ânî wa al-Badi’ li al-Madâris al-
Tsanawiyah, Dâr al-Ma’ârif, Mesir.
Abdurrauf al-Mannani, Faid al-Qadir, Maktabah Tijari al-
Kubra, Mesir, 1356.
Abu Amr Yusuf bin Abdullah bin Abdul Bar Namry,
Tamhid Ibn Abd. Bar, Wujuh Umm Auqaf wa
Syu`un al-islamiyah, Magrib, 1387.
Al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, Semarang: Thaha Putra
________, al-Asmâ` al-Husnâ (terj), Mizan, Bandung,
1996
Abdurrauf al-Mannani, Faid al-Qadir, Mesir: Maktabah
Tijari al-Kubra, 1356.
Dadang Hawari. Al-Qur’an, Ilmu Kedokteran Jiwa
dan Kesehatan Jiwa. PT. Dana Bhakti Primayasa,
Yogyakarta, 1995.
Ibrahim Muhammad Hasan al-Jamal. Al-Istisyfa bi al-Du’a.
Dar al-Fadhilah, Kairo, 1988.
Ibrahim bin ‘Abd Al-Rahman. Tashil al-Manafi fi al-
Thib wa al-Hikmah. Maktabah Sya’biah, Beirut, Tt.
Ibn al-Qiayam al-Jauzi. Al-Da’wa al-Dawa’
Imam al-Nawawi. Al-Azkar. CV. Thoha Putera,
Semarang, Tt.
Juhaya S. Praja, Tafsir Hikmah, Rosda, Bandung, 2000
Jalaluddin ‘Abd al-Rahman al-Sayuthi. Al-Rahmah fi
al-Thib wa al-Hikmah. Al-Maktabah al-Sya’biah, Beirut, Tt.
Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, (Pentahqiq: M. Fu’ad Abd.
Baqi), Dar al-Fikr, Beirut.
Majdi Muhammad Asy-Syahawi, Pengobatan Rabbani (terj.),
Pustaka Hidayah, Bandung, 2001.
Muhammad bin Abdurrahman bin Abdurrahim, Tuhfatul
Adwi, Daar al-Kutub, Beirut, Tt.
Muhammad Qurasih Shihab, Mu’jizat al-Qur`an, Mizan,
Bandung, 2000
_____________, Secercah Cahaya Ilahi, Mizan, Bandung,
2001
Muhammad Syamsul Haq, ‘Aun al-Ma’bud, Beirut: Dar
al-Kutub al-Ilmiah, 1415.
Kamaluddin al-Dumairi. Hayat al-Hayawan al-Kubra.
Dar al-Fikr, Beirut, Tt.
Muhammad bin al-Haj al-Kabir. Durah al-Anwar.
Sulaeman Mar’i, Singapur, Tt.
Muhammad ‘Abd al-Salam Khadhar al-Syagiri. Al-Sunan
wa al-Mubtada at al-Muta aliqah bi al-Azkar wa al-

Shalawat. Dar al-Kutub al-Ilmiah, Beirut, 1988.

Muhammad Haqi al-Nazili. Khazinat al-Asrar. Maktabah
al-Masyad al-Hayani, Kairo, Tt.
Muhammad bin Abd al-Rahman. Dawa al-Qulub
Nuruddin Itr, al-Imam al-Turmudzi wa al-Muwâzanah Bain
Jâmiihi wa Bain al-Shahihain, Mushigah
Lajnah Ta`lif wa al-Tarjamah wa al-nasyar, 1970.
Radhiyuddin al-Thabrasi. Makarim al-Akhlaqi. Dar al-
Fikri, Libanon, 1978.
Syams al-Din Abu Abd Allah Muhammad bin al-Thayib.
Syarh Hizb al-Imam al-Nawawi. Dar al-Imam
Muslim, Beirut, 1988.
Suyuthi, Abd. Gani, Fakhr Hasan, Sunan Ibn Majah,
Kutubi Khanah.
Taufiq ‘Ulwan. Mu’jizat al-Shalah. Dar al-Wafa, Kairo.
1988.
TM. Hasbi Ash Shiddieqy, Pedoman Dzikir dan Do’a,
Jakarta: Bulan Bintang, 1959.
Turmudzi, Sunan Turmudzi, (Pentahqiq: Abdurrahman
Muhammad Utsman), Dar al-Fikr, Beirut, Tt.
Usman Said Sarqawi, Dzikir itu Nikmat (terj), Rosda,
Bandung, 2001
Wensink, al-Mu`jam al-Mufahras li al-fazh al-hadits, Leiden,
1955.

Drs. H. Syukriadi Sambas, M.Si.
Tata Sukayat, S.Ag.

EPISTIMOLOGI DU’A

TPK WAROIS, PEMDA JABAR

EPISTIMOLOGI DU’A
Drs. H. Syukriadi Sambas, M.Si.
Tata Sukayat, S.Ag.
Editor:
E. Kusdian
Hak cipta dilindungi undang-undang
All right reserved
Cetakan Pertama, Oktober 2002
Diterbitkan oleh TPK Warois, PEMDA JABAR